USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Bangga Kuliah di Jogja Sembari Menyelamatkan Indonesia

diupdate: 14 tahun yang lalu


Hari Minggu adalah harinya Tuhan, begitu banyak orang biasanya berkata. Hari Minggu juga merupakan hari yang sangat menyenangkan untuk berkumpul bersama keluarga, melepas penat setelah 6 hari bekerja maupun menempuh studi. Namun bagi banyak komunitas, instansi pendidikan, dan juga masyarakat Jogja di sekitar Jalan Malioboro, hari Minggu (19/5) ada yang berbeda. Car Free Day? Bukan, itu sudah terlalu umum, tidak perlu ke Jogja jika hanya ingin merasakan Car Free Day. Senam irama? Tentunya tidak perlu menunggu hari Minggu untuk bisa melaksanakan hal ini. Upacara bendera? Sepertinya hari Kebangkitan Nasional jatuh pada tanggal 20 Mei, bukan 19 Mei. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal itu? Jawabannya adalah di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta, terhitung dari taman parkir Abu Bakar Ali hingga titik 0 km Jogja, dipenuhi oleh masyarakat jogja dari berbagai usia, anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga para pembesar instansi dan juga pemimpin agama, karena pada saat itu ada sebuah gerakan yang serentak dilaksanakan di sana yang dihadiri oleh masyarakat dan berbagai komunitas, gerakan itu adalah gerakan Save Indonesia.
Sebelum berbicara lebih dalam mengenai Save Indonesia ini, silahkan hindari pemikiran demonstrasi liar dan juga aksi-aksi vandalis serta memblokir jalan seperti yang biasanya dilakukan mahasiswa. Gerakan ini jauh berbeda dengan gerakan reaktif seperti itu. Gerakan Save Indonesia berfokus pada tindakan preventif, membangun kesadaran bersama atas apa yang sebenarnya terjadi di Negara Indonesia ini, masalah apa yang ada dan kesadaran ideal yang harus dibangun untuk menyelamatkan Indonesia tercinta ini. Oleh karenanya, pelaksanaan acara ini pun terbilang terkoordinir dengan baik. Gerakan ini dimulai dengan flash mob sepanjang jalan Malioboro. Saat musik penuh semangat mengalun, mendadak semua peserta menari, bergerak secara sinkron, bukan hanya seirama dengan musik namun tua muda, besar kecil, bergerak bersamaan seperti memiliki pikiran yang sama. Semangat menyelamatkan Indonesia, itulah yang sekiranya bisa digambarkan di sana. Keceriaan, gelak tawa, hentakan semangat, dan teriakan yang membahana memecah keheningan pagi di jalan Malioboro. Tapi tunggu dulu, apakah menyelamatkan Indonesia hanya dengan seperti itu saja? Melakukan flash mob? Tentu saja tidak, setelah flash mob usai, muncul perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah, Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, dan tentu saja Jawa mendeklarasikan pernyataan Save Indonesia. Tidak hanya berhenti di situ saja karena ternyata Ibu Menpora, Ismarindayani Priyanti atau Ririn Suryo, turut hadir dan memberikan beberapa patah kata yang membakar semangat seluruh peserta yang hadir di sana. Tentu saja dengan semangat yang masih menggelora, melanjutkan flash mob setelah musik dengan beat yang cepat kembali diputar.
Keceriaan dan perjumpaan itu tidak berhenti sampai di situ saja karena setelah flash mob terakhir selesai dilaksanakan, APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) melanjutkan kegiatan tersebut dengan jalan sehat yang tentunya tidak kalah seru dengan kegiatan sebelumnya. Dalam kegiatan jalan sehat ini, USD juga turut serta, bukan hanya mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini, Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J., M.Sc. Rektor USD juga ikut ambil bagian dalam kegiatan ini didampingi oleh Wakil Rektor 1 Dr. Fransisca Ninik Yudianti, M.Acc., Wakil Rektor 2 Drs. Laurentius Bambang Harnoto, M.Si., dan beberapa dosen USD. Sepuluh mahasiswa USD yang mewakili Student Residence juga tidak kalah bersemangat dalam kegiatan ini. Setelah dipompa semangatnya oleh kegiatan Save Indonesia, para mahasiswa USD berada pada garis depan saat jalan sehat ini dimulai, bahkan spanduk panjang bertuliskan “Bangga Kuliah di Jogja” di gelar dan dibentangkan oleh mahasiswa USD. Layaknya semut yang sudah menemukan makanan, para peserta bergerak dengan cepat, taktis, dan berkelompok menuju rute yang sudah ditentukan sebelumnya.
Saat ada perjumpaan, tentunya di sana ada perpisahan, sama seperti kegiatan ini, berjalan dari garis start dan diakhiri di garis finish, seluruh peserta pun beristirahat. Namun acara belum selesai sampai di sana. Saat sudah melalui garis finish, seluruh peserta beristirahat sembari dihibur oleh pertunjukan seni musik baik tradisional dengan menggunakan angklung maupun modern dengan alat band lengkap dengan distorsinya. Saat yang paling dinanti pun tiba, di mana seluruh pembesar dari setiap Universitas yang hadir di sana maju dan membacakan deklarasi Universitas Swasta Bangga Kuliah di Jogja, tentunya USD diwakili oleh Romo Wiryono. Dengan berakhirnya deklarasi tersebut, berakhir pula acara yang sudah dimulai dari pukul 6 pagi sekaligus menutup hari Minggu yang mempesona itu. (DAYC dan SSP)

  kembali