“Sebenarnya apa maksud Galau?” Demikian pertanyaan Romo Cyprianus Kuntoro Adi, SJ kepada umat saat memberikan homili dalam Misa Awal Semester Genap TA 2013/2014 di Gereja Kampus USD Mrican Senin (10/2). Misa yang bertema “Klik Restart, Lalu Move On” ini dihadiri Mahasiswa, Dosen, dan Karyawan.
Romo Kun melanjutkan homilinya dengan bercerita, “Ada Kakek dan Nenek yang galau menanti sang cucu menelpon untuk memberitahu bagaimana kabarnya; ada mahasiswa galau menanti kiriman uang dari orang tuanya karena belum bayar kost; ada orang yang baru saja diwisuda galau karena semasa kuliah tidak mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya; ada orang galau karena belum punya pacar, takut dianggap tidak exist; ada seorang yang menuliskan kegalauannya dengan update status di FB - sungguh indah mengingat senyumnya yang manis, tapi sayang senyum itu bukan untukku...”
Kemudian Romo Kun mengatakan bahwa dengan kejadian-kejadian tersebut dapat disimpulkan bahwa “Galau” merupakan perasaan khawatir,
was-was, sedih, gundah gulana, dan pikiran-pikiran yang tidak jelas. Di akhir homili, Romo Kun memberikan pesan, “Galau dapat sirna dengan cara melihat realita lebih sehat. Ada orang yang sedih karena tidak mempunyai sepatu, kemudian orang tersebut tidak sedih lagi dan dapat mensyukuri dengan apa yang telah Tuhan berikan padanya, karena dalam realita ada orang yang tidak mempunyai kaki.”
Sementera itu, Misa Awal Semester di Kampus 3 USD Paingan dipimpin oleh Romo Petrus Sunu Hardiyanta, SJ. Hall Gedung Utama Kampus 3
dipenuhi ratusan mahasiswa, dosen, dan pegawai. Sebelum homili, diputarkan video tentang perjuangan dua ekor katak yang berusaha keluar dari sumur. Dengan segala usaha dan susah payah, akhirnya kedua katak ini berhasil keluar dari sumur. Tayangan ini menyampaikan pesan jika engkau berpikir bisa, maka engkau pasti bisa, asal engkau mau bangkit dan berusaha untuk meraihnya. Klik restart lalu move on.
Mengulas bacaan dalam Injil yang menceriterakan pemeliharaan Tuhan bagi burung pipit dan bunga bakung, dijelaskannya bahwa ada tiga tipe kekhawatiran. Tipe khawatir yang pertama adalah khawatir yang menyemangati serta membuat orang untuk mengadakan persiapan ke depan. Khawatir tipe kedua membuat orang tidak tenang dan selalu was-was akan hidupnya. Orang seperti ini perlu melihat bagaimana Tuhan berkarya memelihara si burung pipit dan memberi keindahan kepada si bunga bakung. Tipe khawatir yang ketiga adalah orang tidak sadar akan keadaannya. Mereka menjadi sombong dan tidak bersyukur atas segala anugerah yang telah diterimanya.
Romo Sunu juga mengajak umat untuk mengakreditasi diri sendiri. "C berarti memiliki leadership dan manajemen diri, B berarti memiliki productivity, A berarti always thinking, serving, and ministering others," demikian disampaikan Romo Sunu. Kualitas diri kita bisa berbeda dengan prodi di mana kita berada. "Prodiku A, tetapi secara pribadi aku bisa C, kalau aku hanya berpikir untuk diri sendiri." imbuhnya.
Lebih lanjut Romo Sunu bertanya kepada para mahasiswa, “Seberapa banyak barang-barang yang engkau pakai adalah hasil keringatmu sendiri? Ingatlah betapa orang tua kalian susah payah menyediakan semuanya. Mereka tidak hanya berpikir untuk diri sendiri, tetapi dengan rela menyediakan kebutuhan anak-anaknya." demikian pesannya untuk memberi contoh orang yang mau berpikir serta bekerja bagi orang lain.
Yesus mengajarkan untuk selalu memikirkan orang lain. Dia memberikan teladan dengan mengorbankan diri untuk menebus dosa kita. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita untuk rela dan dengan suka cita memikirkan serta melayani orang lain. (BST & AYM)




