USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Rektor USD Buka "Shelter" Anak di Bantul

diupdate: 20 tahun yang lalu

Untuk menandai dimulainya aktivitas di "shelter" anak di dusun Siten, Bambanglipuro, Bantul, diadakan serangkaian lomba anak-anak pada hari Minggu (17/9). Sebelum lomba dimulai, "shelter" yang diberi nama "Sanggar Anak Berjuang" ini dibuka secara simbolis melalui gunting pita oleh Romo Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, S.J., Rektor Universitas Sanata Dharma, disaksikan tokoh masyarakat Siten, antara lain Bp. Suyadi dan Bp. Toto Dwi, anak-anak Siten beserta para pendamping dari Karang Taruna setempat dan mahasiswa Psikologi USD dan beberapa ibu warga setempat. Terkait nama shelter, Romo rektor menyampaikan harapannya agar selain dapat berkegiatan dan bergembira, anak-anak juga bisa ikut berjuang bersama bapak dan ibunya serta dapat melanjutkan langkah memajukan desa tempat tinggalnya. Bapak Suyadi, tokoh masyarakat Siten pun menyampaikan harapannya agar "shelter" dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk anak-anak Siten dan Sanata Dharma dapat selalu memsupport kebutuhan anak-anak. "Shelter" anak adalah salah satu bentuk bantuan pendukung dalam Program Psikososial Universitas Sanata Dharma yang bekerja dengan Yayasan Caritas dari Jerman, yang dimaksudkan untuk memfasilitasi berjalannya kembali aktifitas sosial warga, termasuk di dalamnya aktivitas belajar dan bermain anak-anak. Anak-anak damping di Siten ini berjumlah sekitar 50 anak, terdiri dari anak usia pra sekolah (TK) hingga usia sekolah akhir (SD). Para pendamping yang adalah Karang Taruna setempat, sebelumnya telah mendapatkan pelatihan oleh Tim Psikososial USD. Beberapa lokasi dipilih untuk didirikan shelter berukuran 4 X 6 m, termasuk di dusun Siten, Bambanglipuro ini, yaitu di area tinggal Bapak Toto Dwi, salah satu warga yang menyediakan lahan tinggalnya untuk dijadikan pusat aktivitas warga. Direncanakan, selain dipergunakan untuk pendampingan anak-anak di sore hari, shelter juga akan dipergunakan untuk pertemuan Ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan pertemuan Bapak-bapak di malam hari. Hal ini juga berlaku untuk "shelter" di dusun lain. Usaha menormalkan kembali aktifitas sosial dilakukan agar warga secepatnya pulih dari “cedera psikologis” akibat bencana gempa.

  kembali