Saat itu masih pagi buta, hanya ada beberapa penjual yang memulai aktivitasnya di sebuah tempat bernama Pasar Pakem. Di tempat itulah para peserta Pembekalan Service Learning Program (SLP) 2013, yang menyebut kelompoknya dengan segerombol ikan, mencoba menawarkan bantuan kepada para penjual. Bermodalkan badan muda, peserta pembekalan SLP 2013 menghampiri beberapa penjual dan bertanya “apa yang bisa kami bantu?”. Namun banyak dari penjual itu menolak tawaran yang diberikan. Hanya ada penjual jamu dan penjual sayur yang dengan senang hati menanggapi tawaran bantuan tersebut.
“Dua pekerjaan tersebut (menjual jamu dan menjual sayur) pada awalnya kami pandang tidak penting. Kami perhatikan hanya dibutuhkan keahlian memasukkan jamu dan sayuran ke dalam plastik, atau dengan pisau untuk membersihkan sayur-sayur yang baru diturunkan dari mobil. Juga ketika kegiatan pencatatan jumlah sayur dilakukan, kami menganggap hal itu merupakan hal yang sepele. Konsep-konsep itu dengan segera runtuh ketika kami ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Ternyata membungkus jamu, membersihkan sayur, memasukkan sayur ke dalam plastik, dan menghitung harga sayur membutuhkan keberanian, kecepatan, dan keahlian, namun tetap harus berhati-hati. Kami melakukan itu semua, berusaha sebaik mungkin, demi mendapatkan makanan sebagai sarapan kami.” demikian kesan yang disampaikan oleh Daniel Laksono yang menjadi salah satu peserta pembekalan SLP 2013.
Pembekalan SLP 2013 ini bertema “Love for the Poor”, dilaksanakan pada tanggal 14-15 Juni 2013 di Wisma Omah Jawi Kaliurang Yogyakarta. Kegiatan ini meliputi kegiatan terjun ke Pasar Pakem dalam rangka memahami kemiskinan dan merasakan bagaimana rasanya mencari makan. Terdapat 6 orang mahasiswa lintas program studi di Universitas Sanata Dharma yang akan berangkat sebagai delegasi dari Indonesia.
Daniel Laksono menambahkan kesan “Kegiatan ini membuat kami menyadari bahwa kami bermata ikan, yang matanya tetap terbuka padahal sedang tertidur. Kemiskinan bukanlah melulu soal tidak punya uang. Perjalanan pasar membuat kami sadar bahwa terkadang sistem produksi, struktur masyarakat, dan keterbatasan akses menciptakan kemiskinan itu sendiri. Lebih dalam lagi, kami menyadari bahwa kamilah yang miskin: kami seakan-akan memahami apa itu kemiskinan dan dengan bangga menawarkan bantuan, padahal kamilah yang sebenarnya membutuhkan bantuan mereka untuk mengajari kami makna kemiskinan. Dari penjaja jamu dan sayur, kami menyadari bahwa kemiskinan bukanlah sebuah kata benda yang bakalan selesai dibicarakan dalam satu malam. Kemiskinan bagi kami sekarang merupakan sekumpulan masalah yang saling berkaitan. Dan pemahaman kami tentang kemiskinan mungkin tidak akan pernah mampu menemukan apa arti kemiskinan itu sendiri. Namun dengan menyadari kebutaan kami yang seperti ikan, hal itu terus membuat kami mau berusaha memperbesar pemahaman kami tentang kemiskinan dengan mendalami kehidupan dan menyelami kehidupan orang lain. Mungkin sampai mati kami akan terus mengarungi makna kemiskinan.” (elno)




