USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Tanpa Cinta, Tidak Akan Ada Pertobatan dan Perubahan

diupdate: 13 tahun yang lalu


Civitas Akademika Universitas Sanata Dharma pada hari Rabu, 5 Maret 2014 pukul 12.00 WIB mengikuti Perayaan Ekaristi Rabu Abu dengan tema “Tuhan, perbaharuilah kami dengan Roh-Mu!”. Perayaan Ekaristi Rabu Abu merupakan awal masa Prapaskah, di mana seluruh umat menerima abu di dahi/kepala, berpantang, dan berpuasa sebagai tanda pertobatan.
Perayaan Ekaristi di Gereja Kampus Mrican dipimpin oleh Romo Hary Susanto, SJ. “Ada yang pernah nonton film?” demikian pertanyaan Romo Hary saat mengawali homili. Romo Hary kemudian bercerita film berjudul ‘Malu-malu Kucing’, film itu berkisah tentang Gadis yang berperilaku semaunya, suka keluyuran, sehingga membuat kedua orangtua dan orang-orang yang peduli padanya merasa kebingungan. Namun tiba-tiba si-Gadis tersebut berubah 180o, menjadi gadis yang baik. Penyebab perubahan itu ternyata si-Gadis sedang jatuh cinta.
Ditegaskan oleh Romo Hary dalam homilinya, “Cinta dapat mengubah segala-galanya, termasuk cinta kepada Tuhan. Saat ini kita memasuki masa Prapaskah dengan menjalani puasa. Inti dari puasa adalah menghindari dosa. Seperti disebutkan dalam bacaan Kitab Suci ‘Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu’, menjalani puasa harus bermotivasi dari hati, demi lebih melayani dan demi lebih mencintai. Tanpa cinta dan motivasi, tidak akan ada pertobatan dan perubahan.”
Sementara itu, Perayaan Ekaristi Penerimaan Abu di Kampus Paingan dipimpin oleh Romo Frans Susilo, SJ. Hall Kampus Paingan tidak mampumenampung ratusan mahasiswa, dosen, dan pegawai yang tampak khusuk mengikuti ibadah. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk di dalam hall mengikuti misa di teras selatan hall, bahkan sebagian dengan setia berdiri di lapangan rumput, meski gerimis terkadang turun menyapa.
Dalam homili, Romo Susilo menyampaikan asal-usul perayaan Rabu Abu. Dalam kitab suci Perjanjian Lama, abu dipakai untuk melambangkan asal-usul kita dan juga sebagai lambang pertobatan manusia. Dalam perjanjian Baru, saat Yesus membuat mujizat, orang-orang yang bertobat memakai pakaian perkabungan dan duduk dalam debu (abu). Abu memiliki dua sifat. Di satu sisi abu melambangkan kesedihan, kesusahan, dan keprihatinan kita akan segala perbuatan yang tidak seperti dicita-citakan dan dikehendaki Tuhan. Di sisi lain, abu tersebut melambangkan pertobatan. “Pertobatan sejati pertama-tama bukan masalah penyesalan diri, tetapi justru usaha dan perbuatan kita yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri menuju kesucian. Ke depan kita berharap menjadi makin suci dan makin dekat dengan Kristus, menjadi sempurna seperti Kristus yang sempurna.” demikian disampaikan Romo Susilo di akhir homilinya. (BST & AYM)

  kembali