USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dari Pelatihan Menulis Artikel dan Resensi Perpustakaan USD:
MENULIS OPINI MENGASAH KETRAMPILAN

diupdate: 13 tahun yang lalu


”Menulis opini dan resensi dapat menjadi sarana mengasah ketrampilan sesuai dengan kecenderungan kerja otak manusia”, demikian antara lain benang merah  Pelatihan Menulis Artikel dan Resensi yang diselenggarakan Perpustakaan USD, Jumat (30/8) di ruang Maulana. Tidak kurang dari 26 staf Perpustakaan USD, termasuk di antaranya pustakawan fungsional mengikuti pelatihan ini. Perpustakaan USD mengundang dosen senior jurusan Sastra Indonesia USD yang kaya akan pengalaman penulisan, Dr. Yoseph Yapi Taum sebagai pelatih. Beliau adalah pegiat sastra dan peneliti. Karya-karyanya telah tersebar di banyak media. Pelatihan ini sengaja diselenggarakan oleh Perpustakaan USD sebagai wahana pengembangan SDM perpustakaan dengan harapan staf memiliki skill dalam penulisan gagasan dalam bentuk artikel atau resensi. Nantinya diharapkan hasil tulisan dapat mengisi media-media yang ada di lingkungan USD seperti buletin Info Persadha, Veritas Warta Kampus, dll. Dan bilamana mungkin dapat menghiasi media-media terbitan di luar kampus USD.
Tiga Sesi: The Easy Essay
Pak Yapi, demikian namanya akrab dipanggil, membawakan pelatihan atau workshop ini dalam tiga sesi. Pertama, beliau memberikan tes yang disebutnya Tes Kemampuan Kerja Otak. Tes ini dimaksudkan agar peserta memahami kemampuan kerja otaknya: apakah kekuatan otak kanan atau otak kiri yang lebih banyak bekerja selama ini. Melalui tes kemampuan kerja otak ini dapat diketahui pendekatan yang paling baik dalam bidang penulisan. Setelah tes selesai dilakukan, kepada peserta diberikan materi The Easy Essay yaitu penulisan esai yang mudah, di mana metode ini mengenalkan prinsip The Five Paragraph  Essay. Prinsip kunci dalam penulisan ini berisi pokok-pokok gagasan yaitu The Magic of Three (kekuatan tiga), merumuskan tesis, dan menulis dengan outline 1-3-1.
Pada sesi kedua, pelatih memaparkan langkah-langkah praktis dalam penulisan artikel/esai, yaitu tahap pengumpulan data berupa pencarian sumber-sumber data dan pembuatan annotated bibliography. Hal ini sangat penting dilakukan oleh para penulis supaya tulisan mempunyai basis data yang jelas. Selanjutnya adalah tahap penulisan: teknik membuka tulisan, teknik penulisan isi, teknik pengembangan paragraf, dan teknik menutup tulisan. Menutup sesi ini pelatih memberikan dua tugas pekerjaan rumah berkaitan catatan pustaka dan teknik-teknik penulisan.
Menulis Resensi Menimbang Buku
Penulisan resensi atau timbangan buku adalah materi sesi ketiga. Resensi atau timbangan buku lebih dimaksudkan untuk mengkritisi buku dari segi data buku, isi tulisan pengarang, fisik buku, juga kekuatan atau kelemahannya. Dengan mengkritisi sebuah buku, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan, dan membagi tulisan resensi di media akan bermanfaat baik bagi peresensi ataupun pembaca resensi. Ketersediaan resensi sebuah buku di media cetak atau online akan memudahkan pembaca dalam mengambil keputusan perlu tidaknya meneruskan membaca buku tersebut. Resensi dapat dimaksudkan sebagai informasi buku dan menggiring opini pembaca akan buku yang diresensi tersebut. Diterbitkannya sebuah resensi akan memperkaya soft skill penulisan. Sebelum meresensi sebaiknya terlebih dahulu memahami mengenai konvensi penulisan resensi. Agar tulisan resensi dapat dimuat di media penulis juga harus mengerti karakteristik masing-masing media yang dituju. Pada akhir sesi pelatihan Pak Yapi kembali memberikan pekerjaan tambahan bagi semua peserta yaitu menulis resensi.
Konon telah banyak diucapkan dan didengungkan bahwa pengalaman itu berharga dalam hidup. Bermilyar sel yang mengisi otak manusia telah menjadi drive pengalaman setiap hari sedari manusia bangun dari tidurnya, namun demikian banyak orang yang hanya memanfaatkannya sebagai tempat menyimpan data belaka. Drive itu berisi rencana-rencana, catatan kerja, catatan pergaulan dan keluarga, pengalaman bersikap, pengalaman bertutur kata, pengalaman menulis, pengalaman berlatih, memori pertemuan, ide yang sudah terlaksana, dan bahkan berisi gagasan-gagasan brilian yang belum atau minta diwujudkan. Sebaiknyalah bila kita tidak hanya memelihara memori angan-angan, tetapi mengolah pengalaman, menuangkannya dalam wujud sebuah tulisan dan berbagi kepada orang lain, dan ini menjadikan pengalaman sangat bernilai. Inilah sebagian kecil praktik kecerdasan dan humanisme dalam karya di USD yang patut atau terus dialami oleh kita, juga para punggawa perpustakaan yang dekat dengan sarana sumber-sumber belajar. Pada akhirnya, kesadaran mengalami praktik menulis tentu akan menuai pengalaman yang tidak akan lekang, bahkan memungkinkan masih dapat dinikmati oleh generasi pasca pensiunnya sebuah usia seseorang. (dz)

  kembali