USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Angkringan Lintas Agama: Berziarah Bersama Menuju Kesejatian Hidup

diupdate: 13 tahun yang lalu


Setelah sekian lama kegiatan dialog antar agama/lintas iman absen dari dinamika mahasiswa Universitas Sanata Dharma, pada Jumat, 1 November 2013 komunitas mahasiswa lintas iman bersama Campus Ministry (CM) USD menggelar kegiatan "Angkringan Lintas Agama". Kegiatan yang dilaksanakan di Students’ Hall Kampus 1 USD Mrican ini diadakan dalam momentum Peringatan Sumpah Pemoeda ke-85 dengan tujuan merefleksikan kembali semangat kebersamaan dan dialog antar komunitas beragama dalam dinamika masyarakat Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala CM USD, Romo Elias Ambirat Duhkito, SJ menegaskan komitmen Campus Ministry untuk membuka lebar ruang-ruang dialog antar komunitas beragama demi terciptanya solidaritas kemanusiaan di dalam kehidupan sivitas akademika Universitas Sanata Dharma. Angkringan Lintas Iman ini dihadiri oleh komunitas-komunitas mahasiswa berbasis agama, seperti Forum Keluarga Muslim Budi Utama, Cana Community, Jalinan Kasih Mahasiswa Katolik, Komunitas Mahasiswa Buddhis dan Kong Hu Cu, English Mass Community, dan Komunitas Paingan.
Kegiatan ini menghadirkan Rm. E. Didik Chayono, SJ; Bp. Muhammad Mustakim, dan Bp. Sujiyanto, S.Ag sebagai narasumber. Ketiga narasumber menyambut baik adanya inisiatif komunitas-komunitas mahasiswa lintas iman untuk menggelar dialog dengan konsep angkringan semacam ini. Angkringan sebagai "ruang dan suasana" khas Jogja, diyakini mampu menjembatani dialog akan keprihatinan, kegelisahan, dan aspirasi masyarakat secara egaliter, untuk mencari jalan keluar bersama. 
Lebih jauh, Romo Didik mengungkapkan bahwa agama bukanlah sumber konflik dalam masyarakat yang plural seperti kita. Berbagai kasus konflik dan kekerasan yang mewarnai perjalanan bangsa kita sejatinya menggunakan perbedaan agama sebagai topeng untuk tujuan-tujuan praktis tertentu.  Sementara itu Bp. Mustakim menekankan bahwa perbedaan dalam agama tentu adalah hal yang selalu ada, mulai dari konsep hingga praktik hidup. Menjadi masalah justru jika perbedaan itu selalu dijadikan persoalan atau hambatan dalam membangun hidup bersama. Pada prakteknya, masyarakat kita justru punya tradisi hidup yang sebenarnya mampu menjembatani perbedaan-perbedaan prinsip demi sebuah jalan menata relasi antar manusia dalam masyarakat. Keprihatinan yang sama juga diutarakan oleh Bp Sujiyanto, yang menekankan bahwa ada kesesatan berfikir yang melihat bahwa perbedaan agama sebagai sumber masalah. Justru sebenarnya dengan memahami perspektif yang beragam dari berbagai agama, masyarakat mempunyai kekayaan yang luar biasa dalam menggali keutamaan demi membangun tatanan hidup bersama.
Suasana akrab dan keterbukaan nampak kental dalam acara yang dipandu oleh Gigih Adiguna ini. Dalam sesi tanya jawab tidak hanya muncul pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana membangun hidup bersama lintas agama, namun juga pemahaman tentang konsep-konsep dan praktik-praktik hidup  beragama yang beragam. Semua pertanyaan didialogkan dalam kerangka memahami dinamika praktik hidup beragama bangsa kita dan bagaimana kemudian dari perbedaan-perbedaan tersebut, dapat dirumuskan komitmen untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik. 
Di akhir dialog para narasumber mengutarakan harapannya agar dialog tentang realitas ini menjadi awal bagi dialog nyata dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa di USD dan di tengah masyarakat bangsa kita yang beragam. Diharapkan dari proses dialog yang sederhana ini, kita bersama-sama menyadari bahwa komunitas-komunitas beragama sedang dalam peziarahan menuju pada kesejatian hidup, oleh karenanya keterbukaan dan solidaritas perlu untuk diusahakan terus menerus dalam kehidupan bersama. (CM)

  kembali