Di sudut teras salah satu wisma, sesosok laki-laki tua tampak serius membaca lembaran kertas TTS (teka teki silang) sembari memegangi pensil. Dari tempat itu juga sejenak ia meletakkan lembaran kertas TTS dan pensil tersebut kemudian bangkit dari tempat duduknya. Sambil tersenyum ia bertanya,”Mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma ya?”. Sapaan hangat itu mengantarkan kami untuk berkenalan secara langsung kepada sesosok laki-laki tua tersebut.
“Kalau ditanya dari asal itu maksudnya gimana ya? Saya bingung kalau ditanya asal karena orang tua saya dari Sumatera kemudian pindah ke
Semarang habis itu saya lahir di Bantul” begitulah respon yang beliau jawab ketika kami bertanya asal asli dari sosok laki-laki tua itu. Beliau ini bernama Arman, lahir pada tahun 1935 dan sekarang memutuskan pilihan untuk tinggal di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Luhur, Kasongan. Layaknya para cucu yang sedang mendengarkan petuah dari kakeknya, kami pun memposisikan diri duduk bersila di lantai teras. Mbah Arman begitu sapaannya menceritakan pengalaman-pengalamannya saat masih muda, ketika era jaman presiden Soekarno, ia pernah menuntut pendidikan lanjut di negeri “Der Panzer” Jerman untuk mengambil jurusan teknik pertambangan. Awal mulanya berasal dari keprihatinan presiden Soekarno karena banyaknya sumber daya alam di Indonesia tetapi kurang bisa dimanfaatkan oleh orang Indonesia, justru direbut oleh pihak asing kala itu. Kemudian tercetuslah ide pada masa awal kemerdekaan, Presiden Soekarno mengutus kelompok mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan pengetahuan tentang pertambangan khususnya eksplorasi di luar negeri. Salah satu mahasiswa yang beruntung adalah Arman, yang berkesempatan untuk menimba ilmu selama 5 tahun dari tahun 1958-1962 di Jerman setelah menyelesaikan studi S1 di Indonesia. Demikian sedikit gambaran salah satu aktivitas kunjungan ke Panti Werdha yang dilakukan oleh 53 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
Kunjungan ke Panti Werdha berlangsung pada hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2013, dilaksanakan di dua tempat yaitu Panti Werdha Hanna di Bintaran dan Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur, Kasongan. Mungkin istilah psikogerontologi masih tedengar asing di telinga masyarakat umum Indonesia. Definisi psikogerontologi secara umum adalah ilmu yang mempelajari permasalahan pada golongan lansia (lanjut usia) khusunya pada aspek psikologi. Adapun tujuan dari kunjungan mata kuliah psikogerontologi ke kedua Panti Werdha bagi mahasiswa adalah : (1) Dapat memahami permasalahan pada lanjut usia, (2) Dapat belajar secara nyata objek mata kuliah psikogerontologi, (3) Dapat menerapkan mata kuliah psikodiagnostika 2 & 3(observasi dan wawancara). Mahasiswa kelas psikogerontologi dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama mendapatkan jatah untuk melakukan wawancara dan observasi di Panti Werdha Hanna dengan jumlah oma sebanyak 40 orang. Sedangkan kelompok kedua mendapatkan tugas yang sama di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur dengan jumlah campuran oma dan opa sebanyak 88 orang. Beberapa panduan pertanyaan yang ditujukan kepada lansia berhubungan dengan ; pengelolaan Panti Werdha, kondisi fisik lansia, kondisi sosial lansia, kondisi psikologis lansia dan kondisi psikososial lansia. Ada hal-hal unik dan menarik yang terjadi di setiap panti ketika dilaksanakan kegiatan antara mahasiswa dan golongan lansia. Di Panti Werdha Hanna, ada dua orang lansia yang ketika diwawancarai oleh mahasiswa kemudian ingin mengekspresikan kemampuan diri melalui nyanyian yakni lagu-lagu daerah Jawa dan lagu rohani. Sedangkan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur tidak kalah serunya dengan suasana di Panti Hanna. Dalam penyambutan mahasiswa, para lansia sedang mengikuti kegiatan seni yang secara rutin dilaksankan setiap hari Sabtu. Lagu-lagu bernuansa campursari dan dangdut yang diiringi organ tunggal mampu membuat para lansia dengan lepasnya menari-nari di depan mahasiswa. Acara menjadi lebih ramai ketika beberapa lansia mengajak beberapa mahasiswa ikut menari-nari dan menimbulkan gelak tawa.
Beberapa mahasiswa menunjukkan rasa antusias dan ketertarikannya dalam mengikuti kegiatan ini. Koleta Yovi, salah satu ketua kelompok mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan berkesan,”Secara pribadi saya mendapatkan berbagai nasihat juga pengalaman hidup yang diberikan oleh eyang-eyang yang berada di Panti Werdha. Selain itu, saya juga bisa melatih kepekaan saya dalam mendengarkan orang lain, khususnya lansia”. Koordinator kegiatan yaitu Laurentius Sandi Witarso menyatakan bahwa kegiatan ini tergolong sukses karena membantu mahasiswa dalam memahami permasalahan nyata kelompok lansia “Tidak hanya teori yang kita dapatkan di kelas saja, namun bagaimana melihat teori tersebut dalam konteks permasalahan yang nyata”. Di samping itu, kunjungan ke dua Panti Werdha ini merupakan pertama kalinya kunjungan yang dilaksanakan secara kolektif pada mata kuliah Psikogerontologi yang diampu oleh dosen Dra. Lusia Pratidarmanastiti, M.Si.
“Pesan saya untuk teman-teman yang masih kuliah ini, supaya sebagai mahasiswa kita harus disiplin diri dalam artian berani untuk konsisten dalam mengambil keputusan, menyaring apa yang baik dan apa yang buruk. Selain itu berpikirlah ke depan! Penting karena jangan lihat enaknya pada sekarang ini saja, tetapi lihatlah juga apa dampaknya ke depan dari tindakan yang dilakukan sekarang”, sedikit pesan yang disampaikan oleh Mbah Arman kepada kami. Berdasarkan tahap perkembangan psikososial menurut Erikson, Mbah Arman termasuk ke dalam tahap integritas dimana ia mampu introspeksi diri, dapat memikirkan kembali keberhasilan pada masa lampau yang berefek pada kepuasan diri di usia senja. (lsw, kyk)




