USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dies Natalis Fakultas Teologi USD ke-29: Berpolitik di Tengah Tantangan Jaman

diupdate: 13 tahun yang lalu


Fakultas Teologi pada hari Jumat-Sabtu, 1-2 November 2013 merayakan puncak dies natalisnya yang ke-29 sejak berubahnya dari Institute Fakultas Teologi menjadi Fakultas Teologi Wedabhakti dan bergabungnya di dalam bagian Universitas Sanata Dharma. Pada tahun ini, perayaan dies natalis mengambil tema “Berpolitik di Tengah Tantangan Jaman”, dengan dua kegiatan rangkaian puncak, yaitu seminar pada hari Jumat tanggal 1 November 2013 dan misa syukur dan resepsi syukur pada hari Sabtu tanggal 2 November 2013.
Pada kegiatan seminar peringatan dies natalis ke-29 ini, diundang dua narasumber, yaitu Rm. Maswan Susinto (koordinator Jesuit Refunge Service) dan Ibu Alissa Wahid (putri Alm. Abdurahman Wahid, Presiden keempat Republik Indonesia). Dalam seminar ini pun tidak hanya diikuti oleh para mahasiswa dan dosen Fakultas Teologi saja, tetapi juga diundang para perwakilan tamu undangan dari Universitas Kristen Duta Wacana, UIN Kalijaga, UII, IPPAK, dan beberapa kelompok komunitas mahasiswa katolik di Yogyakarta. Total peserta yang menghadiri seminar ini kurang lebih 350 orang di aula Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Acara dimulai pukul 16.00 WIB berakhir hingga pukul 19.00 WIB.
“Kalau kita mencermati tema yang coba kita usung di dalam seminar dies natalis pada hari ini, tentu menunjukkan pada usaha kita bagaimana berpolitik. Berpolitik bukan perkara bagi para pejabat dan petinggi yang menduduki kursi jabatan negara tercinta Indonesia ini. Tetapi berpolitik ini menyangkut kita sebagai orang-orang yang mengakui warga negara Indonesia dan berkedudukan di tanah Republik Indonesia kita. Tentu cara kita berpolitik menggelitik hati nurani kita, bagaimana menempatkan diri kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai kapasitas dan kemampuan kita. Lalu bagaimana kita mencoba untuk menggali secara nyata kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah keanekaragaman kehidupan berbangsa dan bernegara kita?”, demikian ungkap Fr. Theodorus Desnanda Hari Putra, mahasiswa semester 7, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.
Diungkapkan oleh Ibu Alissa Wahid bahwa kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah soal keanekaragaman yang menjadi api yang memudahkan untuk terciptanya konflik. Beliau di dalam pembicaraan seminar menampilkan data realita Indonesia soal keprihatinan kehidupan berbangsa dan bernegara, paling mencolok soal keberagaman. Sebenarnya apa yang bisa menyatukan Indonesia? Jawabannya adalah bukan lain keberagaman itu sendiri. Kata kunci yang beliau ungkapkan adalah, mencari kita di tengah aku-aku. Beliau terinspirasi oleh kiprah dari ayahnya sendiri yaitu Abdurahman Wahid. GusDur hadir sebagai tokoh berangkat dari pengalaman spiritual (gelombang pengaruh Gusdur), kemudian pengolahan spiritual budaya yang dibawa dalam konteks masyarakat Indonesia, masuk ke politik (kebangsaan), hingga akhirnya berujung pada usaha wujud nyata dalam hal humanisme, ibarat batu yang dilemparkan di permukaan air. Beliau mengungkapkan bahwa Gusdur tidak pernah berkata mengenai kesatuan agama, yang dimaksudnya persatuan keberagaman adalah penerimaan terhadap perbedaan sebagai sebuah bangsa. Agama itu memanusiakan sesama. Oleh karena itu, gelombangnya NU lebih moderat karena penghargaan dengan agama-agama lain. Bukan sarana doctrinal dalam menyelesaikan masalah, tetapi sebagai sarana penghargaan terhadap keberagaaman atau pemanusiaan yang lebih bermartabat.
Hal senada diungkapkan oleh Rm. Maswan Susinto yang berbicara soal politik berangkat dari usahanya yang berkecimpung di dalam mengurusi orang-orang pengungsi. Usaha wujudnyatanya adalah dengan merengkuh pengungsi-pengungsi sebagai layaknya manusia. Beliau berfilosofi dengan fenomena manusia perahu, ketika manusia berada dalam situasi ambang batas, akhirnya kemanusiaan itu sendiri yang menjadi usaha yang diperjuangkan, akhirnya dalam situasi seperti itu manusia berpasrah pada Tuhan. Ketika dalam situasi itu, timbul interaksi sosial dalam kebersamaan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, bukan lagi soal aku-aku, tapi demi memperjuangkan keselamatan semakin banyak orang. Keteladanan yang beliau ungkapkan adalah diinspirasi dari Paus Fransiskus yang mengusahakan Gereja bisa menjadi rumah bagi para pengungsi, tidak hanya sekedar menjadi bangunan fisik untuk tempat berteduh dan bertempat tinggal tetapi lebih dalam rangka rohani (yang menanamkan harapan dan iman di dalam ketidakpastian). Beliau bercerita bahwa memproses pengungsi di penjara dalam upaya pembebasan, berarti hadir, bertemu, ada bersama mereka dan keluar bersama dengan mereka (bukan soal fisik saja tetapi juga rohani). Pada hari berikutnya, diadakan misa syukur dan resepsi syukur Dies Natalis Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma ke-29.
“Perayaan Dies Natalis, pada umumnya adalah perayaan tahunan yang diadakan oleh Fakultas Teologi. Tetapi tentu bukan soal perayaan dan serangkaian kegiatan yang ingin kita lakukan, tetapi apa yang bisa kita maknai dan kita dapatkan di dalam perayaan tahunan yang kita peringati di dalam kegiatan Fakultas ini. Terlebih perayaan Dies Natalis Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma yang ke-29 ini, agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena kita merayakan 25 tahun hidup imamat, Rm. Hari Kustono, Pr (dosen Kitab Suci), Rm.Haryatmoko, SJ (dosen Filsafat), dan Rm. Hasto Rosariyanto, SJ (Dosen Sejarah Gereja) dan juga Dies Natalis ini menjadi moment pertemuan alumni dan pembentukkan alumni fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, dimana para awam diketuai oleh Bapak Edy Widiasta dan para Imam dan Religius oleh Rm. Joseph Kristanto, Pr”, demikian diungkapkan oleh Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dalam pidato pembukaan malam puncak Dies Natalis ke-29.
Pada malam puncak Dies Natalis Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, acara dikemas dengan teatrikal “Ronggeng Dukuh Kentungan”. Apa yang dimaksud dengan kemasan acara yang demikian? sebagai serangkai kegiatan puncak dies natalis ke-29, teatrikal “Ronggeng Dukuh Kentungan” mbundeli tema yang diusung. “Kita sebagai orang-orang Indonesia tidak boleh lepas dari akar budaya masing-masing, seperti tarian, gamelan, ritual ataupun pakaian tradisi. Kritik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah budaya Indonesia mudah diklaim dan tidak mudah dilestarikan, padahal budaya Indonesia beranekaragaman. Sebenarnya, budaya menjadi sarana interaksi sosial dengan orang yang lain. Orang-orang bisa masuk dalam orang lain karena budaya menjadi jalan dalam hubungan dan menjalin relasi yang semakin intim, semakin membangun nilai-nilai humanisme yang diperjuangkan dan kehamornisan. Kritik terhadap politik adalah kadang budaya menjadi sarana berkampanye dan menghilangkan esensi dari budaya tersebut. Politik jaman sekarang memanipulasi, esensi membangun budaya yang baik itu hilang hanya sekedar sebagai hiburan. Setelah hiburan hilang tidak ada tindaklanjut. Sekiranya politik menjadi sarana yang mampu merengkuh keberagaman di dalam kehidupan”, demikian diungkapkan oleh Fr. Fikalis Rendy Aktor, mahasiswa semester 5 Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.
Dalam perayaan puncak juga dilakukan pembagian hadiah-hadiah dalam serangkai perayaan Dies Natalis Fakultas Teologi ke-29 ini, baik yang akademik dan non-akademik. Perayaan yang dimulai dari pukul 16.30 WIB ini berakhir hingga pukul 21.00 WIB, yang dihadiri oleh 452 orang baik dari pihak civitas akademika dan para dosen Fakultas Teologi dan para tamu undangan. Viva la dies natalis Faculta Teologica. (FXAP)

  kembali