Mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma (PSEJ USD): Maria Antonia Cunino, Bernadus Brurry Nugroho, Febriana Eka Nurani, Kristina (Angkatan 2010) dan Ignatius Yuliyanto Putro (Angkatan 2011) berkunjung ke sebuah Panti Asuhan yang terletak di Kabupaten Sleman Yogyakarta, yakni Panti Asuhan Griya Kasih Victory. Ada realita yang menarik dan menantang karena berdasarkan pengamatan di lapangan ternyata banyak anak-anak dan remaja Panti Asuhan kurang menghargai prestasi dan kurang bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas hariannya. Kebiasaan tersebut sangat mengganggu kelancaran kegiatan di panti asuhan tersebut. Apabila karakter yang kurang baik tetap berkembang di dalam panti, pasti akan terbawa sampai anak hidup mandiri atau lepas dari panti asuhan. Realita itulah yang mendorong para mahasiswa PSEJ tersebut di atas untuk membantu permasalahan anak-anak dan remaja Panti Asuhan Griya Kasih Victory melalui pendampingan pembangunan karakter dengan media yang menarik.
Pembentukan karakter anak sejak usia dini sangatlah baik dan penting bagi pembangunan generasi muda. Pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui proses pendidikan karakter, baik pendidikan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter harus disesuaikan dengan karakter apa yang dimiliki dan yang akan ditanamkan kepada diri anak. Pendidikan karakter dapat disampaikan melalui berbagai model dan metode pendampingan. Pendidikan karakter menggunakan media yang berasal dari budaya bangsa sendiri sangatlah menarik, karena budaya bangsa sendiri merupakan akar dari karakter anak dan perlu ditanamkan sejak usia dini. Pendidikan atau pembentukan karakter bisa juga digunakan untuk memperbaiki karakter-karakter yang menyimpang dari karakter yang baik.
Bertepatan dengan adanya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan dengan pendanaan dari DIKTI Tahun 2012, Tim PKM-Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang beranggotakan para mahasiswa PSEJ tersebut di atas, pada tanggal 9 Maret 2013 sampai dengan tanggal 28 April 2013 (8 minggu) mulai menjalankan program pendampingan karakter di Panti Asuhan Griya Kasih Victory. Program ini dijalankan dengan menggunakan Relief Jataka Candi Borobudur sebagai media edukasi untuk membentuk karakter anak-anak dan remaja agar mereka bisa lebih menghargai prestasi (motivasi belajar) dan lebih bertanggung jawab terhadap tugas-tugas mereka. Harapannya, mereka bisa belajar tanpa diingatkan lagi oleh pengelola panti, dan dapat menyelesaikan tugas atau piketnya di panti tanpa diingatkan pula. Penggunaan media relief candi dimaksudkan untuk menepis pandangan bahwa pendidikan karakter yang baik tidak hanya berasal dari luar negeri. Media Relief Jataka yang ada di Candi Borobudur digunakan sebagai media untuk memberikan gambaran lain mengenai manfaat berkunjung ke Candi Borobudur. Berkunjung ke Candi Borobudur tidak hanya untuk berekreasi, melainkan juga bisa membentuk atau memberikan gambaran karakter yang baik.
Pada minggu pertama tim Pelaksana PKM-M yang menamakan timnya dengan PKM-M Perjaka (Pemaknaan Relief Jataka) ini melakukan pendekatan dengan mengajak anak-anak dan remaja menonton film yang berjudul “The Legend of Guardian” yang menceritakan tentang seorang pemimpi yang berhasil mewujudkan dan membuktikan bahwa impian dengan usaha yang keras bisa terwujud. Pada minggu kedua, tim membagi kuesioner kepada masyarakat sasaran untuk mengetahui bagaimana karakter mereka yang terkait dengan menghargai prestasi (motivasi belajar) dan tanggung jawab. Pada minggu ketiga, tim memperkenalkan secara garis besar tentang Candi Borobudur dan Relief Jataka yang ada pada dinding-dinding Candi Borobudur. Pada minggu keempat dan minggu kelima, tim mengajak anak-anak dan remaja di Panti Asuhan Griya Kasih Victory untuk memahami makna yang termuat dalam Relief Jataka agar mereka bisa menghargai prestasi dan mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya, melalui modul pendampingan Relief Jataka yang disusun oleh Tim PKM-M Perjaka. Isi dari modul pendampingan tersebut adalah gambaran umum mengenai Candi Borobudur, cerita-cerita mengenai Relief Jataka, gambar-gambar Relief Jataka, dan refleksi dari cerita Jataka mengenai menghargai prestasi dan tanggung jawab.
Sebagai puncaknya, tim mengajak anak-anak dan remaja berkunjung ke Candi Borobudur agar mereka bisa melihat secara langsung Relief Jataka. Pembelajaran secara langsung tersebut diharapkan mendorong anak-anak dan remaja Panti Asuhan Griya Kasih Victory lebih memahami dan merekam secara baik mengenai Relief Jataka dan bisa menerapkan apa yang telah mereka lihat dengan lebih baik. Seperti teori Confusius di mana dengan mendengar, melihat, dan melakukan, suatu pembelajaran akan lebih cepat diserap oleh anak didik.
Setelah melihat Relief Jataka, Dra. Th. Sumini, M.Pd. selaku dosen pendamping tim PKM-M Perjaka dan anggota tim PKM-M Perjaka mengajak anak-anak merefleksikan makna yang terkandung di dalam Relief Jataka. Pada minggu berikutnya Tim PKM-M Perjaka membagikan kuesioner agar diketahui tingkat perubahan karakter anak-anak dan remaja setelah pendampingan melalui metode ini.
Selain menggunakan media edukasi yang menarik melalui Relief Jataka Candi Borobudur, Tim PKM-M Perjaka juga melakukan kegiatan pembelajaran dengan menambahkan game-game yang menarik dan mempunyai makna yang bisa diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti game metamorfosis. Dari game metamorfosis, bisa diambil makna bahwa untuk mencapai cita-cita tidak bisa diraih dengan mudah atau melalui proses yang sederhana, tetapi harus melalui proses yang panjang seperti kupu-kupu. Untuk menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang bebas, kupu-kupu tersebut mengalami proses perubahan yang panjang dari telur, ulat, kepompong, barulah berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Demikian pula dengan usaha untuk menggapai sebuah cita-cita. Anak-anak dan remaja harus berjuang dan belajar dengan giat supaya mereka bisa menggapai cita-cita mereka.
Berdasarkan pengamatan perubahan perilaku, terlihat bahwa anak-anak dan remaja di Panti Asuhan Griya Kasih Victory mengalami perubahan karakter, yaitu lebih menghargai prestasi (motivasi belajar) dan tanggung jawab (menyelesaikan tugasnya tanpa diingatkan oleh orang lain). Anak-anak dan remaja mulai belajar tanpa diawasi atau diperintah oleh pengelola panti, dan menyelesaikan tugas tanpa diingatkan lagi oleh orang lain. Akhirnya, setelah dilakukan pendampingan, anak-anak dan remaja di Panti Asuhan Griya Kasih Victory mengalami perubahan menjadi lebih baik.
Pada awalnya Tim PKM-M Perjaka mengalami kesulitan dalam mengajak anak-anak dan remaja di Panti Asuhan Griya Kasih Victory untuk belajar dan berdinamika bersama, namun dengan kesabaran dan keinginan untuk membangun karakter anak-anak dan remaja, Tim terus berusaha melakukan pendekatan. Melalui kegiatan ini, Tim PKM-M Perjaka juga banyak belajar untuk menjadi pendamping, calon guru sejarah yang baik, dan menghadapi anak-anak dan remaja yang berbeda karakter dan latar belakangnya. Semoga. (Nina)




