Awal tahun akademik baru semester genap 2014 menjadi kesempatan program studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menyelenggarakan Studium Generale (Kuliah Umum) yang mengangkat judul “Kedudukan dan Peluang Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum 2013” di Ruang Drost Kampus 3 USD, 11 Februari 2014. Pembicara yang diundang dalam kuliah umum ini adalah Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. dan Budi Ramdhani, S.Pd. Karena ada kendala dalam hal transportasi, Budi Ramdhani, S. Pd. tidak dapat menghadiri kuliah umum dan sebagai gantinya, prodi Bimbingan dan Konseling mendaulat Drs. R. Budi Sarwono, M.A. sebagai pembicara dalam kuliah umum tersebut.
Awal kegiatan dimulai dengan penampilan video berisi berbagai macam pengalaman, nilai-nilai dan refleksi para dosen serta mahasiswa ketika berdinamika di prodi BK. Video berdurasi sekitar 15 menit ini menarik perhatian seluruh mahasiswa prodi BK dari angkatan 2008 hingga 2013 termasuk juga Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. yang secara khusus memberikan apresiasi atas kreativitas mahasiswa BK dalam pembuatan video. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan, disampaikan oleh Dr. Gendon Barus M.Si selaku Ketua Program Studi BK yang berbicara mengenai transisi kurikulum dunia pendidikan di Indonesia, bermula dari kurikulum lama yang menekankan faktor kognitif menuju ke kurikulum baru 2013 yang menekankan faktor sikap dan perilaku. Pidato ini sekaligus menjadi pembuka kuliah umum yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd atau yang akrab disapa Prof. Jun.
Sebagai gambaran, Prof. Jun merupakan guru besar dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang memiliki hubungan erat dengan prodi BK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam kuliahnya, Prof. Jun menekankan bahwa prodi BK sangat penting dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, terutama berpedoman pada ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, bahwa guru BK berperan membantu peserta didik dalam memilih dan menetapkan arah peminatan. Hakikat peminatan itu sendiri merupakan upaya memfasilitasi perkembangan peserta didik agar aktif mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Secara spesifik perkembangan optimal tidak hanya melihat prestasi sesuai kapasitas intelektual dan minatnya melainkan sebagai sebuah kondisi perkembangan yang memungkinkan peserta didik mampu mengambil pilihan dan keputusan secara sehat dan bertanggungjawab terhadap kehidupan dinamika yang dihadapinya. Beliau memberikan suatu perumpamaan bahwa peran guru BK adalah menemukan mutiara-mutiara yang tersebar pada anak didik yang tentunya mesti didasarkan pada sikap empati, peka terhadap kebutuhan dan permasalahan anak didik. Tugas seorang konselor menurut Prof. Jun adalah memfaslitasi serta menggali permasalahan anak didik, sedangkan yang bertanggungjawab terhadap kemajuan dan perkembangan diri itu sendiri adalah konseli. “Seorang konselor harus memiliki 5 kepribadian khusus, yaitu kompeten, konsisten, kreatif, komitmen, dan kontrol”, tegas Prof. Jun pada sesi akhir kuliahnya.
Sesi berikutnya oleh Drs. R. Budi Sarwono, M.A, atau akrab dipanggil Pak Budi dosen BK Universitas Sanata Dharma, dikenal sebagai maestro Hypno Counseling yang memberikan kuliah tentang Hypno Counseling. Gagasan dan impian besar ke depan coba ditawarkan oleh Bapak Budi yaitu pada tahun 2023, 2,5% dari jumlah total penduduk di Indonesia memiliki kesadaran terhadap fisik, kesadaran psikologis dan kesadaran filosofis. Untuk mencapai setiap kesadaran harus memiliki skill tersendiri dimana kesadaran fisik dituntut untuk mengelola kesadaran fisik dan memanfaatkannya untuk optimalisasi hidup, kesadaran psikologis dituntut untuk mengelola hati dan mencapai taraf kecerdasan hati yang optimal serta kesadaran filosofis dituntut untuk memaknai fenomena dari sudut pandang yang positif. Bagaimana implementasi praktis di lapangan? Sebuah pertanyaan yang muncul dari moderator acara, Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd. “Dengan merilekskan badan tentu akan membuat neurotransmitter di otak akan berjalan sehingga kemampuan berpikir akan menjadi optimal serta melakukan progressive relaxation, keduanya akan membidik kesadaran fisik. Pada kesadaran psikologis apabila seseorang merasakan sesuatu, rasakanlah karena rasa tidak dapat ditolak. Oleh karena itu dalami perasaan itu dan perlahan-lahan lepaskan perasaan itu secara ikhlas sehingga kita dapat membidik kesadaran psikologis. Dan dengan memaknai seluruh fenomena secara positif, bersyukur kepada Tuhan dengan segala yang telah diberikan kepada kita, terbidiklah kesadaran filosofis”, ujar Bapak Budi.
Tidak hanya memberikan kuliah umum, Bapak Budi menunjukkan keterampilan menggunakan hypo counseling untuk membantu menyembuhkan mahasiswa BK yang mengalami phobia pada ketinggian. Bapak Budi mencoba mengajak mahasiswa itu itu merilekskan tubuh terdiri sehingga otot-otot di dalam tubuh tidak tegang, tujuannya tentu untuk membantu merasakan kesadaran fisik terlebih dahulu. Setelah rileks, Bapak Budi membuat tidur mahasiswa tersebut dan mencoba memberikan sugesti-sugesti positif terhadap ketinggian, mengasosiasikan bahwa ketinggian adalah sesuatu yang menyenangkan. Hasil yang membuat seluruh mahasiswa dan dosen yang hadir di ruangan Drost terkagum adalah ketika mahasiswa tersebut diajak oleh Bapak Budi melihat pemandangan halaman kampus III Paingan dari ruang Drost. Mahasiswa tersebut menyatakan bahwa pemandangannya sangat indah karena dapat dilihat dari ketinggian, sebuah terapi yang benar-benar digunakan untuk penyembuhan phobia bukan hanya sebagai hiburan semata.
Suster Alice, mahasiswa prodi BK angkatan 2013 yang sudah 2 kali mengikuti kuliah umum di BK menyatakan perasaan senangnya dan bersyukur dapat mengikuti acara ini. Suster Alice mendapatkan beberapa manfaat bahwa konselor harus dapat membawa diri, dapat berkreasi, kreatif, dan dapat membaca situasi dalam diri anak itu sehingga ke depannya konselor tidak hanya menuntut tetapi juga bertanggungjawab terhadap perkembangan anak itu sendiri. Bapak Barus ditemui secara terpisah ketika akhir kegiatan menyatakan diadakannya kuliah umum ini dengan tujuan untuk memotivasi para mahasiswa BK setelah menjalani liburan dan memberikan topik-topik tertentu yang tidak ada dalam mata kuliah tetapi dipandang penting. “Ke depan, Studium Generale ini akan kami lanjutkan karena sudah berlangsung sejak Agustus 2011 dan kali ini sudah Studium Generale yang kelima. Tampaknya hanya prodi BK melestarikan ini pada awal semester”, kata Bapak Barus. (lsw)




