USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pelatihan Bahasa Inggris untuk Keadilan Sosial: Program Dua Minggu di antara Warga Etnis Karen, Thailand

diupdate: 13 tahun yang lalu


Dua staf pengajar Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Universitas Sanata Dharma, mendapat tugas untuk mengajar 14 sukarelawan-wati untuk mengajar Suku Karen, Thailand selama dua minggu (8 – 20 Juli 2013). Pelatihan ini berlangsung di the Seven Fountains Jesuit Spirituality Center, Chiang Mai, Thailand. Dari 14 peserta itu, 12 di antaranya merupakan warga keturunan Suku Karen. Selama ribuan tahun, kelompok-kelompok suku yang tinggal di pegunungan utara Thailand ini hidup, mengembangkan tradisi dan peradaban. Mereka mampu memenuhi kebutuhan kelompoknya sendiri (self-sufficient) dan cenderung tertutup dari pengaruh luar. Kondisi geografis yang bergunung-gunung membuat mobilitas ekonomi, sosial, dan kultural cenderung tidak cair. Itu terjadi pada generasi-generasi sebelumnya. Hari ini, generasi muda lebih banyak yang turun ke dataran rendah (low-land). Namun, mereka mengalami “gagap sosio-kultural.” Banyak dari mereka yang tidak lancar Bahasa Thai (sebagai bahasa nasional). Keterampilan literasi dasar (baca, tulis, hitung) sangat jauh dari penduduk mayoritas (mainstreams).
Dewasa ini, orang-orang dari etnis Karen menderita ketidak-adilan macam ini. Saat mengadakan kunjungan ke beberapa desa terpencil, tampak bahwa akses pendidikan dasar sangat lah minim. Sebagai perbandingan, era 1970-an rata-rata anak-anak Indonesia (khususnya di Jawa) tidak memiliki alat belajar yang memadai. Buku tulis, pensil, dan pena merupakan kemewahan yang tidak bisa diakses anak-anak kebanyakan. Mereka menulis dengan arang (sebagai pensil) dan sabak (sebagai papan tulisnya). Memasuki era 1980-an, ketiadaan alat-alat belajar dasar telah tertangani di sekolah-sekolah di Jawa. Lain di Jawa, lain di pegunungan utara Thailand. Uthid Jeeradej, yang lahir dan besar di sebuah dusun terpencil Maepon, menggambarkan ketiadaan alat-alat belajar pada era akhir 1980-an. Tidak ada kertas, pena, pensil, dan bahan-bahan belajar lainnya. Bersama anak-anak yang lain, dia belajar dengan segala kekurangan dan ketiadaan.
Kepedulian pemerintah terhadap kelompok-kelompok etnis minoritas di Thailand memang belum lama. Panita Amornsiriwathana, sebagai anggota etnis Karen, baru mendapatkan KTP saat usianya sudah 24 tahun (sepuluh tahun yang lalu). KTP untuk warga etnis minoritas dikeluarkan berdasarkan Dekrit Raja satu dekade yang lalu. Dekrit itu menegaskan pengakuan formal bahwa etnis Karen merupakan warga sah Thailand.
Romo Vinai Boonlue, SJ., satu-satunya imam Jesuit dari kelompok etnis ini, menggaris-bawahi pentingnya pelatihan Bahasa Inggris bagi kelompok ini. Dalam acara pembukaan pelatihan ini, beliau memberikan uraian sebagai berikut, “Mari kita membuat serangkaian langkah sederhana terlebih dahulu. Langkah-langkah kecil. Kita tidak akan membuat lompatan besar tanpa mewujudkan hal-hal yang kecil dan sederhana terlebih dahulu. Belajar Bahasa Inggris merupakan langkah pertama bagi kita semua yang memiliki hati untuk berbagi dan menanggung beban serta tanggung jawab bersama. Dua dosen dari Universitas Sanata Dharma kita hadirkan di sini. Mereka memiliki tradisi Jesuit yang kuat. Saya percaya, kehadiran dan kontribusi mereka akan memperkuat pencapaian impian kita bersama di sini. Mereka memiliki program Pendidikan Bahasa Inggris terbaik di Indonesia. Saya percaya, kita bisa belajar banyak dari mereka. Tidak hanya dalam Bahasa Inggris tentu saja, tetapi juga belajar bagaimana mencapai tujuan sampai ke sana [penguasaan Bahasa Inggris]. Dengan memperbaiki diri kita dari waktu ke waktu. Itu lah cara para Jesuit memandang dan memaknai perjalanan hidup di dunia ini.” (MB)

  kembali