Association of Indonesian Montessori Schools (AIMS) bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan sebuah konferensi dengan tema “Embracing Montessori” pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 28-29 September 2013 di Universitas Sanata Dharma. Kerjasama ini dikoordinir oleh Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), yaitu Ibu Elisabeth Desiana Mayasari, M.A. selaku dosen pembimbing klub Montessori dan salah satu pengurus AIMS, beserta 21 mahasiswa yang tergabung dalam klub Montessori PGSD USD.
Acara ini dibuka oleh Rektor Universitas Sanata Dharma Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, S.J., dan dihadiri oleh Kaprodi PGSD G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST, M.A., beberapa dosen PGSD dan tentunya anggota AIMS yang berasal dari seluruh Indonesia seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bogor, Makasar, Jakarta, Pekanbaru, Riau, Bali, dan beberapa negara lain seperti Malaysia, Australia, dan Afrika Selatan dengan jumlah total 109 peserta.
AIMS terbentuk karena kerinduan beberapa orang terhadap perkembangan sekolah montessori yang mengutamakan pendidikan sesuai dengan perkembangan anak. AIMS menjadi wadah bagi sekolah-sekolah montessori yang ingin melakukan pengembangan melalui konferensi, penelitian, dan perumusan kebijakan bersama, sehingga wadah ini dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan yang besar bagi setiap orang yang menerapkan metode montessori dalam kehidupannya.
Ketua pelaksana Yulvita Angkuw yang merupakan salah satu anggota dari AIMS menjelaskan bahwa konferensi ini terselenggara pertama kali di Jakarta pada tahun 2012, dan yang kedua kalinya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada. Melihat minat peserta yang sangat besar terhadap acara tersebut maka acara ini akan terus diselenggarakan paling tidak dua tahun sekali. Acara ini memfasilitasi setiap peserta dari berbagai kota untuk saling berkomunikasi, bertukar pendapat, pengalaman, ilmu, ataupun cerita, sehingga penerapan metode montessori tetap sesuai dengan filosofi Maria Montessori.
Keynote Speaker dalam acara ini adalah Sharon Caldwell seorang pendiri Nahoon Montessori School, Christine Harrison Kepala Sekolah Canberra Montessori School di Australia dan Kanjeng Pangeran Haryo H Wironegoro seorang Pendiri Yayasan Edukasi Anak Nusantara. Kemudian dalam breakout sessions ada beberapa presenter yang membawakan topiknya masing-masing yaitu Christin Harison yang membawakan topik School Leadership-Embracing Montessori-Bringing Parents on the Montessori Journey, Montessori in practice-The Montessori dan Montessori in Public Schools-Challenges and success. Sharon Caldwell dengan topiknya Why is there no explosion into writing and reading in our classrooms, mixed ages dan control of error in the montessori context. Kemudian Gayle Escanillas menjelaskan tentang the neurology of Montessori dan catch them before they fall an overview of development disabilities. Kemudian Andri Anugrahana dengan tembang campursari (Tempat Bimbingan Belajar Montessori), Poonam Nanwani dengan multi age classrooms and exercises of practical life, Yulvita Angkuw dengan topiknya Building critical thingking skills in the montessori context, Carol Engmann dengan topiknya teacher as facilitator, Lely Tobing membawakan Method and materials that are timeless, Desiana Mayasari dengan topiknya The Implementating Montessori in Remote Area, Ivy Mayasavitri dengan topik A brief introduction towards to the montessori method, Rozana Daecyanti membawakan topik Spirituality in Montessori Practice dan yang terakhir adalah Darin Bicknell dengan topiknya Prepared Environment.
Setiap pembicara maupun peserta dapat saling bertukar pengalaman terkait dengan pembelajaran Montessori dari berbagai kota dan negara yang berbeda. Mereka saling bertukar ilmu maupun informasi sehingga pengetahuan dan rasa kebersamaan mereka semakin kuat untuk semakin yakin dalam menerapakan pembelajaran Montessori. Montessori menerapkan prinsip absorbent mind yang meyakini bahwa proses berfikir alami dari anaklah yang akan membantu anak untuk memahami segala sesuatu di dunia ini. Proses alami ini dapat menghilangkan tuntutan-tuntutan yang membatasi diri anak. Yulvita Angkuw mengungkapkan bahwa tantangan besar dalam penerapan pembelajaran montessori bagi sekolah di Indonesia adalah adanya kurikulum yang membatasi kegiatan belajar mengajar anak. Sementara dalam pembelajaran montessori yang paling utama adalah kebebasan, yaitu anak bebas memilih akan belajar apa dan dalam waktu berapa lama sehingga anak merasa nyaman. Kemudian pembelajaran montessori menggunakan material-material yang tidak memungkinkan jika harus mencakup semua materi yang ada dalam kurikulum di Indonesia.
Setiap peserta terlihat antusias untuk mengikuti setiap perbincangan dalam breakout sessions, bahkan beberapa dari mereka mengungkapkan bahwa waktu yang diberikan masih sangat kurang. Anggota AIMS mengharapkan acara ini dapat terselenggara secara rutin sehingga mereka dapat melakukan pengembangan bagi sekolah Montessori yang ada di berbagai kota dengan efektif dan efisien karena adanya koordinasi yang baik antar anggota AIMS. (&yk-stefi)




