“Eh... di mana kakimu? Aku butuh paha untuk menjepit!” teriak Endo, salah seorang anggota tim kincir angin Universitas Sanata Dharma (USD) yang saat itu bergelantungan di atas tower. Tim tersebut sedang memasang blade (sudu) kincir yang berdiameter 3 meter. Hembusan angin yang cukup kencang membuat mereka berlima harus mengerahkan tenaga ekstra supaya sudu-sudu kincir ini tidak berputar sebelum waktunya. Terik matahari yang menyengat tidak nampak menyurutkan semangat mereka dalam memasang empat bilah sudu pada poros kincir yang terletak di atas rangka baja setinggi 6 meter.
Kompetisi Kincir Angin Indonesia 2013, diselenggarakan tanggal 1-4 Desember 2013 atas kerjasama Kemendikbud, UGM, dan Pemda Bantul dengan mengambil tema “Energi Terbarukan Untuk Kemakmuran”. Sebanyak 31 tim dari perguruan tinggi di Indonesia mengikuti kompetisi ini, termasuk ITB, UI, ITS, UNY, dan UNS. Tim kincir angin USD Yogyakarta berhasil mencatatkan hasil 120 Watt/hour dalam kompetisi yang diadakan di Pantai Baru, Srandakan, Bantul, DIY. Hasil ini diperoleh dari tegangan yang dihasilkan sebesar 15 volt dengan kuat arus 8 ampere. Tidak hanya itu, kincir beserta generator mampu bertahan hingga 60 jam sesuai dengan persyaratan penilaian juri. Dengan hasil ini, tim kincir angin USD berhasil memenangkan Kompetisi Kincir Angin Indonesia 2013 sebagai Juara Pertama.
Tim dengan anggota lima orang mahasiswa yang berasal dari Teknik Mesin dan Teknik Elektro ini dibimbing oleh Dr Iswanjono; dibantu Rines, MT; dan Martanto, MT. Kelima mahasiswa anggota tim tersebut adalah Isidorus Mau Loko (TM 10), Andreas Bagus Sadewo (TE 11), FX Dwicahyo Riyanto Putro (TE 11), Bernardus Morgan Wijayanto (TM 12), dan FX Pamungkas (TM 12). Menurut Ketua Tim, Isidorus Mau Loko yang biasa dipanggil Bruder Endo, kincir ini disiapkan dalam waktu dua minggu. “Sebenarnya ada beberapa kendala dalam persiapan lomba ini. Kami tidak tahu persis tentang spesisifikasi data logger yang akan digunakan,” tutur Endo. Ditambahkannya pula bahwa di saat-saat awal pemasangan, tegangan yang dihasilkan generator sangat tinggi. Hal ini membuat logger terbakar. “Kami sempat kehilangan daya sekitar 300 watt,” ungkapnya.
Teknologi Bagi Masyarakat
Kincir angin buatan USD mengadopsi model kincir petani garam. Kincir ini dibuat dari kayu, dengan spesifikasi kecepatan rendah tetapi mampu menghasilkan torsi yang besar. Material kayu ini dipilih agar masyarakat dapat memperbaiki sendiri jika kincir mereka rusak. Generator dibuat dari motor sepeda listrik yang telah mengalami modifikasi kumparan di Laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi USD. Generator ini mampu menghasilkan tegangan 36 volt dengan arus 10 ampere. “Pada putaran 90 rpm saja, generator sudah mampu mengisi aki,” ujar Iswanjono tatkala membahas spesifikasi teknis kelistrikan. Sementara itu, sebelumnya Endo pernah mendirikan kincir dengan model yang sama di Lakmaras, Belu, NTT. Kincir rancangan mahasiswa USD ini menjadi langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik di daerah yang terletak di perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste. “Sebelumnya kami harus menempuh jarak 43 kilometer untuk mengisi battery HP di daerah yang ada listriknya. Dengan kincir angin yang kami bagun, sekarang 40 HP sekaligus dapat di-charge bersamaan tanpa pergi ke kota,” ujar Endo sambil tertawa lepas. Membangun kincir di daerah Belu sudah dimulai tim FST USD sejak tahun 2007. Tim kincir FST USD berusaha merealisasikan visi Universitas untuk ikut serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang makin bermartabat. Jatuh bangun pernah dialami para penggiat kincir di USD ini. Dengan bermodalkan tekad dan semangat untuk membawa teknologi bagi masyarakat yang terpinggirkan, usaha mereka tidak sia-sia. Kemenangan pada ajang kincir Nasional ini membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras yang dimulai enam tahun lalu telah membuahkan hasil. “Bagi kami, kemenangan ini hanyalah satu momentum saja. Selanjutnya kami perlu bekerja lebih keras untuk mengabdikan ilmu kami kepada masyarakat yang membutuhkan,” pungkas Endo. (BST)




