USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pre-SLP, "Dikasihi untuk Mengasihi"

diupdate: 13 tahun yang lalu


Mencoba menerapkan apa yang didapat selama pembekalan, tim Service Learning Program (SLP) 2013 Universitas Sanata Dharma yang terdiri dari 6 orang mahasiswa lintas prodi yaitu Dessiana Adityawati (PBI), Yudhyta Anggraini Q. (Farmasi), Bianca Erika A (Psikologi), Yoga Tridarmanto (Psikologi), Dewa Made Pinta (Sastra Inggris), dan Daniel P. Laksono (Sastra Inggris) melakukan sebuah kegiatan pendampingan anak-anak. Tema yang diambil dalam kegiatan tersebut adalah “Dikasihi untuk Mengasihi”. Acara ini dilakukan secara dua tahap, yang pertama pada tanggal 22-23 Juni 2013 di SD BOPKRI II Sidomulyo dan, yang kedua pada tanggal 29-30 Juni 2013 di SD Padangan. Latar belakang dipilihnya tema ini adalah untuk membantu mereka menyadari bahwa Tuhan merupakan entitas yang memberikan kebaikan melalui banyak hal, bukan hanya memberikan materi. “Dengan acara ini diharapkan anak-anak menyadari bahwa mereka telah dikasihi dan mewujudkan syukur mereka dengan mengasihi Tuhan, diri sendiri, sesame, dan lingkungan”, ujar Pinta.
Kegiatan pre-SLP ini merupakan rangkaian dari agenda SLP yang merupakan program Jesuit untuk membahas isu-isu global. Program SLP tahun ini akan dilaksanakan di Naga, Filipina, berlangsung dari tanggal 5-25 Agustus 2013 dengan tema “Love for The Poor”. Secara keseluruhan, kegiatan SLP adalah untuk mencoba memberi kontribusi terhadap fenomena kemiskinan. Kegiatan pre-SLP ini merupakan salah satu bentuk kontribusi sekaligus pembelajaran peserta SLP terhadap orang-orang kurang mampu, yaitu pendampingan terhadap anak-anak yang mendapat beasiswa pendidikan dari yayasan Gloria.
Bekerjasama dengan Yayasan Gloria, para tim SLP bekerjasama melayani anak-anak. Masing-masing acara tersebut dimulai dengan pendaftaran ulang para peserta yang berasal dari beberapa daerah. Total peserta yang ikut dalam pendampingan tersebut sekitar 210 siswa yang berada di bangku sekolah dasar kelas lima dan enam. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi berkaitan dengan tema dan aktivitas di luar ruangan. Keantusiasan para peserta sangat terlihat dalam acara ini, anak- anak dapat mengikuti acara dengan tertib dan mengikuti setiap kegiatan yang sudah dipersiapkan. Anak- anak yang mengikuti acara ini sangat bervariasi, ada anak yang aktif, pasif, membutuhkan perhatian khusus, dan latar belakang keluarga yang kurang harmonis. Dalam acara ini, terdapat satu anak kelas enam yang mempunyai keterbatasan fisik, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi dia untuk mengikuti acara. Dia menjalani tiap aktivitas tanpa rasa minder. Anak-anak lainpun tidak mengejek atau menjauhi dia karena keterbatasannya, justru mereka merangkul dia dan terus menjalin kerjasama dalam kegiatan yang dilakukan. Setelah melakukan pendampingan, Yudhyta mengatakan, ”Awalnya kami berpikir bahwa dengan pengetahuan kami yang lebih banyak dibanding dengan anak- anak tersebut, kami mampu melakukan pendampingan dan mengajarkan mereka tentang banyak hal. Namun setelah kami mengikuti acara ini , justru kami yang belajar banyak dari mereka tentang bagaimana mengasihi dan bersyukur dengan apa yang kami miliki sekarang.”
Dalam acara ini, diadakan juga acara outbond yang menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan materi dalam tema tersebut. Tidak hanya membutuhkan kerjasama, setiap permainan selalu diakhiri dengan evaluasi. Hal ini dilakukan dengan harapan anak- anak tidak hanya dapat bekerjasama dalam menyelesaikan permainan yang ada, namun dapat mengambil nilai-nilai lain yang ada dalam permainan tersebut sehingga anak-anak dapat learn through experience.
Kegiatan pendampingan yang dilakukan selama 2 hari tersebut kemudian diakhiri dengan acara makan siang bersama oleh para peserta dan anggota SLP. Para tim SLP berpendapat bahwa apa yang mereka mampu berikan kepada anak-anak hanyalah sebuah biji. Setiap peserta akan memperlakukan biji tersebut secara berbeda-beda. Harapannya, biji tersebut dapat tertanam, sehingga suatu saat akan menghasilkan buah yang lebat. (DA)

  kembali