JAKA (Jaringan Akademik dan Kemahasiswaan) merupakan wadah baru di dalam APTIK untuk mengganti beberapa forum pertemuan yang sudah ada misalnya Forum Purek I dan Forum Purek III. Dalam Rapat Umum Anggota (RUA) APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) di Makasar, forum memutuskan bahwa forum-forum semacam ini harus berbasis pada kegiatan, tidak lagi pada jabatan struktural di dalam sebuah universitas. Oleh karena itu di dalam pertemuan JAKA tahun depan di Unika Sugiyapranata Semarang, peserta kegiatan adalah dosen utusan universitas yang nantinya bertugas mensosialisasikan ataupun bertanggung jawab pada kegiatan tindak lanjut dari pertemuan JAKA ini. Dalam pertemuan ini, dibahas arti pentingnya “Mission Identity and Character Building”. Topik tersebut memang sebuah topik besar yang sebenarnya tidak cukup dibahas dalam 3 hari saja. Untunglah para peserta yang hadir sudah membawa bekal informasi dari universitas masing-masing mengenai keberadaan Mission Identity dan Character Building karena dalam pertemuan forum sebelumnya topik ini sudah pernah disinggung. Kegiatan ini dipandu oleh 3 pembicara yaitu: (1) Romo P. Wiryono Priyotamtama sebagai Rektor USD (“Mission and Identity”: Sebuah Perspektif Pengembangan Unika ke Depan), (2) Ibu Bernadette N. Setiadi sebagai Rektor Unika Atmajaya Jakarta (Misi dan Identitas Universitas Katolik: Beberapa Catatan), (3) Ibu Lanny Anggawati sebagai dosen atau praktisi pengajar “Character Building” di Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma. Sumber utama dari pengembangan Mission and Identity ini adalah Konstitusi Apostolik “Ex Corde Ecclesiae” yang telah dialihbahasakan oleh Romo Sastrapratedja, S.J. Dokumen gereja ini mengajak universitas Katolik (Unika) untuk menyadari tiga hal penting: (1) Asal-usul Unika: “Dari Jantung Gerejalah Unika lahir sebagai pusat kreatifitas dan pusat penyebaran pengetahuan demi kesejahteraan umum manusia”. (2) Hakekat Unika: “Suatu komunitas akademik yang dengan cermat dan kritis, membantu, melindungi dan meningkatkan martabat manusia dan warisan budaya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat”. (3) Tujuan Unika: “Menjamin secara kelembagaan kehadiran kristiani di dalam universitas yang sedang menghadapi masalah besar dalam masyarakat dan kebudayaan”. Mission and Identity ini merupakan salah satu dimensi khas pengelolaan Unika yang menegaskan aspek spirital/religious/Iman. Selain aspek tersebut manajemen perguruan tinggi juga memiliki 5 dimensi umum yang lainnya yaitu etis, keilmuan, pendidikan, sosial, dan korporasi). Dalam dimensi spirital/religious/Iman, Unika mempunyai tanggung jawab berikut ini: (1)Pelayanan kepada Gereja dan masyarakat, (2) Pelayanan pastoral (3) Dialog kebudayaan (4) Penginjilan. Dalam tantangan berat dunia global ini, Mission and Identity sebuah universitas diharapkan mampu menjembatani idealisme kristiani dengan realitas kehidupan masyarakat, yang dalam hal ini diwakili oleh para generasi muda sebagai subyek didik di universitas. Dalam sesi berikutnya mengenai Character Building (CB), Ibu Lanny menegaskan perlunya internalisasi kebiasaan baik yang tidak hanya direalisasikan lewat janji-janji batin, tetapi juga praktek kebiasaan yang konsisten. Kunci keberhasilan CB sebenarnya adalah dosen yang bertindak sebagai pemberi materi sekaligus sebagai role model, yaitu sebagai contoh pribadi yang sukses. Kalau dosen menuntut mahasiswanya untuk disiplin, dalam kehidupan nyatanya sebagai dosen dan anggota masyarakat, dosen tersebut harus “menghidupi” prinsip kedisplinan. Aspek “menghidupi” inilah yang kiranya menjadi tantangan nyata bagi para pendidik bangsa. Salah satu kelompok dalam diskusi juga menekankan arti pentingnya pemahaman dan pelaksanaan CB dalam proses pendidikan di perguruan tinggi sebagai berikut: (1) Mengapa perlu Character building? Ada kecenderungan dalam diri mahasiswa untuk cepat lulus akibatnya mereka hanya sibuk dengan kegiatan akademik, kurang sosialisasi dan belajar berorganisasi, (2) Masyarakat kita dan dunia kerja membutuhkan orang yang memiliki hard skill dan soft skill secara bersama-sama, (3) Character Building bertujuan untuk membantu lulusan kita memiliki kecerdasan intellectual, emosional, moral, spiritual (memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi), (4) Bisa dilakukan melalui kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas, (5) Kunci utama di dosen. Oleh karenanya dosen perlu memahami arti pendidikan secara keseluruhan dan juga memahami spiritualitas sebagai pendidik. Pertemuan tersebut ditutup dengan pemilihan koordinator JAKA yang baru dan diusulkan untuk menjabat selama periode 2007-2008. Dalam pemilihan tersebut, para peserta sepakat menunjuk Romo P. Wiryono Priyotamtama (Rektor USD) sebagai koordinator JAKA. Karena Romo Wiryono sendiri kebetulan tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menolak, melalui “semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa“, Beliau akhirnya menyatakan kesediaannya sebagai Koordinator JAKA periode mendatang. (Kus)




