Seminar Fisika Partikel Elementer Internasional “16th Lomonosov Conference on Elementary Particle Physics” yang dilaksanakan tanggal 22-28 Agustus 2013 di Moscow State University Moscow Rusia diikuti 156 peserta yang berasal dari23 negara. Seminar/konferensi ini adalah konferensi internasional bidang Fisika Partikel yang ke-16 dan dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Seminar/konferensi yang ke-16 ini juga sekaligus memperingati hari kelahiran fisikawan ternama Bruno Pontecorvo dan ulangtahun ke-288 Moscow State University.
Jumlah pemakalah pada seminar ini sebanyak 139 orang (1 orang dari Indonesia) yang terbagi dalam beberapa planery session, sesi paralel, dan poster. Jumlah makalah yang dipresentasikan pada planery session sebanyak 118 makalah, pada sesi paralel 12 makalah, dan pada sesi poster 12 makalah.
Pemakalah dari Indonesia Dr. Drs. Vet. Asan Damanik (dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma) mempresentasikan makalah pada tanggal 26 Agustus 2013. Makalahnya berjudul “µ-τ Symmetry, Nonzero θ13, and CP Violation” yang membahas kaitan antara simetri µ-τ dengan sudut campuran neutrino θ13 dan pelanggaran CP di sektor neutrino. Bapak Asan mempresentasikan makalah tersebut pada planery session sehingga presentasinya diikuti oleh seluruh peserta seminar.
Hari terakhir seminar dihadirkan pembicara dari Princeton University Prof. J. Bleimaier dengan topik “The Intelligentsia and Social Movements”. Seminar ditutup panitia pada tanggal 28 Agustus 2013 dengan ucapan terimakasih kepada seluruh peserta seminar dan sampai bertemu pada seminar berikutnya.
“Seminar atas biaya Program Bantuan Seminar Luar Negeri Direktorat Litabmas Dikti Kemendikbud ini merupakan seminar di luar negeri ke-4 yang saya ikuti. Ada beberapa peserta yang sudah pernah ketemu pada konferensi atau seminar tahun sebelumnya sehingga kalau ada upaya kerja sama dengan mereka tidak begitu menyulitkan karena sudah saling kenal.” tutur Dr. Drs. Vet. Asan Damanik.
Upaya Perintisan Kerjasama antar bangsa
Selama seminar, Bapak Asan berusaha berkomunikasi dengan fisikawan dari berbagai Negara pada saat rehat kopi dan makan siang. Demikian juga pada sesi presentasi oleh pemakalah lain, beliau berusaha bertanya dan berpartisipasi aktif dalam seminar sehingga banyak peserta seminar dari Negara lain pada akhirnya mengetahui ada satu orang peserta sekaligus pemakalah dari Indonesia. Para peserta seminar tersebut mempertanyakan mengapa pada berbagai forum-forum seminar internasional bidang fisika jarang yang berasal dari Indonesia. Mereka juga mempertanyakan apakah pernah Indonesia melaksanakan seminar/konferensi Fisika bertaraf Internasional. Mereka berharap Indonesia menjadi tuan rumah seminar-seminar Fisika bertaraf Internasional di waktu mendatang, sebab hampir 100 persen fisikawan peserta seminar itu belum pernah ke Indonesia dan ingin melihat Indonesia secara langsung sambil seminar Fisika. (VAD)




