Di tengah hiruk-pikuk persiapan Ujian Akhir Semester dan Penerimaan Mahasiswa Baru USD Tahun Akademik 2013/2014, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma merayakan hari ulang tahunnya yang ke-20 atau biasa disebut dengan Lustrum ke IV. Perayaan Lustrum ke IV tersebut dilaksanakan dalam beberapa rangkaian kegiatan antara lain: Pemutaran Film (21-23 Mei), Anjangsana Purna Tugas (25 Mei), Stand Up Comedy USD (27 Mei), Seminar Ilmiah (29 Mei), dan ditutup dengan Family Gathering yang akan diadakan tanggal 16 Juni 2013.
Dari rangkaian kegiatan tersebut dapat dilihat bahwa dalam perayaan kali ini, Fakultas Sastra USD berusaha mengajak seluruh civitas akademika untuk turut merayakan hari jadinya yang ke-20. Segenap panitia mampu membentuk rangkaian kegiatan yang tidak hanya berorientasi dari sisi akademik dan formal semata, melainkan juga diimbangi dengan materi ringan yang berhasil disajikan dengan menarik oleh Stand Up Comedy USD. Sejatinya dari antara keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut Seminar Fakultas Sastra USD merupakan puncak acara dari Lustrum ke IV.
Seminar dalam rangka Lustrum IV Fakultas Sastra USD berlangsung pada hari Rabu (29/5) bertempat di ruang Koendjono, lantai 4 Gedung Pusat USD dengan tema “Meretorik Ulang Indonesia”. Menurut Dr. Drs. Hieronymus Purwanta M. A. selaku Ketua Panitia, latar belakang tema tersebut diangkat, berawal dari keprihatinan bahwa bangsa Indonesia seringkali dipandang negatif baik oleh peneliti asing maupun oleh peneliti Indonesia sendiri. Dengan demikian diperlukan suatu wadah untuk memformulasi sesuatu yang negatif tersebut menjadi hal yang lebih positif bahkan diperlukan narasi dan pembahasan yang mendalam mengenai bangsa Indonesia itu sendiri, sehingga melalui seminar ini dapat ditemukan solusi yang sesuai dari kritik sosial terutama yang berkaitan dengan Fakultas Sastra.
Masuk ke dalam deskripsi acara, Seminar Lustrum IV Fakultas Sastra USD dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sembari diiringi oleh piano. Seluruh peserta seminar berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan tersebut dengan khidmat dan penuh rasa nasionalisme. Selanjutnya acara dibuka dengan sambutan yang dibawakan oleh Dr. F. X. Siswadi, M.A. selaku Dekan Fakultas Sastra USD. Beberapa hal menarik yang diungkapkan oleh beliau yakni di Ulang Tahun yang ke-20 ini, hendaknya Fakultas Sastra mampu bersikap proaktif untuk lebih mendengarkan kaum-kaum yang terliar dan lebih merendahkan hati untuk menerima dan meretorik kembali definisi dari Indonesia. Fakultas Sastra yang telah memiliki 3 Guru Besar, 10 dosen S3, 6 dosen yang sedang dalam proses S3, dan dosen-dosen lain yang yang telah bertitel S2 diharapkan mampu menciptakan sarjana sastra yang kreatif, luhur, dan siap menghadapi tantangan kerja secara kritis. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S. J selaku Rektor USD. Beliau menuturkan bahwa semenjak menjabat menjadi Rektor di Universitas ini, ada beberapa kesan mendalam yang didapatkan berkaitan dengan Fakultas Sastra. Fakultas Sastra merupakan Fakultas pembeda USD dengan Universitas yang lain. Para pendidik di Fakutas Sastra memiliki keunikan, yakni mereka mampu berpikir secara merdeka namun tetap militant dalam bersikap. Hal tersebut yang menjadikan Fakultas Sastra mampu berkembang sedemikian pesat menjadi salah satu fakultas favorit yang diperhitungkan di tingkat Nasional bahkan Internasional. Berdasarkan hasil survey terkini, Menurut Kompas, Fakultas Sastra Inggris menduduki peringkat ke-2 kampus dengan jurusan Sastra Inggris terbaik se-Indonesia dan menurut hasil survey yang lain, Peringkat ke-4 Nasional Fakultas dengan Media Komunikasi terbaik. Selanjutnya, Rektor sedikit berkelakar bahwa pidato-pidato dan sambutan yang sering ia bawakan merupakan hasil buatan dari salah satu lulusan Fakultas Sastra yang saat ini bekerja sebagai asisten beliau.
Setelah sambutan, acara beralih kepada peluncuran buku Sastra Paddhati: Merajut Ilmu Humaniora. Secara simbolis, peluncuran buku tersebut dilaksanakan dengan memberi buku kepada beberapa bintang tamu yang mewakili Universitas Sanata Dharma dan beberapa perwakilan lembaga terkait lainnya.
Selanjutnya, Seminar tersebut memasuki acara utama yakni Orasi Ilmiah yang di bawakan oleh Dr. St. Sunardi dengan judul “Mereaktualisasi Fakultas Humaniora di USD untuk Manusia Abad 21.” Orasi Ilmiah tersebut, diawali dengan pernyataan bahwa usia 20 tahun Fakultas Sastra pada hakekatnya sama seperti masa akil-balik pada manusia, yakni masa- masa pencarian jati diri. Tidak hanya berpusat ke dalam tetapi mulai mampu untuk out of the box dan berinteraksi ke luar secara sosial. Kemudian, beliau juga berusaha membuka mata para peserta seminar bahwa Fakultas Sastra sebaiknya mampu menjawab krisis humanitas. Sebuah kutipan menarik yang di sampaikan beliau yakni “Humanities Sastra yang saat ini memasuki masa-masa kritis perlu diselamatkan, karena hal ini dapat berdampak pada idenitas suatu bangsa, bagaimana mungkin bangsa ini dapat bertahan tanpa sejarah dan kebudayaannya sendiri.” Lebih jauh lagi, beliau juga menawarkan sebuah solusi provokatif berkaitan dengan fakultas sastra untuk menjawab permasalahan tersebut. Beliau menawarkan perubahan nama Fakultas menjadi Fakultas Humaniora dan Seni dengan tambahan Program Studi Kajian Sastra dan Filsafat. Dengan demikian, seni sebagai ekspresi dari sastra dapat tetap muncul sehingga dapat membangkitkan kembali humanitas dan tidak hanya bergerak pada ranah teologikal tetapi juga berani terbuka terhadap ilmu-ilmu baru.
Seminar selanjutnya menghadirkan 3 pembicara yakni Dra. A. B. Sri Mulyani, M.A., Ph. D.; Dr. Yoseph Yapi Taum, M. Hum.; dan Drs. Silverio R.L. Aji Sampurno, M. Hum. Pembicara pertama yakni Ibu Dra. A. B. Sri Mulyani, M.A., Ph. D membawakan makalah yang berjudul “Ocehan Sastra, Celotehan Bahasa: Meretorik Ulang Indonesia (atau Fakultas Sastra).” Beliau menegaskan bahwa makalah yang ia bawa pada siang hari itu merupakan ocehan dan celotehan yang membawa pesan dan gagasan. Retorika dan strategi wacana ini sudah bernuansa ideologis walaupun akan bebas bergerak tanpa alur dan aturan dalam meretorik ulang Indonesia. Dalam makalahnya beliau juga menuturkan berbagai konsep mengenai “barat-timur,” “asing-asli,” “local-global,” dan “perempuan-pria.” Walaupun penggunaan “binary oppositions” sangat praktis dan efektif dalam membahas konsep tersebut, namun tetap saja belum dapat mengungkapkan heterogenitas konsep-konsep tersebut.
Pembicara kedua yakni Dr. Yoseph Yapi Taum, M. Hum membawa makalah yang berjudul “Manusia Indonesia dan Keterpenjaraannya : Meretorik Ulang Indonesia.” Dalam makalahnya, beliau membahas beberapa hal menarik antara lain (1) keterpenjaraan perspektif Heidegger; (2) Keterpenjaraan Manusia Indonesia; (3) beberapa imajinasi tentang Indonesia: Pengalaman Orde Lama; (4) Sosok Leviathan Negara Orde Baru; (5) Leviathan Moral dalam Orde Reformasi; dan diakhiri dengan (6) Penutup: membuka ruang multikutural. Mengawali pembahasan makalah, beliau menjelaskan bahwa manusia pada prinsipnya mengalami keterpenjaraan atau keterlemparan dalam hidupnya. Namun demikian, kebermaknaan dan otentitas hidup justru diperoleh dari ketidakpastian. Ketidakpastian itulah yang membuat manusia memiliki harapan dan termotivasi untuk hidup. Berdasarkan konsep tersebut individu ataupun kelompok pada dasarnya mengalami keterpenjaraan di dalam sebuah lingkungan yang dinamakan Indonesia. Dengan keterpenjaraanya tersebut individu harus menerima keadaan. Dalam hal ini menerima bahwa Indonesia tercipta sebagai sebuah “kecelakaan sejarah” karena terbentuk berkat penjajahan kolonial belanda. Selanjutnya Indonesia masuk ke dalam era orde lama yang berusaha menemukan bentuk pas dalam membangun sistem pemerintahan dan ideologinya. Pertentangan antara idologi musim-nonmuslim, jawa-daerah, barat-asing, bahkan pertentangan antara 3 kekuatan utama yakni nasionalis-agama-komunis turut mewarnai perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia. Selanjutnya beliau juga menjelaskan bahwa era orde baru pada dasanya merupakan periode kekerasan, tanpa adanya kebebasan. Era Reformasi pun pada dasarnya tidak lebih baik dari orde baru. Benih-benih perbedaan dan konflik sosial yang ditekan selama pemerintahan militeristik sebagai SARA bangkit seperti monster yang mencari mangsa. Beliau juga mengungkapkan beberapa fakta-fakta kasus SARA yang terjadi di Indonesia. Menutup sesi ke-2, beliau menegaskan bahwa cara-cara kekerasan yang digunakan pada dasarnya tidak mendidik bangsa Indonesia untuk membangun konsensus demokratis yang mengutamakan kerjasama dan kompromi. Kaum intelektual perlu melaksanakan tugas profetiknya untuk meretas irasionalitas kehidupan bangsa dan mewujudkan modus kehidupan yang otentik.
Pembicara terakhir sekaligus menutup sesi seminar dibawakan oleh Drs. Silverio R.L. Aji Sampurno, M. Hum dengan makalah yang berjudul “Peran Warga Fakultas Sastra dalam Aktivitas Tanggung Jawab Sosial Perusahaan: Tantangan dan Peluang.”Dalam makalahnya beliau menjelaskan bahwa tangung jawab sosial perusahaan pada hakikatnya adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar tempat perusahaan itu berkegiatan untuk berusaha. Hal tersbut terwujud dalam CSR (Corporate Social Responsibility) yang merupakan fenomena strategi perusahaan untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan para stakeholder. Pada bagian selanjutnya beliau mengupas tuntas berbagai hal mengenai CSR. Beliau pun mengungkapkan bahwa, sebenarnya CSR merupakan sebuah konsep pembangunan berkelanjutan, di mana suatu perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun juga harus memperhatikan lingkungan dan juga kesejahteraan sosial masyarakat di sekitarnya. Kehadiran bidang sastra dan sejarah pun memiliki peran yang signifikan untuk menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pendekatan komunitas, pendekatan pemecahan masalah, pendekatan eksperimental, pendekatan konfik kekuatan, pengelolaan sumber daya alam, dan perbaikan lingkungan komunitas masyarakat perkotaan, sebelum mereka melakukan aktivitas CSR. Konsentrasi ketiga bidang studi di Fakultas Sastra USD yang mengkaji kebudayaan tentu sangat bermanfaat untuk melakukan kajian pra dan pasca implementasi CSR.
Sebelum memasuki sesi tanya-jawab, peserta seminar dihibur oleh Stand Up Comedy yang dibawakan oleh Gigih Adiguna. Sembari para peserta mempersiapkan skema pertanyaan yang telah tertahan selama sesi seminar, Gigih mampu mencairkan suasana dengan membuat para peserta seminar tertawa lepas. Selanjutnya, seminar memasuki sesi tanya jawab. Para peserta seminar yang sebagian besar berasal dari Fakultas Sastra terlihat sangat bersemangat dalam merespon sesi sebelumnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul dan bentuk pertanyaan yang sangat kritis dan menarik untuk dibahas lebih dalam. Bahkan beberapa penanya nampak tidak mendapatkan kesempatan karena baik para peserta maupun pemakalah sangat antusias untuk membahas lebih jauh mengenai materi yang mereka paparkan sehingga tidak terasa waktu yang disediakan habis. Pada bagian penutup, para pemakalah mendapatkan kenang-kenangan dari panitia kemudian dilanjutkan dengan makan siang.
Akhir kata Seminar Lustrum IV FS USD berusaha untuk melangkah lebih jauh lagi dalam menjawab tantangan zaman dan meretorik ulang Indonesia secara kritis. HAPPY BIRTHDAY FS USD !! (ssp)




