Oleh : R Budi sarwono
Dosen Prodi Bimbingan Konseling USD
Ketrampilan paling dasar seorang konselor adalah kemampuan dalam hal mendengarkan. Pada bagian itulah ketangguhan jiwa mereka ditakar. Kecerdasan dalam mendengar pun mesti dilatih dengan beragam cara. Kali ini, mahasiswa prodi Bimbingan Konseling Universitas Sanata Dharma mengadakan seminar aneh, mereka menghadirkan Maryanto, seorang penjual bakso dari Jakarta dan Ismanto, seorang pematung dari lereng Merapi untuk menguraikan pengalaman mereka mengenai ketangguhan hidup.
Bagaimana para calon konselor ini belajar ketangguhan dari tukang bakso dan seorang mantan penjaga toko yang kini pematung? Simpel saja, tukang bakso itu sekarang memiliki dua perusahaan manufaktur dibidang molding injection, dan memimpin satu perusahaan yang bergerak dibidang energi panas bumi, selain itu ia tetap mengelola enam warung bakso miliknya. “Ada ketengguhan hidup yang telah dipraktekkannya selama duapuluh tahun terakhir, pengalaman beliau setara dengan disertasi seorang doktor” terang Budi Sarwono, moderator acara Dialog tersebut.
Lain lagi dengan Ismanto, mantan penjaga toko kerajinan yang kini menjadi pematung itu memiliki sejarah hidup yang unik. Berangkat dari keluarga sangat sederhana. Pendidikan yang berhasil ditempuh SD dan SMP. Tetapi hasrat belajarnya menggelora. Ismanto pernah menjadi dosen tamu di beberapa Perguruan Tinggi, kerap semimbar dengan para doktor dan profesor dalam berbagai diskusi ilmiah, dan menjadi motivator bagi berbagai kalangan. Karya patungnya dikoleksi oleh kolektor top dunia, sebagian dipajang diberbagai museum dan melengkapi lanskap taman kota dibeberapa sudut kota dunia, seperti di Hawai, Dubai, Jakarta dan beberapa kota lainnya. Salah satu karya patungnya yang dititipkan digaleri Sasanti Jogja telah ditawar 900 juta. “Belum cocok harganya” kata dia suatu ketika. Salah satu patung karyanya juga bisa kita lihat di depan Toko Buku Gramedia Jalan Jendral Sudirman Jogja. Patung Ki Hajar Dewantoro adalah karya pertama Ismanto.
Ismanto telah bermetamorfosa dari seorang penjaga toko souvenir menjadi seniman kelas dunia. Dijagad kesenian, siapa tidak kenal Ismanto dari lereng merapi itu. Ketangguhan Ismanto dalam menghadapi hidup itulah yang hendak dimodel oleh para calon konselor USD. “Untuk menjadi konselor tangguh, kita bisa belajar dari siapa saja” ujar Gendon Barus, Kaprodi BK USD. “Pak Is dan Pak Maryanto adalah dua pribadi langka yang perlu dijiplak cara berpikirnya” lanjutnya.
Acara yang penuh gelak tawa itu dihadiri seluruh mahasiswa BK USD, para dosen dan beberapa pejabat struktural FKIP. Berlangsung di Ruang Kunjono Kampus 2 USD di Jalan Afandi Mrican. Menjawab pertanyaan Josua yang mengaku sering dilanda kebosanan dalam menempuh kuliah, Ismanto mengatakan “Dalam kesenian, bosan itu disebut kegelisahan. Tanpa kegelisahan seniman mati. Perlu dicatat, kejenuhan adalah sisi lain dari kenikmatan yang dicita citakan sebelumnya” ujarnya. Ismanto menutup paparannya dengan selarik kata bijak “Kunci dari ketangguhan adalah metamorfosa kata, makna dan rasa, karena dengan itu orang mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan, kesedihan menjadi kebahagiaan, pahit menjadi manis, dan seterusnya” . Paparan diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan seluruh audiens. (MasBe)




