USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

KEKRISTENAN DAN KOLONIALISME DALAM KARYA SASTRA

diupdate: 13 tahun yang lalu


Ada beberapa perdebatan di kalangan misionaris, antropolog, sejarahwan, dan para kritikus budaya tentang hubungan Kekristenan dan kolonialisme. Kekristenan dalam  beberapa kasus menjadi kepanjangtanganan kolonialisme atau sebagai “the religious arm of colonialism” karena kedua hal tersebut memiliki misi yang hampir sama, yaitu mengubah dunia non-Eropa menjadi lebih beradab. Di sisi lain Kekristenan tidak bisa dikaitkan dengan kolonialisme sebab Kekristenan dan penyebarannya melalui misi sudah ada dan sudah dilakukan jauh sebelum ekspansi bangsa Barat dan kolonilaisme. Bahkan, beberapa misionaris berpendapat bahwa Kekristenan di beberapa negara jajahan justru memberikan perlawanan dan kritikan yang tajam terhadap proyek kolonialisme. Bagaimana sebenarnya hubungan Kekristenan dan kolonialisme dapat diformulasikan dibahas oleh Tatang Iskarna (dosen Sastra Inggris Universits Sanata Dharma) dalam makalahnya yang berjudul “Christianity and Colonialism in (Post) Colonial Literature”  pada seminar internasional “The First Conference on Language, Literature, and Cultural Studies” yang diadakan oleh Department of Western Language, Faculty of Humanities and Social Science, Burapha University, Chonbury, Thailand di A-One Royal Crusie Pattaya, 22 – 24 Agustus 2013.
Dengan menggunakan data teks-teks sastra kolonial dan poskolonial, Tatang menyatakan bahwa hubungan Kekristenan dan kolonialisme tidak sesederhana yang diperdebatkan. Menurut Tatang memang benar bahwa dalam salah satu teori poskolonial Kekristenan identik dengan kolonialisme dalam hal konsep polarisasi identitas Barat dan Timur yang bersifat biner, yaitu beradab dan bar bar dengan “believer” – “heathen”. “Namun demikian, perlu diingat bahwa kolonialisme yang memakai kedok “proyek pemberadaban” tidak sama persis dengan penyebaran agama Kristen (Katolik). Dalam peristiwa konversi ke Kekristenan jelas terdapat rasionalisasi dan subyektivitas dan pertimbangan yang bersifat pribadi yang tidak bisa dipaksakan secara politik”, tegas Tatang dalam temuan-temuan yang dia pelajari dari teks-teks sastra. Dalam teks-teks tersebut, sebagian masyarakat terjajah mampu memisahkan Kekristenan dan kolonialisme. Bahkan, tokoh-tokoh kulit putihpun juga memberikan kritikan yang tajam terhadap kolonialisme, termasuk para misionaris. Justru yang terjadi bukan pemberadaban orang terjajah dengan cara mengadopsi budaya Barat termasuk agama Kristen, namun percampuran identitas lokal dan Barat yang disengaja untuk memberikan perlawanan.

Seminar internasional ini diikuti oleh sekitar lima belas negara, antara lain USA, UK, China, Malaysia, Thailand, Cambodia, Myanmar, Laos, Taiwan, Singapore, Indonesia, Rusia, Iran, dan Libya. Tiga bidang ditawarkan dalam seminar ini, yaitu linguistik, sastra, dan budaya dengan tujuan untuk mengidentifikasi isu-isu aktual yang terjadi di negara-negara non-Inggris yang terkait dengan pembelajaran bahasa, sastra, dan budaya. Seminar ini menghadirkan dua keynote speaker, yaitu  Professor Martha Young-Scholten dari Newcastle University, United Kingdom  dan Professor Ronald Strickland, Michigan Technological University, U.S.A. Seminar ini diikuti oleh sekitar duaratus peserta dengan seratus sembilan puluh pemakalah. (Humas USD)

  kembali