“Pada jaman sekarang ini, tawaran budaya instan merajalela. Iklan menyajikan berbagai makanan dan minuman instan. Dalam dunia pendidikanpun, beberapa institusi menyajikan ijazah sarjana instan. Akan tetapi, ketika sudah diwisuda dan menjalani kehidupan dalam masyarakat, dia tak ubahnya dengan monyet yang tidak mengerti apa-apa. Ijazah dapat dibeli, tetapi ilmu dan ketrampilan sama sekali tidak dapat dibeli secara instan.” demikian diungkapkan Romo P. Harry Susanto, SJ dalam misa Misa Pembukaan Tahun Akademik 2013/2014, 26 Agustus 2013, bertempat di Student Hall Kampus I Mrican.
Misa pembukaan TA 2013/2014 ini mengambil tema “Memanusiakan Manusia Muda”, dihadiri seribuan mahasiswa, dosen, dan karyawan Universitas Sanata Dharma (USD). Misa dipimpin dua orang selebran, yaitu Romo G. Ari Nugrahanto, SJ dan Romo P. Harry Susanto, SJ. Misa diawali dengan tarian Jawa dan diiringi koor mahasiswa.
Sistem Kebut Semalam (SKS)
Dalam khotbahnya, Romo Harry juga menyindir dan mengeritik cara belajar mahasiswa yang instan. Hanya belajar jika ada ujian. “Karena pendidikan kita dilaksanakan dengan Sistem Satuan Kredit Semester (SKS), maka mahasiswa pun sering belajar dengan Sistem Kebut Semalam (SKS). Setelah memaksakan diri, biasanya terus drop. Untuk mencapai kesuksesan dalam studi, dalam kerja, dalam segala usaha, tidak pernah ada jalan yang mudah. Hidup adalah perjuangan, tidak ada yang instan. Untuk sebuah kesuksesan, diperlukan kerja keras, disiplin, dan ketekunan.” lanjut Romo Harry.
Romo G. Ari Nugrahanto, SJ juga berpesan agar mahasiswa menempa dirinya dalam proses pembelajaran di USD. “Tidak ada layang-layang yang dapat naik tanpa angin. Tidak ada emas yang benar-benar murni tanpa api. Angin dan api adalah tantangan dan terpaan dalam memanusiakan manusia muda.” demikian pesan Romo Ari.
Tantangan dan Ketekunan
Sementara itu, dalam ekaristi di Kampus 3 Paingan, seribuan mahasiswa, staf, dan dosen USD juga memadati hall Kampus 3 Paingan. Romo Elyas Ambirat Duhkita, SJ
mengajak segenap civitas akademika USD untuk memiliki semangat memanusiakan manusia muda. Disampaikan Romo Elyas bahwa situasi jaman ikut membentuk karakter orang-orang pada jamannya. Saat ini USD memiliki jargon “cerdas dan humanis”. Refleksi dari jargon ini ada dua hal. “Cerdas”, apakah saat ini kita sungguh-sungguh mendalami ilmu atau sekedar numpang lewat selama masa studi? Apakah kita juga mengembangkan daya kekritisan kita? “Humanis”, apakah kita mau dan rela menggali nilai-nilai kemanusiaan dan sekaligus mengembangkan pribadi kita? “Galilah semua kemampuan yang kau miliki. Jangan sampai menjadi layu sebelum berkembang. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah tantangan. Hanya orang yang menerima tantangan yang dapat maju. Tantangan harus dihadapi dengan ketekunan. Ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” demikian ditegaskan Romo Elyas mengakhiri khotbahnya. (MGST dan BST)




