USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Legong Sang Kenya, Sintesa antara Budaya dan Iman

diupdate: 13 tahun yang lalu


Di sudut Kota Yogyakarta, sekelompok manusia muda berdiri di sebuah gedung megah dengan mengenakan pakaian adat Bali. Gadis-gadis anggun yang ramah dan pria-pria gagah secara ramah mempersilahkan banyak orang lainnya, tua dan muda, untuk masuk ke dalam sebuah gedung yang terlihat seperti gedung pertunjukan. Sosok-sosok berpakaian Bali itu ternyata adalah para panitia dari pagelaran tari Bali yang diadakan oleh komunitas tari Bali dari Universitas Sanata Dharma, Sekar Jepun. Pada malam itu, Jumat, 1 November 2013, Sekar Jepun memang mengadakan pagelaran tari Bali yang berjudul “Legong Sang Kenya” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Acara yang memakan waktu selama dua jam itu mungkin terasa lama namun jika anda berada dalam acara tersebut, dua jam yang anda habiskan tidak akan sia-sia sebab para penari Sekar Jepun tersebut akan menyihir anda di tiap gerakan dan langkah mereka.
Legong Sang Kenya ini merupakan ekspresi dari pencarian dan pengembaraan komunitas Sekar Jepun yang dikemas penuh estetika dan menyimpan pengalaman spiritual. Sekiranya, itulah yang ditegaskan Romo Banar yang memberikan sambutan guna membuka acara tersebut. Jika sebelumnya anda tidak mendalami gamelan namun anda bisa bermain gitar dan drum, anda pasti akan merasa sedikit menyesal karena anda ‘hanya’ bisa bermain gitar dan drum karena tim penabuh dari Sekar Jepun ini mampu membius seluruh penonton yang memenuhi gedung selama beberapa menit dengan memainkan masing-masing alat musiknya. Permainan dengan tempo cepat dipadukan dengan koreo yang apik dari para penabuh tersebut. Saat mereka berhenti memainkan alat musiknya, tarian pertama pun dimulai. Dengan membawa bunga tabur di tangan kanan, 14 gadis dalam balutan kain adat masuk ke tengah panggung. Tari Gabor adalah tarian pertama yang dibawakan 14 gadis tersebut. Tarian Sakral yang awalnya digunakan dalam upacara penyambutan dewa dan dewi ini ditampilkan dengan sangat elok oleh 7 pasang gadis rupawan tersebut. Bagaikan kembang yang mekar di musim panas, para penari tari Gabor ini menaburkan bunga ke seluruh penjuru panggung, menebarkan pesona di tiap jejak langkah mereka sembari meninggalkan arena bermain mereka.
Jika pada tarian pertama para penarinya penuh dengan keanggunan, tarian kedua ini sifatnya cukup bertolak belakang. Bagai gendering perang yang dimainkan untuk meningkatkan semangat para prajurit, tim penabuh mengalunkan irama yang penuh dengan semangat di tarian kedua ini. Tari Baris Bandana Mangala Yuda adalah nama dari tarian kedua ini. Delapan penari gagah dengan kostum perang dan senjata tersemat di balik baju zirahnya menari dengan penuh maskulinitas. Besarnya ukuran kostum yang mereka kenakan tidak menghalangi pergerakan mereka, justru gambaran pahlawan perang yang beringas mampu membuat para penonton sejenak menahan nafas mereka.
Formasi-formasi yang menawan telah ditunjukkan oleh para penari dalam dua tarian di awal, namun pada tarian ketiga, hal berbeda diusung oleh Sekar Jepun. Tari Jayarati, itulah nama tarian ketiga yang dimainkan. Tarian ini justru menampilkan dua kelompok yang saling melakukan pencerminan. Tari yang bercerita tentang seorang putri yang menyamar untuk mencari kekasihnya ini sukses membuat para penonton menerka-nerka yang manakah si putri tersebut diantara ketujuh penari tersebut. Pakaian yang dikenakan oleh para penari itu juga sangat unik. Jika pada umumnya jarik itu digunakan paling panjang sepanjang jenjang kaki si pemakai, maka jarik yang dikenakan dalam tarian ini justru bisa dibilang irrasional karena melebihi dari kaki sang penari. Namun justru itu tadi yang menjadi sisi indah dari tarian ini. Kelebihan dari jarik tadi digunakan dengan sangat cerdas. Fleksibilitas penari bali terhadap kostum yang dikenakannya terpampang dengan baik di tarian ini. Dengan elegan, para penari meninggalkan para penonton, yang masih terpukau dengan apa yang baru saja ditampilkan.
Sekar Jepun memang sukses memberikan kejutan-kejutan baru bagi para penonton kala itu. Setelah serentetan tarian-tarian berkelompok, ternyata tarian keempat ini hanya dibawakan oleh satu orang saja. Tari Topeng Pangelembar Keras adalah judul dari tarian ini. Pada masa transisi di mana blackout sedang terjadi, mendadak penonton dikejutkan dengan sesosok manusia yang berdiri sendirian di tengah panggung dengan cahaya yang jatuh menimpa sosok terebut. Penari yang sudah berada di area pertunjukan pun segera bergerak mengikuti alunan dari tabuhan kendang dan gamelan. Sosok yang menari dengan topeng itu bagai menari di tengah pancaran bulan, dialah sang raja, penguasa gelap dengan segala karisma yang dipancarkan di tiap gerakannya.
Saat yang ditunggu kami pun akhirnya tiba, tarian pamungkas yang lahir dari kepasrahan kepada Sang Khalik, Tari Legong Sang Kenya, tarian dari Sang Perawan yang tak ternoda. Jika pada tarian sebelumnya cahaya yang jatuh di panggung hanya dinikmati oleh sang penari, lain halnya dengan tarian kali ini. Cahaya yang menimpa dua penari yang berada tepat di tengah panggung dipancarkan kembali oleh kostum yang dikenakan. Bersinar di tengah gelapnya suasana, mendadak muncul banyak sosok putih dengan segenggam cahaya yang dimiliki mereka. Tujuhbelas orang penari masuk dengan masing-masing cahaya yang mereka bawa dan memberi warna pada panggung. Belum cukup dengan itu saja, muncullah tiga orang penari laki-laki bak raja menambah semaraknya aksi panggung yang sedang digelar. Sosok penari laki-laki dan wanita di sana mengingatkan kami akan sosok Maria dan putra-Nya. Mesias yang datang dari kesederhanaan dan ketaatan iman, itulah sosok yang mampu ditangkap oleh penonton dari berbagai kemunculan yang ada dalam tarian ini.
Pada akhirnya, saat 2 jam sudah berlalu, tidak ada yang menyadari bahwa bulan sudah menggantung cukup tinggi di langit dan petang menjadi semakin larut. Namun bisa dibilang, 2 jam yang sudah dilalui tersebut akan selamanya terpatri dalam benak masing-masing penonton bahwa Sekar Jepun telah sukses menemukan sintesa antara Budaya dan Iman, Legong Sang Kenya. Lugraha Dewi Maria. (DAYC & SIYU)

  kembali