Jumat (17/5) Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSLUSD) mengadakan kegiatan Diskusi dan Peluncuran Buku “Naga Terbang Wendit; Keanekaragaman Capung Perairan Wendit, Malang, Jawa Timur” yang diterbitkan atas kerjasama Indonesian Dragonfly Society, Chevron Indonesia, dan Universitas Sanata Dharma.
Keberadaan capung (ordo odonata) di lingkungan kita, kadang tidak terperhatikan, dia kadang dianggap sebagai hewan yang tidak bermanfaat, kecuali untuk makanan burung, pengobatan, dan bahkan dimakan, sebagaimana halnya belalang kayu (valangia nigricornis) di Gunung Kidul. Pada kenyataannya, hewan ini memiliki manfaat yang sangat penting bagi kehidupan kita, salah satunya adalah sebagai bioindikator lingkungan perairan, demikian disampaikan oleh Tri Priantoro pada kesempatan diskusi tersebut.
Sekelompok anak muda di Malang memiliki kepedulian untuk mempelajari hewan ini, yang kemudian mereka membuat kelompok yang diberi nama Indonesian Dragonfly Society. Bentuk kepedulian itu adalah dengan mencari literatur tentang capung ini sampai mendokumentasikannya secara detail, mulai dari kawin sampai akhirnya menjadi capung. Dan akhirnya karya mereka bukukan dengan judul seperti di atas.
Pada kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Sekretariat PSLUSD, Soropadan, Condongcatur ini, lima orang berkesempatan menjadi pembicara, yakni (1) Sigit Rahadi, S.Pd. dari Indonesian Dragonfly Society, berbicara tentang proses pembentukan komunitas penggemar capung sampai dengan penyusunan buku; (2) Dr. Karyadi Baskoro dari Universitas Diponegoro, berbicara tentang “Ranah Strategis Peta Biodiversity Capung di Tengah Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia”; (3) Dr. P. Wiryono Priyatamtama, S.J. dari PSLUSD, berbicara tentang “Science Citizen”; (4) Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. dari PSLUSD berbicara tentang “Bio Indikator dan “Eko-Toksikologi”, dan (5) Drs. Silverio R. L. Aji Sampurno, M.Hum. dari PSLUSD, berbicara tentang “Etno-Tipifikasi”
Menurut Doktor Karyadi kekayaan biodiversitas kita masih belum banyak terdokumentasi dengan baik, kita masih mengacu ke para ahli dari bangsa asing, yang disebutnya dengan istilah “Para Dewa”. “Kita masih perlu melakukan inventarisasi dan pendokumentasian keanekaragaman hayati di Indonesia”. Untuk itulah maka diperlukan pemahaman keilmuan masyarakat yang dalam istilah Romo Wiryono disebut dengan “Science Citizen” pengetahuan yang digali dan berasal dari masyarakat, yang kemudian ditimpali oleh Silverio dengan istilah etno-tipifikasi, penamaan atau penggolongan sesuatu sesuai dengan pengetahuan masyarakat atau etnis yang bersangkutan.
Diskusi berlangsung sangat hangat, karena banyak peserta yang belum begitu banyak tahu tentang fungsi hewan ini, diskusi yang dijawalkan berlangsung selama dua jam, dari jam 09.30-11.30 wib akhirnya molor sampai pukul 12.15 wib dan dilanjutkan ngobrol bebas sampai pukul 15.00. (rio)




