Kini pertunjukan seni budaya rupanya telah berubah secara luar biasa. Dikatakan luar biasa karena pertunjukan seni budaya pada era sekarang muncul dengan wajah baru yang mampu merangkul keberagaman yang ada di masyarakat, dari usia, gender, sampai kelas sosial. Itulah yang terlihat pada malam konser seni bertajuk The Dissonance Festive, sebuah acara pertunjukan seni yang digelar sebagai rangkaian pelaksanaan konferensi internasional bertajuk Cultural Performance in Post-New Order Indonesia: New Structures, Scenes, Meanings. Konferensi internasional 4 hari tersebut dimulai pada hari Senin, 28 Juni sampai dengan 1 Juli 2010 di Ruang Driyarkara Lt4 Gedung Pusat Administrasi Kampus II Mrican Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Konser seni yang menampilkan 5 penampil budaya tersebut digelar pada Rabu malam 30 Juni 210 di Panggung Terbuka Realino, Kampus II Mrican USD.
Terbuka untuk umum, konser seni itupun dihadiri oleh banyak kalangan, mulai dari para peserta konferensi yang terdiri dari para peneliti dan praktisi seni internasional dan nasional, para dosen, para mahasiswa, sampai dengan masyarakat sekitar. Keberagaman latar belakang para hadirin yang datang ke konser seni itu menunjukkan bahwa pertunjukan seni budaya kontemporer menjadi sangat populer dikalangan masyarakat. Meleburnya budaya tradisional dan modern diapresiasikan tidak hanya lewat tarian dan musik, namun lewat kemasan pertunjukannya. Kemasan yang menaik dan sarat makan itulah yang menjadi magnet bagi para hadirin.
Pada malam itu, kelima penampil, yaitu Ayodya Art Dance, Sahita, Jogja Hip Hop Foundation, Teater Temmu, dan Armada Racun, tampil mempersembahkan 5 konsep seni budaya yang begitu unik dan menghibur. Penampil pertama, Ayodya Art Dance, menampilkan Jathilan Gaul, sebuah tarian kontemporer yang memadukan seni tradisional jathilan dengan tari hip hop. Konsep kostum pun didesain dengan peleburan budaya Jawa, opera klasik Eropa, dan Romawi kuno. “Ini merupakan apresiasi seni kami, jathilan namun dikemas dengan konsep yang ringan dan menarik.” Begitu jelas Satrio, salah satu penari malam itu. Selain konsep kemasan yang disajikan secara ringan dan menarik, konser seni yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut juga dijadikan media kritik sosial, seperti yang ingin disampaikan oleh salah satu penampil, Sahita. Kelompok tari yang terdiri dari para penari perempuan paruh baya tersebut mengkritik pola pikir sebagian masyarakat, terutama para laki- laki, yang berpandangan bahwa penari identik dengan seksi. Lewat tarian yang kental dengan unsur teater dan ketoprak itu, mereka ingin merespon dan mengekspresikan bagaimana penari tua disingkirkan oleh perubahan jaman. Penampil lainnya juga tak kalah ekspresif dengan meleburkan budaya modern, seperti hip hop, rap, dan rock dengan budaya tradisional. (bunga)




