USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kolaborasi antara Wayang Kulit dengan Tari dalam Tiga Bahasa

diupdate: 13 tahun yang lalu


“Kolaborasi antara wayang kulit dengan tari dalam tiga bahasa (Jawa, Indonesia,dan Inggris), hal ini merupakan pertama kali di Universitas Sanata Dharma.” Kalimat tersebut dilontarkan oleh Wakil Rektor IV USD Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. dalam sambutannya. Kolaborasi antara wayang kulit tiga bahasa dengan tari merupakan kolaborasi yang diselenggarakan oleh UKM Seni Karawitan di Panggung Terbuka Kampus 2 USD (Jumat, 6/12/2013). Dalam pertunjukkan ini UKM Seni Karawitan menggandeng seorang mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris USD untuk menjadi seorang dhalang. Selain itu, UKM Seni Karawitan juga mengajak beberapa mahasiswa dan alumni untuk menjadi penari dalam pertunjukan ini.
The Colaboration of Shadow Puppet and Dance ini merupakan sebuah pertunjukan yang menyuguhkan berbagai sajian unik. Hal unik pertama adalah penyajian wayang kulit dengan tiga bahasa yaitu Bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris. Penyajian tersebut sangat unik karena pada biasanya wayang kulit hanya disajikan dengan Bahasa Jawa. Keunikan kedua adalah pertunjukan ini mengkolaborasikan dengan tarian dalam beberapa adegan wayang kulit yang menjadikan pertunjukan ini semakin tidak biasa.
The Ascending of Bhisma atau Guguring Bhisma merupakan judul yang diambil dalam pertunjukan wayang  kulit ini. Cerita ini mengangkat kisah Bhisma seorang  tokoh dan ahli dalam segala strategi peperangan. Dalam kisah ini Bhisma mampu mengalahkan Seta dalam pertempuran besar di Kurusetra, namun akhirnya dia berhasil dikalahkan oleh panglima perang perempuan yaitu Srikandi. Pertunjukan ini diawali dengan adegan wayang kulit menggunakan tiga bahasa kemudian pada adegan pertempuran Bhisma dengan Srikandi divisualisasikan dengan adegan tari.
Dalam pertunjukan ini pula sekaligus merayakan ulang tahun ke-80 seorang guru besar di Universitas Sanata Dharma, yaitu Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. Bapak Soepomo merupakan mahasiswa angkatan pertama di Jurusan Bahasa Inggris dan pernah menjadi stage manager (manajer panggung) seni pertunjukan. Selain itu, beliau juga memiliki pengalaman mengajari bahasa Indonesia pada orang-orang yang kini menjadi tokoh terkenal di dunia Internasional.
Selama pertunjukan berlangsung, penonton tampak sangat menikmati. Hal ini terlihat ketika adegan “goro-goro” di mana banyak penonton tertawa selama adegan ini. Apalagi selama adegan tersebut dhalang juga ikut mengajak para penonton untuk berinteraksi. Selain itu, ketika adegan Bhisma berperang dengan Srikandi yang divisualisasikan dengan tarian serta adegan terakhir ketika Bhisma diangkat ke surga yang juga divisualisasikan dengan tari mendapat tepuk tangan yang sangat meriah oleh penonton.
"Di sinilah keunikan itu terjadi, karena pada proses pewayangan juga diperagakan dengan adegan dan tarian-tarian, sehingga semua penonton bisa lebih merasakan makna dari pewayangan tersebut. Namun terpenting adalah generasi muda tidak hanya sebagai konsumen budaya saja, tapi harapannya mereka bisa menjadi pelaku di bidang seni dan kebudayaan," jelas Romo Banar selaku Pendamping UKM Seni Karawitan. (bca) (foto: Garda Bagus Damastra)

  kembali