USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

PPKM I USD Membawa Harapan dan Impian untuk Menjadi Calon Pendidik yang Utuh, Cerdas dan Humanis

diupdate: 13 tahun yang lalu


Mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD), ketika awal masuk sebagai mahasiswa baru sudah dibekali dengan INSADHA (Insisiasi Sanata Dharma). Tiga nilai hidup yang selalu ditekankan dalam INSADHA adalah “3C”, Competence, Concience, dan Compassion. Pelatihan Pengembangan Kreatitas Mahasiswa (PPKM) 2014 yang merupakan program kelanjutan  INSADHA yang dilaksanakan dari tanggal 20-25 Januari 2014 kembali menekankan tiga nilai di atas. Mahasiswa USD harus tahu dan berusaha menginternalisasikan ketiga hal tersebut. Karena 3 C adalah roh dari segala ilmu yang didapat di Universitas Sanata Dharma.
Menjadi mahasiswa USD harus berani berkompetisi secara sehat bukan saling menjatuhkan atau saling meremehkan sesama,  berusaha menjadi pribadi yang peka/punya suara hati dan pada gilirannya menjadi pribadi yang Compassion/bela rasa. Ketiga kekuatan ini selalu berdampingan dan tetap menjadi dasar dalam mengabdi pada negara, bangsa, gereja, dan masyarakat yang dilayani.
Bentuk kegiatan mahasiswa baik INSADHA, PPKM, UKM, dan lain sebagainya akan membentuk pribadi mahasiswa yang utuh dan terintegrasi. Dasar dari semua itu adalah 3C. Proses untuk menuju pada pribadi yang utuh dan terintegrasi tentu tidak mudah. Maka butuh suatu dinamika kerja sama antara dosen dengan dosen, dosen dengan mahasiswa, dan mahasiswa dengan mahasiswa. Pedagogi Ignasian telah memperlihatkan hal ini. Paradigma Pedagogi Ignasian pada dasarnya meliputi lima hal penting yang harus dimiliki oleh setiap guru, khususnya akademisi USD. Kelima hal tersebut adalah: Konteks, Pengalaman, Refleksi, Aksi, dan Evaluasi. Kelima ranah tersebut hendaknya menjadi suatu pembiasaan sikap yang akhirnya menjadi sebuah habit bagi siapa saja. Paradigma Pedagogi Ignasian sangat relevan dalam semua aspek kehidupan, terlebih dalam institusi pendidikan. 
Pedagogi Ignasian merupakan suatu pendidikan untuk menumbuh kembangkan sikap batin mahasiswa agar mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama, dan lingkungan hidupnya.  Intinya adalah “Mampu  Menemukan  Tuhan  Dalam  Segala”. Inilah sebuah slogan Ignasius yang akhirnya mampu menghantarnya pada pengenalan dengan Tuhan dan sesama.
PPKM I menggaris bawahi beberapa hal penting terkait kebutuhan mahasiswa yang utuh dan terintergrasi, antara lain: tilik diri, menggali potensi diri (Modul I), generasi masa kini, generasi yang tidak peduli (Modul II). Modul I dan II menjadi dasar untuk sampai pada modul berikutnya (3,4,5,6). Pengenalan diri sangat penting dan harus diakui, karena bagaimanapun juga manusia itu dinamis. Punya kekuatan/potensi yang harus dikembangkan. Jika hal yang demikian disadari secara penuh maka apa yang disebut dengan proaktif, the dream, has the strategis, dan peduli pada sesama dan lingkungannya akan tercapai. Inilah yang oleh Driyarkara, SJ pendiri Sanata Dharma menyebutnya pendidikan sebagai upaya mengubah, membentuk hidup manusia menjadi lebih manusiawi (bdk. Buku panduan PPKM I hal. 11).
Libert Jihadit yang menjadi salah satu peserta PPKM I dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mengatakan bahwa guru tidak semata-mata sebagai pengajar (transfer ilmu) belaka, melainkan juga berfungsi sebagai fasilitator yang menciptakan kelas menjadi tempat terjadinya komunikasi Iman dan sharing pengalaman hidup antar guru - siswa. Semangat 3C  yang selalu dimuat dalam buku panduan INSADHA maupun PPKM I merupakan semangat yang harus dihidupi demi pencapaian pribadi siswa yang matang dan dewasa dan selalu ingin belajar untuk mengembangkan diri secara terus menerus.
Pepatah China kuno berkata: "Orang yang mencintai orang lain, akan dicintai juga sebagai balasannya."Guru yang baik dan rendah hati akan selalu dikenang dan dirindukan peserta didik bahkan sampai hayat dikandung badan. Kemanapun dan kapanpun kita berada nilai hidup yang ditanamkan Sanata Dharma tetap menjadi prioritas. Lebih dari pada itu adalah kekuatan  dan kreativitas dari pendidik yang dilandasi kasih dan beriman.
Libert Jihadit menambahkan “Satu harapan yang pasti bahwa PPKM I akan mengantar mahasiswa secara khusus saya pada suatu kerinduan yang mempunyai impian. Pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Pendidik yang mampu menemukan Tuhan dalam segala.” (Lbrt)

  kembali