Selasa, 24 September 2013, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma menggelar Seminar Nasional di Ruang Koendjono, lantai 4 Kampus 2 USD Mrican. Seminar Nasional ini bertajuk pandangan tentang Driyarkara terhadap Pancasila dan nilai-nilai yang coba dibangun dan ditawarkan oleh para founding fathers bangsa kita saat itu. Hal tersebut merupakan latar belakang diadakan Seminar Nasional oleh Fakultas Teologi USD dalam menggali upaya keterlibatan Gereja terhadap masalah-masalah politik di Indonesia. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 180 orang peserta, tidak hanya dari civitas academica Fakultas Teologi USD, tetapi juga peserta dari luar yang berminat dan tertarik dalam menggali nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam pemikiran founding fathers dan pandangan Driyarkara dalam ranah filsafat dan teologi.
“Acara ini adalah pembukaan dari serangkaian Seminar Nasional bulanan yang tiap tahun diadakan Fakultas Teologi USD. Memang Seminar pada Tahun Akademik ini agak berbeda fokus dan kemasan dari seminar-seminar bulanan pada tahun sebelumnya. Pada Seminar Nasional tahun ini, Fakultas Teologi USD ingin membuka tempat bagi keterlibatan orang di luar civitas academica semakin banyak dengan harapan ilmu-ilmu atau informasi-informasi yang coba digali bersama di setiap Seminar Nasional tidak menjadi konsumsi bagi Fakultas Teologi USD saja tetapi justru mampu didapat dan diinternalisasikan kepada semakin banyak orang. Bukankah sudah layak dan sepantasnya ilmu dan pengetahuan yang ada perlu dibagikan dan disebarkan kepada semakin banyak orang sebagai cita-cita bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa? Maka pada serangkaian Seminar Nasional pada tahun ini, tema Seminar Nasional setiap bulannya dikemas lebih umum dan tempat pelaksanaannya pun dibuat di luar Fakultas Teologi USD.” demikian diungkapkan oleh Koordinator Seminar Nasional, Fr. Fikalis Rendy Aktor, mahasiswa Fakultas Teologi USD semester 5.
Narasumber dalam Seminar Nasional ini adalah bapak Yudi Latif, MA. PhD, dosen Paramadina dan bapak Hary Tjan Silalahi dari Centre for Strategic and International Studies. Yang menjadi penanggap pada Seminar Nasional bulan ini adalah Rm. Dr. FX. Baskara T. Wardaya, SJ dari Universitas Sanata Dharma dan Rm. A. Widyarsono, MA, SJ dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan dimoderatori oleh Rm. Dr. Y.B. Prasetyantha, MSF dari dosen Fakultas Teologi USD yang memandu dan memimpin jalannya Seminar Nasional. Maksud dan tujuan dengan kehadiran dua penanggap ini adalah memberikan catatan-catatan kritis terhadap pandangan dua narasumber tersebut sehingga ilmu dan informasi yang didapatkan dan diinternalisasikan lebih up to date dan bermanfaat bagi semakin banyak orang.
Sebagai narasumber pertama, bapak Yudi Latif, MA. PhD membandingkan pandangan Soekarno sebagai perwakilan dari founding fathers dan pandangan Driyarkara. Diungkapkan olehnya bahwa Soekarno menggunakan pendekatan Pancasila induktif, historis, dan sosiologis yang pada intinya adalah benar-benar menggali alam pikir Indonesia dan khas Indonesia. Refleksi rumusan Soekarno tidak berangkat dari bangsa Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajahan, tetapi refleksi Soekarno dalam merumuskan Pancasila dimulai sejak Soekarno berjuang ketika bangsa Indonesia dijajah. Maka dari situ, tentu pengaruh bangsa lain tidak bisa lepas dan semangat dan paham kebangsaan dari Soekarno sendiri adalah gotong royong. Sedangkan dari Driyarkara sendiri menggunakan pendekatan deduktif, filsafat humanis, dan teologis dalam merefleksikan nilai-nilai Pancasila. Diungkapkan oleh bapak Yudi Latif, MA. PhD, Driyarkara mau mengembangkan nilai-nilai Pancasila bukan sekedar rumusan dogmatis tetapi sebagai panduan atau arah bangsa Indonesia. Bertitik tolak dari refleksi Pancasila tersebut, Driyarkara mau mengangkat moral kemanusiaan yang lebih universial. Maka semangat dan paham kebangsaan dari Driyarkara adalah cinta kasih. Kedua orang itu saling melengkapi antara Driyarkara dan Soekarno, yaitu Driyarkara alter ego dari Soekarno.
Sebagai narasumber yang kedua, Hary Tjan Silalahi mengungkapkan bahwa berbicara tentang pancasila bukan berarti kita harus melulu menengok ke belakang, tetapi usaha dan perjuangan kita untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut sehingga selalu kontekstual pada jaman sekarang, ddanya usaha “penulisan kembali” dalam konteks jaman sekarang. Baik Soekarno maupun Driyarkara dalam ungkapan Hary Tjan Silalahi sebaiknya memiliki pandangan yang memprioritaskan sila bukan sila pertama, tetapi justru sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Keadilan Sosial inilah yang sepantasnya menjadi tujuan kehidupan bersama bangsa Indonesia.
“Semoga dengan adanya serangkaian kegiatan Seminar bulanan pada tahun ini, semakin membuka cakrawala dan membakar semangat kebangsaan kita agar selalu up to date dan kritis dalam membina kehidupan bangsa yang semakin lebih baik. Berangkat dari berbagai pemikiran Driyarkara yang selalu khas dan kontekstual dalam menggali semangat kebangsaan kita, kita berusaha untuk mencoba menggali dan menyoroti masalah-masalah politik Indonesia sebagai sumbangsih eksistensi kita sebagai kaum pemikir dan cendikiawan.”, ungkap Rm. Heru Prakosa, SJ, dosen Fakultas Teologi USD di akhir acara Seminar Nasional bulan ini. (FXAP)




