Kemanusiaan Indonesia dirongrong
Fakultas Pontifikal Teologi Wedabhakti kembali mengadakan serial Seminar Nasional di Kampus Induk Universitas Sanata dharma, Mrican, Selasa 22/10. Seminar yang bertajuk “Sila II Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” ini menghadirkan empat narasumber yang telah lama bermain di dalam diskursus praktis dunia kemanusiaan. Ibu Suciwati (istri almahrum pejuang HAM Munir dan aktivis HAM), bpk. Usman Hamid (perwakilan KONTRAS), bpk. Ifdhal Kasih (ELSAM), dan Rm. Dr. Purwahadiwardaya MSF hadir dalam seminar sebagai narasumber dan seminar dimoderatori oleh Rm. Dr. Bagus Laksana SJ.
Seminar ini dilangsungkan dengan dinamika yang baru dan lebih mencair. Tidak ada presentasi makalah. Mekanismenya, moderator melemparkan pertanyaan dan gugatan kemudian ditanggapi oleh para narasumber. Rm. Bagus selaku moderator membuka diskusi ini dengan gugatan mendasar yang kemudian menjadi titik tolak perkembangan diskusi, “Apakah kemanusiaan sebagaimana dimaklumkan sila II Pancasila masih relevan dan diapresiasi oleh negara Indonesia?”
Menanggapi pertanyaan ini, ibu suciwati mendapat kesempatan pertama untuk berkomentar. Baginya, fenomena impunitas tengah marak di bangsa tercinta ini. Banyak kasus penggaran HAM didiamkan. Bpk. Ifdhal kemudian mengafirmasi pernyataan bu Suci, sapaan akrabnya, dengan menunjukkan contoh komparasi pengubrisan terhadap kasus pencurian sendal di salah satu Masjid di Aceh dan pembisuan terhadap kasus-kasus korupsi besar. Bpk. Usman menanggapi gugatan ini dengan menunjukkan tiga dimensi kemanusiaan sebagaimana diungkapkan oleh Dryakara: diri sendiri, sosial, dan Tuhan. Menurut aktivis KONTRAS ini, ada dua hal yang bercokol di dalam diri manusia, yakni harapan dan ketakutan. Kedua hal ini memiliki kebutuhan yang sama, kemanusiaan. Tantangan kita adalah bagaimana menegosiasikan kemanusiaan ini. Romo Purwa kemudian menyingkapkan bahaya penindasan kelompok kuat (penguasa, mayoritas) terhadap yang lemah (rakyat miskin, minoritas).




