Pramoedya Ananta Toer, sepanjang sejarah kepengarangannya yang hampir 60 tahun, menurut Martin Aleida telah melampaui tiga gunung metode bercerita. Pertama, metode realisme jurnalistik, metode realisme kerakyatan, metode realisme imajinatif. Pendapat itu dikemukakan Martin dalam forum apresiasi : “Jejak Langkah : Mengenang Hidup dan Ekspresi Sastra Pramoedya Ananta Toer”. Yang berlangsung di bawah “Beringin Soekarno” Komplek Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma, selasa (26/09) yang diselenggarakan oleh Pusat Sejarah dan Etika Politik USD. Lebih jauh Martin bercerita metode realisme jurnalistik Pram terlihat pada karya-karya awalnya baik novel maupun kisah-kisah pendek. Karyanya “Bukan Pasar Malam”, merupakan karya yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Pram dengan ayahnya. Karya-karyanya yang lain seperti “Di Tepi Kali Bekasi”, “Mereka Yang dilumpuhkan”, “Keluarga Gerilya”, merupakan karya realisme, yaitu pengungkapan realitas dengan memberikan nilai baru pada fakta dan membawanya ke tataran nilai kemanusiaan yang lebih tinggi. Metode realisme kerakyatan, yang ditempuh Pram pada masa pasca perjuangan kemerdekaan, di mana Pram terjun ke dalam dunia politik (kesusastraan) pada awal tahun 1960-an. Keterlibatannya dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) telah mendorongnya untuk, paling tidak, mencoba menulis karya sastra kreatif untuk kepentingan politik (kerakyatan) dengan antara lain menggunakan metode “turun ke bawah”. Suatu ketika Pram berangkat ke daerah Banten dengan menyelipkan pistol di pinggangnya, karena DI/TII masih berkeliaran. Pram “turun ke bawah” untuk merasakan denyut nadi petani miskin yang diperas oleh sistem pemilikan tanah dan bagi hasil yang tidak adil, maka lahirlah novelnya, “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”. Pada masa di mana politik nasional bertumpu pada perlawanan terhadap penindasan terhadap rakyat dan penggalangan semua kekuatan politik yang progresif untuk melawan imperialisme dan kolonialisme, pada waktu itu, Pram menulis cerita pendek simbolis, “Paman Martil”. Sedangkan metode realisme imajinatif, menurut Martin merupakan metode penulisannya yang terpenting, yang merupakan sintesa dari dua metodenya yang terdahulu. Disini, Pram bergumul dalam kenyataan-kenyataan imajinatif. Imajinasi yang membayang dari bahan-bahan hasil riset yang dia lakukan bertahun-tahun, yang bertalian dengan sejarah tumbuh berkembangnya nasionalisme Indonesia, dengan bantuan para mahasiswanya dari Universitas Res Publica (yang berubah menjadi Universitas Trisakti). Pembicara lain yang hadir dalam forum apresiasi ini adalah Katrin Bandel yang mengangkat tentang tokoh Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh, sebuah intertekstualitas pascakolonial. Pembicara ketiga ialah seorang penulis muda Eka Kurniawan yang sangat terkesan dengan karya Pram yang berjudul “Gadis Pantai” mengungkapkan bahwa Pramoedya Ananta Toer cukup berhasil menerapkan pikiran dan kesadaran politik yang dimilikinya dalam setiap tulisannya. “Terkadang karya Pramoedya itu melukiskan obsesinya yang berusaha meninggalkan etnis jawa”, tukas Eka. Dalam kesempatan membuka acara ini, Direktur PUSdEP Dr. Baskara T. Wardaya SJ. Mengungkapkan, “Sejak sepeninggalan Pramoedya Ananta Toer belum ada acara khusus untuk mengenang Pram dan ekspresi sastranya. Sehingga acara ini seutuhnya dipersembahkan oleh PUSdEP USD sepenuhnya untuk Pramoedya Ananta Toer, tokoh sastrawan dunia yang fenomenal”.




