Studi sastra Inggris di beberapa perguruan tinggi telah mengalami pergeseran dari pembelajaran sastra ke pembelajaran bahasa Inggris. Di satu sisi, hal ini merupakan expansi positif yang mungkin akan memperluas dan membuka wawasan sastra. Di sisi lain, ekspansi ini tidak selalu mengarah pada perspektif kesusastraan dan geografis yang lebih luas. Di beberapa universitas baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara, studi sastra Inggris masih berorientasi pada pendekatan tradisional yang seolah-olah masih belum tersentuh oleh berkembangan teori. Hal ini menjadi perhatian akademisi sastra untuk melakukan konfigurasi ulang sikap mereka dalam studi sastra Inggris.
Dengan latar belakang hal tersebut di atas, pada tanggal 17-18 Oktober 2013, Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, mengadakan konferensi internasional sastra pertama, bertajuk 1st Literary Studies Conference (LSC), yang mengangkat tema Configuring and Reconfiguring English Literature in Southeast Asia (SEA). Acara ini diikuti oleh lebih dari 60 akademisi sastra dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Asia Tenggara.
Tujuan dari konferensi ini adalah sebagai wahana bagi akademisi sastra di Indonesia dan Asia Tenggara untuk mengkonfigurasi ulang sikap mereka dalam studi sastra Inggris. Tujuan ini menjawab pertanyaan sejauh mana studi sastra Inggris di Departemen Bahasa Inggris memerlukan reorientasi arah. Dua hal yang perlu ditelusuri untuk menguraikan masalah ini ialah teori dan kritik sastra dalam konteks Indonesia dan Asia Tenggara.
Konferensi ini dibagi menjadi empat sidang pleno dan empat sesi paralel yang diadakan selama dua hari. Konferensi di hari pertama dibuka dengan sidang pleno yang mengangkat isu Reconfiguring English (Literary) Studies in Southeast Asia yang disampaikan oleh pembicara, Prof. Dr. Melani Budianta, dari Universitas Indonesia. Seusai sidang pleno pertama, para peserta mengikuti sesi paralel satu dan dua yang menyajikan presentasi karya ilmiah para presenter. Agenda di hari pertama ditutup dengan sidang pleno dua, dengan pembicara Lily Rose Tope dari University of the Philippines at Diliman.
Pada hari kedua, konferensi diawali dengan sidang pleno tiga dengan dua topik bahasan; Indonesian Critical Discourse and English Literature: Possible Reconfiguration oleh Paulus Sarwoto, S.S., M.A., Ph. D. yang merupakan dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma dan Island or “In-Continent” Topography; Remapping the Postcolonial Archipelago through an Analysis of Representative Philippine Literature oleh Anne Christine A. Ensomo dari Ateneo de Manila University. Acara dilanjutkan dengan sesi paralel tiga dan empat. Kemudian, sidang pleno empat yang mengangkat topik Thought on A Southeast Asian Approach to Studying English Literature/Literature of English oleh Tony Day menjadi sesi akhir dalam rangkaian acara ini. Konferensi ini ditutup dengan foto bersama para peserta konferensi.
Banyak isu yang dibahas dalam konferensi ini. Beberapa isu utama yang
diangkat ialah mengenai penggalian identitas yang ingin dicapai oleh Departmen Bahasa Inggris dan peluang untuk membentuk suatu identitas sastra di Asia Tenggara yang tidak berkiblat pada teori barat. Selain itu, dalam sesi paralel 33 presenter menyajikan berbagai analisis menarik mengenai sastra dan pendekatan kontemporer seperti poskolonialisme, dekonstruksi, feminism, dan masih banyak lagi.
Terselenggaranya acara ini merupakan wujud perhatian yang mendalam dari Prodi Sastra Inggris USD terhadap perkembangan baik sastra Inggris di Indonesia maupun sastra Indonesia dan Asia Tenggara di mata masyarakat internasional. Acara ini juga merupakan wujud aliansi terpadu antara para akademisi sastra di Asia Tenggara. Harapan seluruh peserta LSC ialah ketika tahun depan konferensi ini diadakan kembali, lebih banyak lagi pemikiran dan perspektif yang dapat dibagi dan dirumuskan demi perkembangan sastra di Asia Tenggara. (SK)




