Berbicara mengenai pendidikan tidak bisa kita lepaskan dari suatu rancangan program pendidikan yang biasa kita kenal dengan nama kurikulum. Beberapa tahun sekali kurikulum, diusahakan untuk selalu diperbaharui demi terciptanya suatu pembaruan dalam pendidikan. Tahun 2014 pendidikan di Indonesia mulai memasuki dan menjajaki kurikulum 2013. Kurikulum 2013 yang memusatkan pemahaman pendidikan di ranah “Peminatan“ membuka peluang yang cukup besar bagi konselor sekolah untuk membantu siswa mengenali minat dan potensi peserta didik.
Peluang konselor dalam kurikulum 2013 mendapat perhatian besar Program Studi Bimbingan dan Konseling Sanata Dharma. Terbukti pada hari Selasa, 11 Februari 2014 mengadakan Kuliah Umum di Ruang Drost, Kampus III Sanata Dharma Paingan. Dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan seluruh Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling. Mengundang Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M. Pd. Selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling UPI, Bandung sebagai narasumber Kuliah Umum dengan tema “Kedudukan dan Peluang BK dalam kurikulum 2013. Prof. Juntika berkata “ Guru BK merupakan jantung para guru dalam kurikulum 2013, dimana para guru memikirkan bahan yang diajarkan saja namun guru BK memikirkan siapkah anak-anak belajar dan sudah termotivasikah mereka!”
Oleh sebab itu guru BK perlu peka terhadap minat dan potensi siswa. Guru BK perlu memiliki kemampuan untuk membaca mau ke arah mana siswa berkembang. Perkembangan siswa tersebut telah terfasilitasi oleh kurikulum 2013 dalam program peminatan. Patut dipertanyakan, dimana kedudukan BK dalam kurikulum 2013 saat ini? Kedudukan BK sangat strategis. Kedudukan dalam pembelajaran, penilaian, perencanaan dan pelaksanaan proses belajar serta sebagai mitra sekolah dan orang tualah jawaban kedudukan BK berlabuh.
Kuliah umum yang berlangsung selama tiga jam tidak hanya berupa acara ceramah satu arah dari Prof. Juntika tetapi terbagi dua sesi lagi, yakni Talk Show yang dipandu oleh Juster Donal Sinaga, M.Pd. Jejaring sosial Twitter dan via sms turut dipergunakan dalam mendukung kelancaran prosesi. Sejumlah pertanyaan mengenai penggunaan alat-alat tes psikologi dan dampak stress anak dalam kurikulum 2013 mewarnai Ruang Drost Kampus III USD Paingan.
Narasumber kedua yang merupakan Motivator dan Pengajar Hypnocounseling pertama di Indonesia, selaku dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling yaitu Drs. Budi Sarwono, M.A turut memberikan pengajaran singkatnya. Keahlian beliau membahas mengenai tingkat kesadaran dan ketidaksadaran menjadi materi singkat perkuliahan umum. Pentingnya pengembangan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiriitual menjadi tekanan pola pendidikan yang disampaikan oleh Maestro Hypnocounseling USD ini.
Ingin sukses kuncinya “Learning” pesan Prof. Jun dan ujar Budi Sarwono, “Mutu Pendidikan di Indonesia paling rendah, tapi tingkat kebahagiaan siswa paling tinggi. Mengapa? karena ada Guru BK.” (Sandy’11)




