“Budayaku Warnai Indonesiaku, Keep Smile…” itulah jargon acara Parade Gamelan Anak 2013 Universitas Sanata Dharma dengan tema “Budayaku Warnai Indonesiaku”. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis ke-58 Universitas Sanata Dharma yang dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2013 di Kampus II USD Mrican.
Parade Gamelan Anak 2013 kali ini tidak hanya menampilkan kebolehan siswa-siswi SD dalam menabuh gamelan, tetapi juga menghadirkan beberapa lomba, di antaranya lomba mewarnai dan menggambar suasana pentas para peserta parade diatas panggung. Ada tigabelas SD yang berpartisipasasi dalam acara ini, yaitu (1) SD Pagerharjo Samigaluh, (2) SD Negeri Selomulyo, (3) SD Tumbuh 1, (4) SD Tumbuh 2, (5) SD Kanisius Jetis Depok, (5) SD Ngapak 2, (7) SD Somokaton, (8) SD Budi Mulia 2 Sedayu, (9) SD Kanisius Klepu, (10) SD Kanisius Ganjuran, (11) SD Kanisius Kentheng, (12) SD Kasatriyan Surakarta, dan (13) SD Kristen 3 Klaten. Masing-masing SD mengikutsertakan kurang lebih 20 siswa. Ada 3 orang juri yang menilai penampilan para peserta dalam memainkan gamelan. Yang pertama Pak Salin, beliau seorang doktor musik pendidikan yang memahami musik anak dan juga mempelajari psikologi anak. Juri lainnya adalah Pak Budi Pramono, yaitu seorang komposer dan pemilik sebuah sanggar. Beliau juga sering memadukan musik tradisional dengan modern. Kemudian yang ketiga adalah Pak Memet Chairul Slamet, seorang dosen pascasarjana ISI dan kreator musik Gangsadewa.
“Gamelan merupakan alat musik tradisional dari Jawa. Ketika gamelan
dimainkan, maka akan terdengar alunan musik yang dinamis dan biasanya mampu membuat siapapun yang mendengarkan merasa rileks”, tutur Bapak Pardiman sebagai Koordinator Tim Kreatif acara ini. Gamelan merupakan satu kesatuan alat musik yang harus dimainkan oleh beberapa orang. Oleh karena itu dibutuhkan koordinasi antar penabuh agar alunan musik yang dinamis dapat dihasilkan dengan baik. Bapak Pardiman menambahkan pula bahwa alangkah baiknya jika anak-anak bisa mengenal gamelan sejak usia dini. Dari filosofi memainkan alat musik gamelan ini, seorang anak diharapkan mampu belajar berkoordinasi dengan orang lain dan juga bersedia mendengarkan masukan dari orang lain. Hal ini secara tidak langsung dapat membantu dalam pembentukan kepribadian anak-anak. Terjalinnya komunikasi antar pelaku pendidikan (guru, siswa, orangtua siswa) merupakan hal utama yang ingin dicapai melalui acara ini. “Melalui seni, salah satunya dengan acara Parade Gamelan Anak, kami ingin memupuk kembali rasa memiliki, mencintai, dan melestarikan budaya-budaya Indonesia bagi setiap individu, dimulai dari masa ia masih kanak-kanak. Diibaratkan budaya Indonesia (musik gamelan) seperti kapal yang hampir tenggelam karena ada bagian kapal yang berlubang. Di saat itulah pertama kali kami menyadari untuk langsung mengambil tindakan yaitu menambal lubang agar kapal tidak tenggelam (pelaksanaan Parade Gamelan Anak),” ujar Bapak Pardiman.
Melalui acara ini diharapkan anak dapat menjalin keharmonisan antar SD, membantu anak memunculkan rasa humanis, dengan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, empati dan kolektifitas. Hal itu diungkapkan pula oleh Surasak J., Dosen Musik Tradisional, Fakultas Seni, Universitas Srinakharinwot, Bangkok yang berkunjung dalam acara Parade Gamelan Anak 2013. Beliau mengungkapkan bahwa acara ini sangat bagus, karena mampu mengenalkan musik tradisional kepada para siswa dan juga terlihat adanya kerjasama yang baik antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua siswa.
Selain itu dalam acara ini juga terdapat kampung parade, seperti stand dolanan anak dan stand makanan tradisonal. Para siswa yang sudah selesai tampil, bisa berkunjung ke stand dolanan anak untuk melihat dan belajar membuat beberapa macam dolanan anak. Keceriaan para siswa ini terlihat ketika mereka belajar membuat dolanan bersama pengrajin dolanan dari kampung Pandes Bantul. Ada juga stand makanan tradisional yang menyuguhkan dan mengenalkan makanan-makanan tradisional kepada para siswa. Adanya kampung parade ini bertujuan untuk membangun kesadaran anak dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Pelaksanaan acara ini disambut baik dan penuh antusias dari setiap peserta. Terlihat dari raut wajah yang penuh semangat dan senyum lebar ketika menabuh gamelan dan mengunjungi stand-stand yang sudah disediakan panitia.
Untuk menambah semaraknya acara ini, panitia menghadirkan 3 bintang tamu yaitu penampilan dari sanggar tari Kembang Sore, penampilan tari dari siswa-siswa SMP N 3 Bantul dan Plenthong Konlset. Ketiga bintang tamu ini menampilkan tarian-tarian dan musik khas dari budaya Indonesia, yang tentu saja semakin membuka mata kita untuk selalu bangga akan beragamnya budaya Indonesia.
Di akhir acara diumumkan 5 penampilan terbaik dari pentas musik gamelan. Penampilan terbaik ke-5 diraih oleh SD Kanisius Klepu, terbaik ke-4 diraih oleh SD Kanisius Kentheng, terbaik ke-3 diraih oleh SD Kasatriyan Surakarta, terbaik ke-2 diraih oleh SD Kanisius Ganjuran, dan penampilan terbaik ke-1 diraih oleh SD Kristen 3 Klaten. “Acara tahun ini boleh dikatakan sukses dan akan terus dilaksanakan seterusnya demi kelestarian budaya Indonesia. Harapannya di tahun depan jumlah peserta Parade Gamelan Anak bisa bertambah, baik dari segi jumlah sekolah maupun daerah”, tutur Agus Herwanto selaku Ketua Panitia Parade Gamelan Anak 2013. (Dyk & KRS)




