Delegasi Universitas Sanata Dharma yang mengikuti Service Learning Program (SLP) di Naga, Filipina mengikuti immersion dan pembangunan rumah sebagai rangkaian kegiatan yang bertemakan Love for the Poor. Kegiatan SLP yang diikuti oleh universitas-universitas Jesuit di Asia-Pasific ini diselenggarakan oleh Universitas Ateneo de Naga sebagai tuan rumah.
Pada tanggal 5 Agustus 2013 para delegasi yang berasal dari 9 universitas yaitu Ateneo de Naga, Ateneo de Davao, Ateneo de Zamboanga, Xavier University, Loyola College of Culion, Sogang University, Sophia University, Elisabeth University, dan Universitas Sanata Dharma berkumpul dan bersinergi bersama. Ke-33 peserta yang hadir mengikuti rangkaian kegiatan sebagai background tentang makna siapa “poor´ itu sendiri dan kondisi kemiskinan yang terjadi di Filipina.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan immersion, yaitu live in para peserta di daerah Balatasan dan Balongay untuk lebih memaknai makna kemiskinan. Selama tiga hari tiga malam para peserta mengikuti semua kegiatan yang dilakukan oleh keluarga di mana mereka ditempatkan. Keluarga-keluarga tersebut adalah keluarga yang rata-rata mata pencahariannya adalah penganyam nipa. Mereka menjual nipa tersebut kepada tengkulak dengan harga yang sangat rendah, yaitu 1 - 1,5 Peso untuk 1 buah. Rumah yang mereka tinggali rata-rata sangat kecil dan dindingnya pun masih terbuat dari nipa. Selain itu, masyarakat di situ hanya mengandalkan air hujan dan air resapan dari laut sebagai kebutuhan mereka. Ketika hujan tidak datang, mereka akan sangat kesulitan dengan air. “Sebenarnya, kendala yang saya hadapi adalah bahasa. Kebetulan keluarga yang saya tinggali sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, sedangkan saya sendiri tidak bisa berbahasa Tagalog. Jadi selama immersion itu, saya memakai bahasa tubuh untuk berkomunikasi,” ujar Dessi.
Setelah immersion selesai, tibalah waktunya bagi para peserta untuk membangun rumah bagi salah seorang warga yang telah dipilih oleh AJCU (Association of Jesuit College and University). Pembangunan rumah ini merupakan salah satu bentuk nyata dari program SLP. Dana pembangunan didapat dari para sponsor dan dana kontribusi peserta SLP sendiri. Setiap hari para peserta dibagi menjadi dua shift untuk bekerja pada pagi dan siang hari. Peserta terjun secara langsung untuk pembangunan tersebut, seperti mengaduk semen, pemasangan batako sebagai dinding, penggalian tempat pembuangan, dan pembuatan lantai rumah. “Ini adalah pembangunan tercepat yang pernah dilakukan. Biasanya pembangunan rumah akan memakan waktu 2-3 bulan, namun kali ini pembangunan hanya berlangsung selama 2 minggu saja.” ujar Karl, sebagai ketua penyelenggara SLP.
Acara ini bukan hanya menekankan pada bagaimana para peserta mengenal kemiskinan yang terjadi di Filipina, namun juga menekankan pada pembangunan diri dan karakter untuk menyiapkan men and women for others sesuai dengan tujuan dari pedagogi Ignasian yang menjadi dasar AJCU ini. (DA)




