Gendhing yang menggelegar itu seolah menggetarkan seluruh Kampus Universitas Sanata Dharma Paingan. Tata lampu yang gemerlap, mengundang para warga untuk tidak melewatkan gemulainya gerak para penari yang terpadu dalam dinamika koreografi. Megah dan dinamis, itulah kesan yang diperoleh dari Pagelaran 2013 Sendratari Sam Pek Eng Tay.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Grisadha tahun 2013 ini kembali memukau para pencari hiburan di hall tengah Kampus III Universitas Sanata Dharma, Paingan, Yogyakarta. Dengan dukungan dari Karawitan Universitas Sanata Dharma dan UKM Lens Club, Jumat 29 Desember 2013 menjadi malam yang sarat akan seni dan budaya.
Pageralaran ini merupakan pagelaran yang kedelapan dan merupakan
rangkaian acara Dies Natalis Universitas Sanata Dharma ke-58. Setelah dua tahun lalu UKM Tari Grisadha mengusung tema lokal yang bertajuk “Prahara Cinta Tangkuban Perahu” dan “Dewi Sri”, kali ini tema yang diangkat adalah “Sam Pek Eng Tay” yang merupakan folklor romansa dari daratan Cina. Pemilihan tema yang berbeda di tahun ini tentunya menambah nuansa baru bagi pagelaran ini. Koreografi yang biasanya khas dengan nuansa Jawa menjadi lebih menarik dengan pencampuran nuansa Cina. Kesan ini juga didukung dengan penataan panggung variasi gendhing yang memperkuat semangat alkulturasi budaya Jawa-Cina.
Dipandu oleh duet MC Nikodemus dan Sekartiyasa, rangkaian acara pagelaran ini dibuka oleh sambutan oleh Ketua Panitia (Aprillia Wittaningsih), Wakil Rektor III (Dr. Cyprianus Kuntoro Adi, S.J., M.A., M.Sc.), dan tentunya Rektor Universitas Sanata Dharma (Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J., M.Sc.). Tiga tarian lepas, yaitu Nginang Karo Ngilo, Jagones, dan Kipas Madarin, mengawali pagelaran sendratari ini. Dengan geyolan dang esotan para penari yang kenés, suasana pada malam hari itu mulai mencair. Selain itu, penonton juga terpukau dengan kemahiran salah seorang penari yang berkewarganegaraan Polandia, Joanna Frontczak, yang merupakan peserta pertukaran pelajar Dharmasiswa.
Acara dilanjutkan dengan penampilan pagelaran. Tari Kipas menjadi tarian pembuka pagelaran. Tarian ini megantarkan penonton ke dalam cerita yang disajikan dengan memperkenalkan tokoh Eng Tay (Tirza Yoga Nugroho) dan kedua orang tuanya (Andi Widiawan dan Dwi Dian Mayasari). Eng Tay, seorang anak perempuan dari keluarga kaya harus menyamar sebagai laki-laki agar dapat bersekolah. Didampingi oleh pengawal setianya ia akhirnya dapat membaur dengan teman-temannya. Dalam dinamika Tari Sempoa, tersirat makna bahwa Eng Tay jatuh hati pada Sam Pek (Nathanael Fertyasto Chris Pratama). Perasaan Eng Tay rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tari
Lampion menggambarkan bersatunya dua hati yang saling mencintai, Sam Pek dan Eng Tay. Alur cerita menjadi semakin menarik ketika seekor burung (Dessiana Adityawati) membawa pesan kepada Eng Tay untuk kembali ke rumah orang tuanya. Rupanya, seorang pemuda kaya bernama Bun Chai (Aloysius Gonzaga Rangga Hami Seno) sudah mempersiapkan diri untuk mempersunting Eng Tay. Kisah cinta ini menjadi semakin pelik ketika Sam Pek harus beradegan perang dengan Bun Chai dan anak buahnya dan berakhir kematian. Eng Tay yang tidak ingin dipersunting oleh Bun Chai kemudian menerjunkan diri ke kuburan Sam Pek.
Dalam rentetan alur yang bersinergi dalam gerak, gendhing, dan koreografi, para penonton tak henti-hentinya memberikan apresiasi. Penonton pun tertegun dengan akhir cerita yang begitu memukau dengan munculnya dua kupu-kupu yang terbang sebagai lambang reinkarnasi Sam Pek dan Eng Tay. Di sela-sela kekaguman akan tarian demi tarian, terdengar pula gelak tawa penonton karena kekocakkan dari pemeran pengawal Eng Tay (Christopher Tjia).
Karya yang memukau dan menghibur ini tentunya berkat kreatifitas dari anak-anak UKM Tari Grisadha dengan asuhan Agus Susanto, S.Sn. sebagai koreografer. Berkat kerjasama dari penata gendhing, Tri Koyo, S.Sn., dan pengrawit Sanata Dharma, pagelaran sendratari ini menjadi lebih meriah. Tak ketinggalan pula sang sutradara, Lukita Purnama Sari, dan seluruh panitia yang bertugas, telah berkerja keras untuk mengkreasikan acara ini. Dengan karya yang terus dilahirkan, tentunya banyak orang yang tengah menantikan karya UKM Tari Grisadha di tahun 2014. (SK)




