Kegiatan perkuliahan semester genap tahun akademik 2013/2014 di Universitas Sanata Dharma (USD) diakhiri hari Jumat (6/12) dengan Misa Akhir Semester yang bertemakan “Pendidikan Adalah Hak Kita”. Bacaan Injil yang diambil pada misa ini adalah perumpamaan bijih sesawi dan ragi.
Dalam homili, Romo Dr P. Wiryono Priyotamtama, SJ menjelaskan bahwa dalam Injil ada tiga indikator untuk merasakan kehadiran kerajaan Allah. Hal ini dapat direfleksikan sendiri oleh para mahasiswa. Pertama, apakah saya merasakan satu pertumbuhan dalam hidup saya? Apakah teman saya bertambah? Apakah pengetahuan saya bertambah? Hal ini menjadi indikator bahwa kerajaan Tuhan tumbuh dalam hidup saya. Yang kedua, sesuai dengan bacaan tentang ragi, terjadinya suatu perubahan/transformasi. Apakah terjadi transformasi dalam diri saya selama berada di USD? Mungkin saya merasa bahwa sekarang lebih berani membaca jurnal ilmiah, berkompetisi, dan melakukan banyak hal lain. Mungkin juga, saat ini saya gelisah tentang tujuan hidup saya. Saya mulai bertanya-tanya mengenai diri saya dan untuk apa saya hadir di Sanata Dharma. Bahkan mungkin terjadi kekrisisan dalam diri saya. Semua hal ini menjadi pertanda adanya perubahan. Yang ketiga, adalah seperti dalam bacaan tatkala banyak burung hinggap di pohon sawi dan merasakan keteduhan sang pohon. Apakah kehadiran saya dinikmati teman-teman saya? Apakah kehadiran saya menjadi berkat bagi orang-orang yang mencintai saya? Dapatkah saya memberikan keteduhan bagi orang-orang di sekitar saya?
Sanata Dharma hadir 58 tahun yang lalu. Allah telah memilih Sanata Dharma sebagai salah satu tempat berkarya supaya makin banyak orang muda yang dapat merasakan kehadiran Sanata Dharma dan akhirnya dapat merasakan kehadiran Allah.
Usai homili, ditampilkan fragmen yang dimainkan oleh para mahasiswa.
Fragmen ini menceritakan pergulatan mahasiswa tentang pentingnya pendidikan. Sebagian mahasiswa menganggap bahwa yang penting mereka dapat lulus dan memperoleh ijazah, sampai akhirnya suatu ketika mereka baru menyadari bahwa pendidikan beserta seluruh prosesnya merupakan hal penting yang tak ternilai harganya. Usai Misa, mahasiswa, dosen, dan pegawai beramah-tamah di samping gereja sambil menikmati santap siang. (BST)




