Bertempat di ruang Koendjono pada tanggal 12 Desember 2013, Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan seminar dengan tema “Konsep Pendidikan Driyarkara: Esensi, Sosial-Histori, dan Aktualisasi”. Tampil sebagai pembicara dalam seminar yang menjadi rangkaian acara dies ke-58 USD ini Prof. Dr. J. Sudarminto, SJ (pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta) dan Dr. Anton Haryono, M.Hum. (pengajar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).
Rektor USD, Dr. P. Wiryono Priyotamtama, S.J., dalam sambutannya menyampaikan syukur dan sukacita karena dua institusi besar yaitu USD dan STF DRIYARKARA bekerjasama merayakan 100 tahun kelahiran Driyarkara. Dalam sejarah USD, ada dua Rektor USD yang berasal dari STF Driyarkara. Ditambahkan oleh Romo Wiryono bahwa ada satu kekhususan mengapa Prof. Dr. J. Sudarminto, SJ menjadi pembicara dalam seminar ini. Sudarminto dan Driyarkara berasal dari daerah yang sama, perbukitan menoreh. “Ada karakter tertentu yang menjadi kesamaan antara keduanya, di antaranya adalah semangat pantang menyerah” demikian imbuhnya.
Prof. Dr. J. Sudarminto, SJ mengemukakan kembali konsep pendidikan Driyarkara, yaitu pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda. Pendidikan
adalah perbuatan fundamental yang mengubah, membawa transformasi yang dilandasi kasih. Perbuatan fundamental ini melibatkan proses pemanusiaan manusia muda. Terkandung hubungan manusiawi yang dialogis dan dinamis antara pendidik yang membimbing dan anak didik sebagai yang dibimbing. Dalam pendidikan terkandung proses hominisasi dan huminisasi. Hominisasi adalah menjadinya manusia yang terkait dengan pertumbuhan personal anak didik, baik fisik, biologis maupun psikologis dari kecil sampai dewasa. Hominisasi ini berupa proses pengembangan manusia pada tingkat yang niscaya, tingkat pemanusiaan yang minimal. Di sisi lain, humanisasi lebih pada proses pengembangan manusia ke tingkat yang lebih sempurna. Dalam humanisasi termuat pembinaan yang menghasilkan pertumbuhan rohani yang memasukkan anak didik ke dalam kebudayaan. Proses pembudayan memuat empat aspek: ekonomi, teknik, budaya dalam arti khas, dan pemeradaban/penghalusan budi pekerti. Proses pembudayaan berupa proses penumbuhan daya cipta, rasa dan karsa dalam diri anak didik; proses pengembangan citarasa keindahan (seni dan sasta), dan penghalusan budi pekerti. Kalau pendidikan dipahami sebagai pemanusian manusia muda maka sudah semestinya pendidikan lebih luas daripada pengajaran di sekolah demi lulus test/Ebtanas guna memperoleh ijazah. Di sisi lain, menjadi manusia yang semakin manusiawi berlangsung seumur hidup. Subyek didik perlu dibantu memiliki ketrampilan dan sikap mau belajar terus menerus. Pendidikan lebih luas daripada sekedar menyiapkan tenaga kerja, apalagi hanya mengejar kepentingan ekonomis. Pengembangan daya kognitif siswa saja tidak cukup, apalagi kalau hanya menekankan hafalan dan kemampuan mereproduksi.
Dr. Anton Haryono, M.Hum. menyampaikan bahwa Driyarkara dikenal luas sebagai ahli filsafat dan tokoh pendidikan. Salah satu karya besar Driyarkara adalah pendirian PTPG swasta pertama di Indonesia pada tahun 1955, PTPG Sanata Dharma. Driyarkara juga banyak berbagi untuk bangsa Indonesia. Dia berkomunikasi intensif dengan publik Indonesia melalui lebih dari 240 tulisan yang reflektif, edukatif, dan inspiratif di berbagai majalah. Driyarkara adalah pribadi bersemangat tinggi tetapi tetap rendah hati. Dia menulis dengan baik dalam bahasa filsafat dan bahasa orang kebanyakan. Sosok Driyarkara bukan hanya filsuf kondang dan pendidik tulen tetapi juga kritikus yang tegas. Bahasa yang digunakan Driyarkara sangat konstruktif untuk penanaman nilai. Salah satu gagasannya adalah tentang homo yang human (manusia yang harus memanusia/membudaya) dalam konteks homo homini socius (manusia sebagai kawan bagi sesamanya) lawan bagi homo homini lopus (manusia sebagai serigala bagi sesamanya). Istilah sesama di sini dipahami sebagai bagian integral dari diri sendiri dalam mengembangkan kepribadian, sehingga kesediaan untuk berbagi atas dasar cinta kasih merupakan suatu keniscayaan.
Driyarkara menekankan perihal urgensi revolusi. Revolusi semasa demokrasi terpimpin adalah revolusi Pancasila yang tujuannya tidak hanya menjebol, tetapi membangun masyarakat dan negara Pancasila dalam arti segala bentuk kehidupan harus merupakan pelaksanaan Pancasila. Orang yang kehilangan ideologi atau cita-citanya akan juga kehilangan dinamika. Andaikata tampak dinamis, maka dinamika itu bukan lagi dinamika revolusi, melainkan dinamika penggarong. Dinamika revolusi Indonesia, andaikata tanpa Pancasila, menurut Driyarkara, pasti hilang geloranya. Hal yang menarik lainnya adalah pemikiran Driyarkara bahwa pendidikan merupakan fenomena fundamental. Di mana ada kehidupan manusia, bagaimanapun juga di situ ada pendidikan. (BST)




