“Saya menemukan bahwa sebutan “ilmu-ilmu humaniora” yang sering dipakai di Indonesia selama ini hanya ada secara administratif namun tidak secara epistemologis. Secara administratif, ilmu-ilmu itu bisa ditemukan dalam banyak dokumen. Secara epistemologis, ilmu-ilmu humaniora tidak pernah menunjukkan identitasnya yang jelas, tidak pernah membedakan dari ilmu-ilmu lainnya, tidak mempunyai sejarah”. ST. Sunardi mengungkapkan hal itu ketika tampil sebagai pembicara dalam Studium Generale: “Paradigma Humaniora Baru” yang berlangsung pada hari Rabu (25/04) bersama sutradara kawakan Garin Nugroho dan Ustadz Bahruddin pakar pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, di Ruang Koendjono Lantai IV Gedung Pusat USD Kampus II Mrican. Studium generale yang dimotori oleh Sekretariat Mission and Identity bekerjasama dengan FKIP USD ini dibuka dengan pengantar yang disampaikan oleh Dr. A. Supratiknya. Dalam pengantarnya tersebut Dr. A Supratiknya menyampaikan bahwa Universitas Sanata Dharma sebagai satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia perlu menegaskan identitas dan keunikannya. Salah satu nilai keunikan tersebut ialah humaniora. Diharapkan melalui forum studium generale ini bisa dijadikan sarana untuk refeleksi bersama dari berbagai disiplin ilmu untuk mengukuhkan kembali semangat dan nilai-nilai humaniora untuk memberikan layanan terbaik. Sementara itu Garin Nugroho yang mengawali pembicaraannya dengan bercerita tentang pengalaman pendidikannya yang diajar dengan totalitas hidup pengajarnya, yang intinya diajarkan untuk memasuki kehidupan kemampuan dasar manusia. Dalam kesempatan ini juga Garin memberikan apresiasi yang besar kepada pendiri USD Rm. Driyarkara melalui ajarannya untuk “memanusiakan manusia”. Yang menjadi keprihatinan Garin adalah saat ini terjadi lompatan tradisi lisan menjadi tradisi lisan bergambar melalui media. Sehingga tradisi analisis sangat langka. Bahkan cara untuk mengkonstruksi ulang tradisi humaniora sangat sulit. Bahkan dalam kesempatan studium generale ini Bahruddin pakar pendidikan alternatif, lebih gamblang menyatakan bahwa keunikan identitas lembaga pendidikan itu pada sejauh mana keberanian diri untuk membuang belenggu-belenggu pada lembaga pendidikan itu sendiri atau bahkan justru membubarkan diri. (Rjl)




