USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Mapasadha Adakan Jelajah

diupdate: 13 tahun yang lalu


Kegiatan Jelajah merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam Sanata Dharma (Mapasadha) sebagai bentuk eksistensi di bidang kepecintaalaman. Tujuan Jelajah tahun ini adalah Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mapasadha mengirimkan satu tim yang terdiri dari empat mahasiswa aktif Universitas Sanata Dharma, yaitu Maria Audrey Marjorie atau Celnah (Psi 2012), Abraham Barkah Iskandar atau Kosak (Psi 2011), Filipus Bhakti Wirayuda atau Kocor (PGSD 2011), dan Yoannes Arif Prakoso atau Jalang (PAK 2009). Tim meninggalkan Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus 2013, jam 21.00 WIB dengan menumpang Bis tujuan Surabaya.
Setelah melalui perjalanan cukup panjang, akhirnya pada tanggal 17 Agustus 2013, tim Jelajah tiba di kampung Torean. Di Torean tim melakukan sosialisasi dan beramah-tamah dengan warga sekitar. Torean adalah sebuah dusun yang terletak di Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Jalur Torean banyak digunakan oleh pendatang dari luar desa untuk menuju ke pemandian air panas, Danau Segara Anak untuk mengadakan ritual keagamaan. Ritual keagamaan ini biasanya dipimpin oleh seorang Pemangku (sesepuh). Warga yang ingin melakukan ritual, harus pergi bersama Pemangku yang dipercaya untuk ‘membukakan pintu’ kepada para leluhur.
Dalam perjalanan menuju Danau Segara Anak melalui jalur Torean, tim bertemu dengan rombongan orang yang sedang beribadah di depan air terjun Panimbungan. Mereka menaruh sesaji di atas sebuah batu dan berhenti lama di sana untuk berdoa. Menurut informasi yang tim dapatkan, air terjun Panimbungan merupakan pintu masuk pertama sebelum naik ke atas. Jadi, Pemangku menaruh sesajen dan berdoa untuk memohon keselamatan baik saat berangkat maupun saat turun nanti. Sebelum sampai di Segara Anak, rombongan akan melewati pengkreman, sebuah pemandian air panas di dekat Goa Susu. Orang yang mandi di sini dipercaya akan sembuh dari segala penyakit yang dideritanya.
Tim memulai pendakian tanggal 18 Agustus 2013. Jalur yang dilalui tim Jelajah adalah Torean – Segara Anak – Plawangan Sembalun – Puncak kemudian turun melalui Plawangan Sembalun – Segara Anak – Plawangan Senaru – Senaru. Torean merupakan salah satu jalur pendakian Rinjani. Jalur Torean merupakan jalur yang paling singkat yang biasa digunakan warga setempat untuk pergi ke Danau Segara Anak. Berbeda dengan jalur Sembalun dan Senaru yang ramai dilalui para pendaki, jalur Torean jarang dilalui para pendaki karena medan yang harus ditempuh lebih sulit dan sering longsor. Namun, pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan sangat indah, sehingga keringat dan rasa lelah yang tim rasakan terbayar. Sebelum memasuki jalur pendakian yang sesungguhnya, tim melewati pemukiman warga, ladang pertanian warga, dan wilayah hutan. Di perjalanan, tim melalui banyak air terjun, salah satunya air terjun Panimbungan yang disebut di atas, sungai Lokok Putih, dan Goa Susu. Hal unik yang ditemukan di perjalanan dan mungkin tidak ditemui di jalur lain adalah adanya tangga yang terbuat dari potongan kayu untuk membantu naik dan turun.
Pada tanggal 21 Agustus 2013, tim berangkat ke puncak. Untuk mencapai puncak, tim harus melewati Plawangan Sembalun, ‘pintu menuju puncak’. Barang-barang bawaan ditinggal di Plawangan Sembalun karena medan yang akan ditempuh tidak memungkinkan pendaki untuk membawa bawaan berat. Perjalanan ke puncak dimulai dini hari karena tim ingin mengejar sunrise di puncak. Perjalanan yang dilalui lumayan berat karena medannya berupa pasir dan batu; rasanya seperti ‘berjalan di tempat’. Tidak semua anggota tim mencapai puncak, hanya dua orang yang berhasil mencapai puncak. Hal ini dikarenakan salah satu dari tim tidak kuat menahan hawa dingin dan seorang lagi harus menemani turun. Saat itu cuaca memang cukup ekstrim karena hampir saatnya bulan purnama. Angin bertiup sangat kencang; semakin naik, semakin kencang. Banyak pendaki lain yang akhirnya juga memutuskan untuk turun. “Aku tadi merangkak kok, ke puncaknya,” ujar salah seorang pendaki dari Semarang yang kala itu tetap melanjutkan perjalanan ke atas. Semakin mendekati puncak, medan yang ditemui tinggal pasir saja. Pukul 8.45 WITA, akhirnya tim mencapai puncak. Dari puncak, tim bisa melihat seluruh Pulau Lombok, Pulau Bali dengan Gunung Agung-nya, dan Gunung Tambora. Indah sekali.
Setelah puas berfoto dan merasa cukup beristirahat, tim turun kembali ke campdi Plawangan Sembalun. Perjalanan turun tidak terlalu menguras tenaga. Tim bisa dengan santai menikmati Danau Segara Anak di sisi kiri tim. Setelah sampai di Plawangan Sembalun, tim langsung melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anak dan kembali bermalam di sana.
Tempat favorit para pendaki ketika mendaki Gunung Rinjani adalah Danau Segara Anak. Danau ini bagaikan surga bagi para pendaki dan biasa digunakan sebagai tempat bermalam. Ikan di sungai ini bebas dipancing. Bukan hanya para pendaki yang menginap di sini, tetapi juga warga desa sekitar. Tim bahkan bertemu dengan warga Desa Sembalun yang memang sengaja mendaki hanya untuk menginap di Danau Segara Anak. Udara yang dingin setiap malam tidak menyurutkan keinginan mereka untuk bermalam; terbukti warga Sembalun yang tim temui tersebut sudah berada di sana selama 8 malam.
Tim mulai melakukan perjalanan turun pada tanggal 22 Agustus 2013 melalui jalur Senaru. Berbeda sekali dengan jalur Torean, di jalur Senaru setelah melewati hutan, medan yang ditempuh hanya pasir. Waktu itu tim tiba di Plawangan Senaru sudah sore. Angin bertiup sangat kencang dan udara dingin sehingga tidak tahan berdiam lama-lama. Tim harus mengenakan penutup wajah agar terlindung dari debu. Ternyata hari keburu malam, sehingga tim tidak melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk bermalam di pos 2. Keesokan harinya, tim menyelesaikan perjalanan tim dan mengakhirinya di pintu masuk Senaru.
Tim tidak percaya tim baru saja melalui perjalanan panjang luar biasa di luar Pulau Jawa. Tentu saja proses yang tim lalui tidak mudah untuk bisa sampai di sana. Persiapan yang dilakukan tidak singkat. Begitu juga ketika pelaksanaan di lapangan. Banyak selisih pendapat yang terjadi, dan sifat asli tim keluar. Inilah tantangan paling berat, tim harus mengesampingkan sifat egois tim dan mengutamakan tim, memperhatikan orang lain. Tim harus bisa mengalahkan diri tim sendiri. Di samping itu, bertamu ke Torean merupakan hal yang mengesankan. Tim bertemu dengan penduduk yang memiliki latar belakang dan status sosial yang berbeda, masyarakat dengankebudayaan dan adat yang masih kuat. Perbedaan bahasa yang tim gunakan juga merupakan tantangan karena di sinilah tim belajar untuk saling mendengarkan dan mengerti maksud masing-masing. Banyak pelajaran yang dapat tim ambil dari kegiatan Jelajah ini. Dan besar harapan tim, pelajaran-pelajaran tersebut tidak lantas dilupakan begitu saja, namun bisa tim terapkan dalam masyarakat karena mereka (masyarakat) mengirim tim, maka tim harus kembali ke mereka. (celnah)

  kembali