Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan bedah buku yang berjudul “Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban” yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas. Acara ini berlangsung pada hari Sabtu (14/10) di Ruang Koenjono Gedung Administrasi Pusat USD. Kerinduan yang dituangkan oleh para penulis lewat buku yang dibedah tersebut adalah untuk membangun beradaban manusia melalui pertanian dalam kesatuan dengan alam semesta sebagai ungkapan rasa tanggungjawab pada generasi pendahulu dan yang akan datang. Dalam buku ini, pada Bab I mengajak melihat pertanian kita sebagai wilayah yang vital, wilayah yang sedang mengalami kehancuran, kurang mendapat perhatian, dan merupakan sesuatu yang riskan kalau tidak diperhatikan secara sungguh-sungguh. Bab II, para ahli bicara dari segi tanah, nama penyakit, bibit, dan soal yang spesifik tentang pertanian yang menggambarkan suatu hal yang riil, yang bergerak sangat dinamis di sektor pertanian. Bab III, para filsof mau mecoba membantu kita untuk melihat lebih dalam bagaimana membangun sebuah budaya dari kegiatan pertanian. Demikian antara lain kata pengantar yang disampaikan oleh Rektor USD Romo Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, SJ dalam mengantar acara bedah buku dimulai. Bedah buku dalam rangka Peringatan Dies Natalis ke-51 Sanata Dharma ini dihadiri oleh sekitar 150 orang pemerhati pertanian, dimoderatori oleh Drs. Titus Odong Kusumajati, MA, dengan menghadirkan tiga pembahas dari kelompok Pusat Studi Lingkungan Hidup, kelompok Ekonomi Kerakyatan, dan kelompok Tani Amrih Lestari Kulon Progo yaitu masing-masing Dr. Eko Sugiharto; Antonius Budisusila, SE, SOC.SC; dan C. Herny Saraswati. Dr. Eko Sugiharto, dalam pembahasannya menyampaikan bahwa Buku ini memberikan penalaran yang logis, masuk akal, dapat diterapkan untuk merevitalisasi pertanian di negara kita tercinta ini. Kelihatannya buku ini tidak untuk dicerna oleh para petani penggarap, pemilik lahan, pamong desa. Buku ini kaya akan filosofi bagaimana agar para eksekutif, para legislatif, dan pengambil keputusan (terutama tingkat kabupaten, kota), serta para cendekiawan memahami bahwa pertanian di Indonesia saat ini perlu direvitalisasi. Dalam makalahnya yang berjudul “Perempuan Sebagai Produsen dan Konsumen dalam Pertanian”, C. Herny Saraswati memaparkan bahwa upaya mendapatkan informasi yang benar baik mengenai pola produksi maupun pola konsumsi perlu dibangun kesadaran kolektif melalui wadah atau organisasi-organisasi dalam masyarakat baik formal maupun non formal dengan melibatkan peran perempuan, sehingga memiliki kekuatan terhadap pelaku usaha dan kebijakan pemerintah agar mendukung upaya tersebut. Untuk mendapatkan informasi bahan-bahan makanan yang sehat, perlu dibangun kerjasama antara konsumen dan produsen, salah satunya melalui kelompok atau Paguyuban Tani Lestari. Sementara itu, Antonius Budisusila, SE, SOC.SC menyampaikan bahwa beberapa kata kunci yang penting dalam usaha memahami buku ini adalah keberpihakan, masalah kelembagaan dan masalah pemberdayaan petani, serta masalah ekspresi kebudayaan. Akhirnya, buku ini memaparkan tentang potensi dan sekaligus impotensi bagi penegakan hak asasi petani.




