USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Surat-surat Drijarkara: Makna Mendalam Berbalut Kesederhanaan

diupdate: 14 tahun yang lalu


DRIJARKARA, mendengar kata tersebut, benak sebagian warga Universitas Sanata Dharma diarahkan pada nama sebuah ruangan di Lantai IV Gedung Pusat Kampus II Mrican USD. Sedangkan sebagian warga USD yang lain akan mengindentifikasikannya sebagai seorang tokoh besar pendiri Sanata Dharma. Semua pandangan tersebut benar, namun ke-2 hal tersebut hanya sebagian kecil dari penggambaran sosok Drijarkara yang sebenarnya. Beliau adalah seorang tokoh besar di era perjuangan awal mempertahankan kemerdekaan hingga memasuki era orde baru. Tidak hanya sebagai Founding Father USD,Romo Drijarkara berperan dalam memberikan warna tersendiri bagi pemerintahan Indonesia mula-mula, khususnya pada bidang pendidikan. Berkat jasa beliau yang begitu besar bagi bangsa ini, pada hari Jumat, 14 Juni 2013 Pukul 08.00-13.00 WIB, bertempat di Student Hall Kampus I USD diadakan peringatan 100 Tahun Drijarkara. 
Peringatan 100 Tahun Drijarkara yang bertepatan pula dengan 58 Tahun Sanata Dharma dimeriahkan dengan beberapa rangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan tersebut diawali pada hari Jumat (14/06/2013) dengan Seminar & Peluncuran Buku Surat-surat Drijarkara,kemudiandiikuti dengan berbagai diskusi menarik setiap harinya yang mengupas tentang Drijarkara dari berbagai sisi hingga hari Sabtu, 22 Juni 2013. Secara keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut, mengambil tema “Drijarkara: Pemikir & Pendidik antara Soekarno dan Soeharto”.
Sebelum memulai acara utama yakni Seminar dan Peluncuran Buku Surat-surat Drijarkara, acara diawali dengan pemberian sambutan singkat oleh Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J, selaku Rektor Universitas Sanata Dharma. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan pita sebagai simbolisasi pembukaan rangkaian kegiatan tersebut diikuti dengan para peserta seminar yang kemudian memasuki ruangan. Acara tersebut dipimpin oleh seorang pembawa acara yakni Dr. Ari Subagyo, M. Hum. Selanjutnya,yang berperan sebagai moderator seminar adalah Drs. Susilo Nugroho atau yang biasa dikenal dengan sebutan Den Baguse Ngarso. Sebelum lebih jauh membahas mengenai isi acara, ada beberapa hal menarik yang membuat acara pada pagi hari tersebut berbeda dengan seminar-seminar biasanya. Skema seminar yang biasanya dibawakan dengan sangat serius serta penuh retorika berhasil dihilangkan. Den Baguse Ngarso berhasil menjadi moderator apik yang penuh talenta humoris. Seringkali Den Baguse Ngarso mengeluarkan celetukan-celetukan bernada relatif sarkasme, namun bukan dengan maksud melecehkan tetapi untuk mencairkan suasana. Di sela-sela jalannya seminar, tidak jarang para peserta larut dalam gelak tawa berkat candaan Den Baguse Ngarso. Berkat kepiawaian beliau memainkan atmosfer seminar, pada bagian akhir salah seorang peserta dari Fakultas Budaya UGM memberikan sebuah bingkisan berupa buku hasil karya beliau sebagai tanda apresiasi kepada Den Baguse Ngarso.
Masuk ke dalam esensi acara seminar, ke-4 pembicara seminar berhasil memberikan gambaran mengenai sosok Drijarkara dari berbagai sudut pandang dengan ulasan-ulasan yang menarik. Walaupun masing-masing pembicara membawakan materi dengan gaya dan sudut pandang yang berbeda, namun hal tersebut mampu membentuk pandangan yang cukup komprehensif mengenai tokoh besar pendiri Sanata Dharma tersebut. Pembicara pertama yakni Romo Prof. Dr. Muji Sutrisno, S.J. Beliau adalah seorang Guru Besar STF Drijarkara yang sering tampil membawakan salah satu sesi acara di stasiun televisi swasta nasional. Mengawali pemaparan materi, Romo Muji mengungkapkan bahwa seminar-seminar seperti ini dapat berperan sebagai jembatan sejarah untuk tetap menghargai jasa dan andil tokoh-tokoh besar pendiri bangsa Indonesia. Selanjutnya beliau juga mengungkapkan bahwa tulisan-tulisan mengenai Drijarkara sebenarnya sudah beberapa kali diterbitkan, namun karena apresiasi masyarakat yang sangat kurang terhadap Drijarkara dan makna sejarah dibaliknya, maka tulisan-tulisan beliau tidak terlalu laris di pasaran. Sebagai contoh beliau mengungkapkan harga awal buku mengenai tulisan Drijarkara yang seharusnya sebesar Rp. 150.000,- kemudian merosot drastis menjadi sebesar sekitar Rp. 50.000,-. Menurut beliau hal ini sangatlah ironis. Perjuangan utama Drijarkara untuk memanusiakan manusia haruslah tetap terus berlanjut hingga saat ini. Hasil-hasil tulisan Dijarkara mampu memenuhi 3 aspek penting yakni temanisasi, universalisasi, dan humanisasi. Selain itu, Drijarkara pun berupaya untuk mengatasi sekat-sekat yang ada pada masa tersebut. Realisasi dari perjuangan memanusiakan manusia berhasil digambarkan oleh Drijarkara dengan cara yang sederhana. Beliau mengkritisi adanya perbedaan derajat dan status kedudukan ketika duduk semeja dan makan bersama-sama. Menurutnya dalam hal sederhana seperti makan bersama, tidak perlu ada kesenjangan berdasarkan status sosial. Menutup sesi, Rm. Muji berpesan agar media saat ini mampu menyebarkan ide-ide kemanusiaan untuk meningkatkan rasa humanisme dan mengatasi sekat yang ada. Teladan Drijarkara sebagai filsuf yang humanis dan kontekstual harus selalu hidup di antara kita.
Pembicara yang kedua yakni Yohanes Sabara Purba, M. Hum. Dalam pemaparannya, beliau berusaha mengungkapkan sisi lain dari Drijarkara yakni kejujuran. Drijarkara merupakan seorang tokoh besar yang memiliki banyak lawan pemikir dari golongan kiri. Menurutnya dalam segala keseriusannya, Drijarkara seringkali menanggapi lawan pemikirnya dengan sikap yang santai dan penuh canda. “Jangan Ngantuk Bung” kata-kata tersebut pernah dilontarkan Drijarkara ketika menghadapi musuh politik manakala beliau mendengar isu tidak sedap mengenai campur tangan Vatikan dalam penggulingan PKI. Selain itu, dalam tulisan-tulisannya, Drijarkara menggunakan 3 bahasa yang berbeda dengan maksud-maksud tertentu. Drijarkara menggunakan bahasa belanda untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Belanda, kemudian menulis dengan bahasa Latin untuk menyampaikan pendapatnya mengenai agama, dan mengunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan hal-hal serius dan hasil refleksi pribadinya. Dalam beberapa tulisannya, Drijarkara sebenarnya tidak ingin menjadi tokoh yang terlampau besar. Drijarkara ingin lebih dekat kepada masyarakat sehingga dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Selanjutnya Yohanes Sabara Purba, M. Hum mengungkapkan bahwa Drijarkara seringkali menggunakan istilah “keluar dari dirinya sendiri, untuk menemukan dirinya sendiri.” Hal ini ditunjukkan dengan tulisan-tulisan Drijarkara di majalah Praba yang seringkali mengkritisi tulisan-tulisannya sendiri yang dianggap terlalu serius. Di majalah Praba, Drijarkara menggunakan nama samaran Nala, sedangkan dalam beberapa tulisan-tulisannya yang relative serius Drijarkara menggunakan nama Parahita. Kedua nama tersebut sebenarnya penggambaran dari sesuatu yang bertentangan satu sama lain, namun justru dapat saling melengkapi. Drijarkara juga mengungkapkan suatu filosofi yang menarik mengenai wedang jahe. Menurutnya bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa memiliki engagement atau keterikatan khusus terhadap wedang jahe. Menurutnya hanya masyarakat Indonesia lah yang mampu menikmati minuman tersebut tanpa adanya keluhan tertentu. Hal ini tentu saja beda dengan masyarakat luar negeri yang terbiasa minum vodka dan bir untuk menghangatkan tubuh. Dalam hal ini sebenarnya Drijarkara berusaha mengungkapkan bahwa  masyarakat Indonesia dalam segala kesederhanaannya memiliki sesuatu yang istimewa dibandingkan masyarakat barat.
Pembicara selanjutnya yakni Bapak Trias Kuncahyono, yang membahas mengenai Drijarkara dari sudut pandang seorang jurnalis. Menurutnya, Drijarkara mampu mengabarkan sesuatu atau memberikan gambaran mengenai sesuatu, seakan-akan para pembaca turut hadir dan merasakan pengalaman yang dialami oleh Drijarkara. Walaupun berada di luar negeri, Drijarkara mampu menggunakan bahasa lokal dan analogi yang menarik sehingga sangat mudah untuk dimengerti masyarakat awam. Sebagai contoh, untuk menggambarkan perjalanan dari Nazaret ke Yerusalem, Drijarkara menggambarkan suasana perjalanan tersebut serupa dengan perjalanan dari kota Yogyakarta ke Sendangsono. Hal tersebut merupakan suatu keahlian menulis yang sangat baik dan jarang dimiliki oleh penulis-penulis masa kini. Tidak hanya mereportase, Drijarkara juga memberikan pelajaran dan memberikan makna mendalam dalam setiap tulisannya. Selain itu, Drijarkara juga memberikan gambaran mengenai bagaimana memanusiakan manusia dengan analogi yang menarik. Menurutnya, seorang perawat tidak hanya bermodalkan suntik saja tetapi juga pelayanan dan penuh dengan senyuman. Drijarkara berusaha menjelaskan bahwa sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang lain tidak hanya benda fisik semata, melainkan juga kehangatan dan pelayanan yang baik. Sebenarnya, Drijarkara tidak hanya membahas dari sisi pendidikan semata, melainkan juga hal-hal lain, seperti politik pemerintahan, olahraga, remaja, bahkan lingkungan. Dalam sebuah tulisannya yang menarik, Drijarkara mengungkapkan bahwa suatu Negara hendaknya seperti Paduan Suara, bukan penyanyi yang bernyanyi bersama-sama tanpa adanya  harmonisasi dan rasa saling membutuhkan satu sama lain. Menutup sesi, beliau mengungkapkan bahwa sosok Drijarkara adalah seseorang yang tidak ingin dipandang terlalu tinggi sebagai seorang filsuf, Drijarkara adalah seseorang yang lugas, original, dan penuh dengan lelucon.
Pembicara yang terakhir yakni Romo Dr. G. Budi Subanar, S.J atau yang akrab dipanggil Romo Banar. Beliau sangat bersemangat untuk mengumpulkan tulisan-tulisan dan karya dari Drijarkara. Beliau juga menjadi salah satu inisiator rangkaian kegiatan Peringatan 100 Tahun Drijarkara ini. Mengawali pemaparannya, Rm. Banar berusaha merendah bahwa beliau hanya berperan untuk meniupi buku-buku tua dan hasil tulisan Drijarkara yang telah berdebu. Selanjutnya beliau bercerita bahwa pertama kali mengajukan ide untuk menerbitkan sebuah buku mengenai Drijarkara, Romo Banar menghadapi banyak tantangan pertanyaan. Bagaimana menghadapi politik konsumen? Relevansi terhadap relaitas dunia saat ini? Dan, Siapakah Drijarkara? Sampai pada suatu titik, Romo Banar menemukan sasaran untuk buku tersebut yakni pendidikan ala warung pojok. Suatu sistem pendidikan atau status sosial yang berawal dari obrolan-obrolan warung. Terkesan sederhana namun pada kenyataannya sarat dengan makna. Selanjutnya menururt beliau, sosok Drijarkara selalu memunculkan kontradiksi dengan modernitas. Bukan dengan bahasa yang filosofis nan serius, namun justru dengan bahasa sederhana atau biasa disebut dagelan ala bagelen. Sebagai contoh Drijarkara sering melontarkan analogi perbandingan, seperti bom atom dan apem, coca-cola dan wedang ronde, serta hak tinggi dan obat cacing. Drijarkara berusaha membahas mengenai hal-hal lokal yang tetap menjadi keunikan dan keistimewaan masyarakat Indonesia. Dalam setiap pengalamannya Drijarkara tidak menjadi seseorang yang sangat gumunan (terheran-heran) dengan kebudayaan barat, tetapi selalu mampu menemukan keistimewaan lokal Bangsa Indonesia. Dalam menjelaskan informasi Drijarkara tidak hanya menggambarkan bahwa dirinya berada di tempat tersebut semata, tetapi juga berusaha memberikan arti yang mensejarah sehingga tidak hilang begitu saja. Drijarkara memberikan informasi yang senantiasa mengajak kita untuk berpikir dengan bahasa yang mudah dan narasi yang begitu mendekatkan pada pengalaman.
Setelah sebelumnya membahas mengenai tulisan-tulisan Drijarkara. Selanjutnya ada sebuah sesi menarik yang membuat seminar tersebut menjadi semakin komprehensif. Selain ke-4 pembicara terdapat pula 2 orang bintang tamu. Saksi hidup yang pernah bekerja bersama Drijarkara dan pernah menjadi murid Drijarkara. Bintang tamu yang pertama adalah Mbah Tedjo. Menurut Mbah Tedjo, Drijarkara adalah sosok seorang pemimpin yang memiliki bahasa yang sulit namun tetap mengajak orang lain untuk terus belajar. Selain itu, dalam kesehariannya Drijarkara adalah seseorang yang tidak memandang agama, kebudayaan dan seorang tokoh yang sangat nasionalis. Satu hal penting yang diyakini Mbah Tedjo yakni pemikiran-pemikiran Drijarkara akan selalu berkembang tanpa henti. Tokoh yang selanjutnya yakni Pak Albertus Suherman atau yang akrab dipanggil dengan Pak Mariman. Beliau bertutur bahwa sosok Drijarkara adalah seseorang yang terkesan angker namun penuh dengan kebijaksanaan. Satu hal yang paling berkesan ketika Drijarkara mengajar, yakni beliau dalam ruang perkuliahan pernah meontarkan sebuah pernyataan filosofis yakni “ADA itu apa?”
Ahir kata, semoga semangat dan perjuangan utama  Drijarkara tidak pernah mati dan senantiasa hidup dalam perjuangan pergerakan masa kini. Satu spirit yang harus terus dihidupi HOMO HOMINI SOCIUS. (ssp)

  kembali