USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Live in Komunitas Religius Aneka Agama Universitas Sanata Dharma

diupdate: 20 tahun yang lalu

Kita seharusnya menjadi seagung Sang Pencipta. Dia bisa mewadahi semua ciptaan-Nya. Betapa Indahnya bila kita bertoleransi terhadap pemikiran-pemikiran saudara kita, teman kita, atau orang lain yang kita kenal. Kita semua bisa berbuat yang sama untuk mencapai kemuliaan. Demikian untaian kata yang tertuang dalam kenang-kenangan ucapan terima kasih Campus Ministry bagi komunitas religius aneka agama atas terlaksananya kegiatan Live In Lintas Iman Universitas Sanata Dharma, 8-14 Januari 2007. Sebanyak 40 peserta, terdiri dari Mahasiswa, dosen, dan karyawan Universitas Sanata Dharma mengikuti kegiatan tersebut. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok sesuai lokasi live in. Selama seminggu, para peserta tinggal di lokasi yang telah ditentukan, seperti di Budhis Centre Bodhidharma, Bandungan, Jawa Tengah (Budha), Wisma Santri Edi Mancoro, Salatiga, Jawa Tengah (Islam), Kursus Pertanian Taman Tani, Salatiga, Jawa Tengah (Katolik), Panti Asih Pakem, Yogyakarta (Kristen Protestan), Panti Asuhan St. Thomas Susteran AK, Ngawen, Wonosari, Yogyakarta (Katolik), dan Panti Asuhan Sta. Maria Bruderan FIC, Boro, Yogyakarta (Katolik). Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak untuk mengenal, menggali dan menimba kekayaan religius dari berbagai agama. Dengan penuh ketekunan dan keterbukaan peserta live in berkenan mengikuti beberapa aktivitas rohani yang dilaksanakan komunitas religius, seperti kebaktian Budha, mengaji, perayaan ekaristi, dan kebaktian Protestan. Termasuk juga berdiskusi dalam rangka belajar memperkaya pengetahuan akan agama-agama. Bambang bercerita, “Sebelumnya saya takut untuk masuk ke tempat ibadah lain seperti Gereja dan Vihara serta mengikuti aktivtias kebaktiannya. Ketakutan ini disebabkan di daerah asal saya, Provinsi Aceh, orang selain Islam tidak boleh masuk ke Masjid. Saya kawatir bila saya masuk ke tempat ibadah agama lain dan coba untuk mengenal agama lain, akan mengalami perlakuan yang sama, yaitu penolakan seperti orang-orang non Islam yang coba masuk ke Masjid di dearah asal saya.” “Saya senang bisa mengenal dan menimba kekayaan rohani dari komunitas religius lain. Selain membantu mengolah kehidupan rohani, saya juga memiliki tambahan sahabat dan saudara”, lanjut Bambang. Selain mengenal kekayaan religus, peserta juga dilibatkan dalam karya kemanusiaan yang diselenggarakan komunitas religius tersebut. Dwi begitu tergetar dalam kebersamaannya dengan orang-orang yang cacat mental di Panti Asih Pakem. Melalui kehadiran saudara-saudaranya yang cacat, dirinya bersama teman-teman dan perawat berkesempatan mewujudkan kasih sebagai inti ajaran agama yang diimaninya. “Tak peduli orang cacat itu beragama apa dan perawatnya juga beragama apa, kami disatukan oleh cinta yang tulus untuk mewujudkan kasih Tuhan.” Ade pun terpukau dengan komitmen para pengajar yang terlibat dalam karya Kursus Pertanian Taman Tani. Pak Sumarjo salah seorang staff pengajar dan juga seorang tokoh Islam, dengan penuh semangat mendidik para siswa mengembangkan ketrampilan bertani. “Luar biasa Pak Sumarjo dan Staff pengajar yang lain di KPTT ini. Meski para staff pengajar dan para siswa KPTT menganut agama yang berbeda-beda, mereka serius mengolah KPTT memperhatikan bidang pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan peduli terhadap lingkungan hidup. Saya setuju dengan pandangan bahwa permasalahan perut yang terbebas dari masalah kelaparan adalah permasalahan nyata yang perlu ditanggapi oleh para pemeluk agama. Petani memiliki peran penting dan perlu diperhatikan,” ujar Ade kekobar-kobar. Perjumpaan dengan saudara-saudari yang beriman berbeda di berbagai komunitas religius aneka agama tersebut meneguhkan iman masing-masing peserta dan mendorong peserta menjalin kerja sama berkarya bagi kebaikan sesama. Perjumpaan tersebut terasa istimewa di tengah situasi masyarakat yang cenderung digiring dalam kehidupan yang terkotak-kotak karena adanya perbedaan pandangan iman. Sebelumnya, Bowo mengungkapkan,”Saya dan beberapa teman sebenarnya takut untuk tinggal di pondok pesantren. Hal ini dikarenakan maraknya pemberitaan yang menampilkan wajah garang para pemeluk agama Islam. Dengan tinggal seminggu bersama para santri, saya dan teman-teman disadarkan untuk berani memulai membangun relasi dan persahabatan dengan saudara-saudari pemeluk agama lain. “Ternyata, Para Santri Putra dan Putri gaul juga”, ujar Bowo. Secara kritis mahasiswa, dosen, dan karyawan peserta live in lintas iman Universitas Sanata Dharma, menyoroti berbagai pandangan, pernyataan, dan sikap, dangkal para pemeluk agama yang menjadikan agama sekedar alat untuk memenuhi ambisi dan keuntungan prbadi yang bersifat sementara serta tidak peduli pada kebaikan sesama. Para peserta merasa optimis bahwa jalinan kasih dan kerja sama antar pribadi lintas iman yang terbangun merupakan gerak yang mampu memperbaiki kehidupan bersama dengan berbagai karya nyata bagi sesama dan alam semesta. Bersama Fr. Nugroho, SJ, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Teologi Universitas Sanata Dharma, peserta live in lintas iman dibantu untuk berefleksi menemukan kebaikan-kebaikan Tuhan yang mendidik lewat pengalaman yang digulati peserta selama live in. Melalui kegiatan ini, para peserta belajar menanamkan nilai-nilai penghargaan pada pribadi manusia. Sekaligus, belajar berani untuk memulai jalinan relasi persaudaraan dan jaringan kerja sama dengan berbagai pihak yang berbeda latar belakang pandangan dan keyakinan iman untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik bagi kesejahteraan bersama.(Fr.Ddk)

  kembali