USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

DARI YANG BIASA JADI LUAR BIASA DENGAN PENGOLAHAN ANEKA MAKANAN DARI TEPUNG "GUWEK"

diupdate: 13 tahun yang lalu

Guwek adalah singkatan dari Ganyong dan Uwi made in Kulon Progo. Ganyong dan Uwi termasuk dalam kelompok umbi-umbian dan merupakan tanaman yang cukup potensial sebagai sumber energi. Guwek banyak dibudidayakan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama didaerah pedesaan yang memiliki struktur tanah seperti perbukitan atau berupa tegalan seperti di desa Banjarasri daerah Kulon Progo dan dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis. Guwek ini juga mengandung bermacam – macam gizi selain karbohidrat yang tinggi sebagai sumber tenaga, juga mengandung protein, fosfor, vit.B1 dan vit.C, serta kalsium. Hingga saat ini pemanfaatannya sebagai bahan makana masih sangat terbatas, pengaplikasian dan pengembangan Guwek sebagai variasi menu makanan belum banyak yang tahu dan belum banyak dilakukan. Selama ini masyarakat Indonesia memanfaatkan Guwek sebagai bahan makanan hanya dengan cara pengolahan direbus, dukukus dan digoreng.

Selama ini, dengan pengolahan ganyong dan Uwi yang hanya dengan cara direbus, dikukus atau digoreng, membuat nilai ekonomi dari ganyong dan uwi rendah. selain dapat digunakan untuk penganekaragaman menu makanan rakyat, Ganyong dan Uwi juga memiliki aspek yang penting sebagai bahan dasar industri. Dalam bentuk Tepung, Ganyong dan Uwi dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan atau minuman sehingga mempunyai banyak variasi produk, bahan pun menjadi lebih awet dan tanpa mengurangi kandungan gizi yang dikandungnya. Pemanfaatan Tepung Guwek menjadi aneka kue dan minuman seperti Brownies, Pie Buah, Muffin, Ronde, Dawet dan Cookies menambah daya tarik tersendiri.

guwek pbio USD 2

Pemanfaatan Ganyong dan Uwi yang semula bernilai ekonomi rendah menjadi produk makanan yang bernilai ekonomis tinggi, menjadi daya tarik para konsumen. Mayoritas penduduk indonesia yang suka mengkonsumsi makanan siap saji, dengan menjadikan bentuk makanan seperti Brownies, Pie Buah, Muffin, Ronde, Dawet dan Cookies disertai bentuk, warna dan hiasan yang menarik maka lebih praktis. Untuk lebih memberikan manfaat lagi bagi masyarakat desa Banjarasri Kulon Progo Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi dan Pendidikan Matematika JPMIPA USD (Universitas Sanata Dharma) yaitu Tegar Yudha Restuti (2010), Yulius Fery Ardianto (2010), Yolanda Endear (2010) dan Birgitta Galuh Widya Astuti (2012), dibawah bimbingan Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. memberikan pelatihan pengembangan dan pengolahan aneka makanan dari bahan tepung Guwek di Desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta. Pelatihan dilakukan di desa Banjarasri karena kebanyakan penduduk menanam Ganyong dan Uwi, selain itu juga masyarakat belum bisa memanfaatkan Ganyon dan uwi tersebut secara maksimal.

Ketua tim, Tegar Yudha Restuti (20) memaparkan, pelatihan yang diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga diharapkan dapat menambah pengetahuan dan kedepannya dapat menjadi sumber dana mandiri di desa tersebut yang diperoleh dari pelatihan skill pembuatan aneka makanan dari tepung Guwek untuk berwirausaha berkelanjutan. Produk yang dihasilkan dapat dipasarkan dan dapat juga dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari desa Banjarasri karena desa banjarasri merupakan desa wisata. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka Program Kreatifitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh DIKTI dengan mengangkat judul Pelatihan Pengolahan Aneka Makanan dari Bahan Tepung Guwek sebagai Alternatif  Added Value Masyarakat Desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang Kulon Progo.”

Tegar kembali memaparkan, Dalam pelaksanaan kegiatan terdapat 4 tahap, yaitu tahap I adalah pelatihan pembuatan tepung Guwek. Tahap II adalah pelatihan pengolahan tepung yang sudah dibuat menjadi aneka makanan dan pengemasan, peserta dilatih untuk mengolah tepung Guwek menjadi berbagai kue (Brownies, Muffin, Cookies, Klepon, Donat dan Rainbow Cake). Kemudian demontrasi untuk pengemasan, proses ini meliputi perapian hasil disetiap produk, kemudian dimasukkan kedalam plastik kemasan dan kardus kemasan yang telah didesain khusus. Tahap III adalah lomba kreatifitas dalam pengolahan tepung Guwek menjadi berbagai makanan, peserta dalam kelompok berlomba untuk membuat produk makanan atau minuman dari bahan tepung Guwek selain dari yang telah diajarkan, dalam tahap ini bertujuan untuk memberi motivasi pada peserta dalam mengembangkan pengolahan tepung guwek menjadi aneka makanan, dan hasilnya ternyata tidak hanya makanan tetapi juga ada minuman seperti Ronde dan Dawet. Kemudian resep-resep yang dibuat peserta untuk mengikuti lomba dan resep-resep saat pelatihan dikumpulkan untuk selanjutnya dibukukan dan dibagikan kepada peserta sebagai arsip.

Yulius Fery Ardianto (21) menambahkan, “Tahap terakhir, tahap IV adalah pemberian apresiasi kepada peserta dan acara penutup. Dalam acara penutup ini peserta diminta untuk mengisi acara dengan perfome seperti menyanyi, kemudian ada perfome tari dari mahasiswa USD, kemudian pembagian hadiah bagi para pemenang lomba, pembagian bingkisan bagi peserta, pembagian buku resep hasil karya peserta dan penghibahan alat-alat yang telah digunakan untuk kegiatan pelatihan seperti oven, loyang, cetakan dan kardus kemasan agar masyarakat mampu meneruskannya.”


guwek pbio USD 1

Setelah program pelatihan selesai, masyarakat pun masih terus mengembangkan kegiatan dengan membentuk kelompok seperti PKK yang disebut dengan kelompok ibu-ibu kuliner. Kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam ibu-ibu kuliner ini terus melanjutkan dan mengembangkan olahan makanan dari tepung guwek dengan menjadikannya sebagai salah satu menu makanan ringan dalam menyambut para pengunjung desa. Selain itu juga menjadikannya menjadi oleh-oleh khas desa wisata Banjarasri Kulon Progo. Dari kegiatan ini, anggota kelompok dapat menumbuhkan inovasi dan kreativitas serta meningkatkan kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat.

  kembali