USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kemilau Culture Fest 2013: "Meradjoet Karja, Memadu Beda"

diupdate: 13 tahun yang lalu


Di Malam Minggu nan romantis, di tengah rintik gerimis, terdengar sayup-sayup musik Korea mengalun manis. Malam minggu, 16 Nopember 2013, Language Institute of  Sanata Dharma University atau yang lebih dikenal dengan Lembaga Bahasa USD mengadakan Culture Fest 2013 di Student Hall Kampus I Universitas Sanata Dharma. Acara tersebut dimeriahkan oleh mahasiswa asing dari sekitar 10 negera berbeda yang mengenyam bangku pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Mereka menampilkan berbagai macam kesenian khas dari negara mereka masing-masing. Culture Fest sendiri yang bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional memiliki tujuan untuk mewadahi keragaman budaya dari tiap mahasiswa yang mewakili negara berbeda serta sarana untuk memahami keunikan dan perbedaan kebudayaan melalui kesenian. 
Acara tersebut dibuka dengan apik oleh tari Pakat Dayak, tarian khas dari komunitas mahasiswa Kalimantan. Selanjutnya acara berlanjut dengan pemberian sambutan oleh Ketua LBUSD Ibu Dr. Retno Muljani dan Rektor USD. Selepas sambutan, para penonton kembali dibuat berdecak kagum dengan penampilan musik Korea. Agnes, salah satu penonton dari Prodi Sastra Inggris mengungkapkan bahwa perform music Korea pada malam hari itu sangat baik karena dilengkapi dengan MV serta mampu memberikan wawasan bahwa orang Indonesia juga mampu menyanyikan musik Korea.
Penampil selanjutnya adalah mahasiswa dari Laos. Mereka berhasil mempertunjukkan tarian anggun yang di mix dengan cantik bersama lagu dangdut khas Indonesia. Para penonton kemudian dibuat terbuai dengan dentingan gitar akustik dari SAKA Akustik. SAKA sendiri merupakan singkatan dari Seni Adalah Kebahagiaan Abadi. Grup Akustik tersebut mampu meng-cover sebuah lagu dari Negara matahari terbit atau Jepang dengan musik kontemporer  yang berbalut alunan keroncong. Tidak cukup sampai di situ, mahasiswa dari China segera menampilkan kesenian gerak dan lagu yang bertemakan kisah cerita murid-murid SD yang nakal. Dengan gaya yang sedikit centil namun atraktif, mereka mampu membius para penonton yang tampil pada malam hari itu. Sesaat setelahnya, pembawa acara yakni Mr. Risang dari Indonesia dan Ms. Renko dari Jepang, mengajak penonton untuk hening sejenak sembari menikmati suara merdu dari Ibu joy yang berasal dari Filipina. Lagu sendu tersebut dinyanyikan dalam 3 bahasa yakni bahasa Filipina, Inggris, dan Indonesia. Lagu tersebut dibawakan untuk mengenang dan menghormati teman-teman kita yang baru saja terkena bencana topan di Filipina.
Selanjutnya, teman-teman mahasiswa dari Vietnam juga menampilkan sebuah tarian unik dengan menggunakan bambu. Mereka berloncatan menghindari bambu dengan gaya yang tetap padu dan serasi, membuat tarian tersebut terlihat unik dan menarik. Tidak mau kalah dari para penampil sebelumnya, beberapa mahasiswi kemudian menampilkan Modern Korean Dance dengan seksi dan enerjik, sebuah dance yang sedang marak di kalangan anak muda belakangan ini. Sebagian penonton merangsek maju ke depan, berusaha untuk menikmati lebih dekat sekaligus mengabadikan momen-momen menarik dari dance tersebut. Menjelang akhir acara, mahasiswa dari Myanmar turut tampil mempersembahkan lagu untuk tetap menghangatkan suasana pada malam hari itu. Acara kemudian ditutup dengan membacakan puisi ciptaan Ibu Heny Herawati yang berjudul “Terkesima”. Sebuah puisi yang menceritakan mengenai rasa syukur akan keindahan alam dan perbedaan yang ada.
            Di akhir acara, Rini seorang mahasiswi dari China yang turut tampil pada malam hari itu, berkomentar bahwa Culture Fest 2013 merupakan acara yang sangat bagus karena panitia telah mempersiapkannya dengan sangat baik sejak dari bulan September. Ia juga merasa sangat bahagia karena bisa ikut tampil menyanyi dan menari memeriahkan acara pada malam hari itu. (ssp)

  kembali