USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

REKTOR PADA PUNCAK DIES: USD HARUS TERUS BENAHI DIRI

diupdate: 20 tahun yang lalu

Pada usia yang ke-51 ini Universitas Sanata Dharma harus terus menerus membenahi diri agar USD mampu memainkan peran sosial seperti yang dicita-citakan dalam visi misinya, yaitu berpartisipasi dalam melindungi dan meningkatkan martabat manusia melalui perpaduan keunggulan akademik dan nilai-nilai humanistik. Demikian pernyataan Rektor USD Rm. Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama SJ M.Sc. dalam laporan tahunan pada acara puncak Dies Natalis Sanata Dharma ke-51 di kampus III USD Paingan Sabtu (16/12). Yang dimaksud dengan terus berbenah diri menurut Romo Wir, panggilan akrab Rektor USD ini, adalah perlunya terus menerus menggali potensi dosen, karyawan, dan mahasiswa agar dapat teraktualisasikan secara penuh. "Arah aktualisasi potensi harus mengarah ke visi dan misi, bukan tanpa arah ke sana ke mari", lanjut Rektor. Oleh karena itu segenap keluarga besar Sanata Dharma masih memerlukan proses internalisasi visi misi secara kontinyu. "Internalisasi itu harus senantiasa bagai suara menggema, air yang menyegarkan, dan apai yang membakar hati", tandasnya. Pada perayaan puncak ulang tahun ini Romo Rektor mengajak segenap civitas untuk melakukan sejumlah refleksi. Ada tiga refleksi yang diajukan, yaitu (1) Apakah USD merasa bahwa potensi yang dianugerahkan oleh Tuhan telah teraktualisasi secara penuh? (2)Apakah aktualisasi potensi telah sesuai dengan visi dan misi? (3)Apakah visi misi USD bagi civitas masih menggema, membakar hati, dan menyegarkan?. Sementara itu dalam orasi dies natalis yang berjudul "Cerdas dan Humanis: Menimbang Sumbangan USD bagi Pendidikan di Indonesia", Dr. Baskara T. Wardaya, S.J. mengungkapkan bahwa pendidikan nasional dinilai masih kurang mencerdaskan dan kurang mendidik kepekaan dalam spek-aspek kemanusiaannya. Bahkan saat ini pendidikan di Indonesia sedang mengalami pendangkalan pikiran, termasuk kaum intelektualnya. Menurut Dosen S2 Ilmu Religi dan Budaya yang sekaligus Direktur Program Pasca Sarjana ini, intelektual Indonesia saat ini enggan melakukan pengkajian pemikiran secara serius dan mendalam. Dunia akademik hanya sering dipakai untuk simbol status. Lebih parah lagi, penelitian yang dilakukan sering kali merupakan penelitian yang potensial mendatangkan keuntungan, misalnya penelitian pesanan atau dari perusahaan besar. Masalah serius yang terkait pendidikan juga disebabkan oleh kurikulum yang berubah-ubah, mutu dan distribusi pengajar, tingginya biaya, serta kurangnya dukungan finansial dari pemerintah. Sedang lemahnya nilai-nilai kemanusiaan dan kepekaan sosial dalam pendidikan berakibat tindakan-tindakan yang cenderung dilakukan untuk kepentingan pribadi, misalnya korupsi, pembalakan hutan, atau pembakaran lahan. Dengan demikian pendidikan di Indonesia sebenarnya masih kurang siap dalam menghadapi globalisasi. "Kita sekedar peserta pasif dan tidak memapu menentukan arah globalisasi", tambahnya.

  kembali