“Perjuangan melawan kekerasan akan seperti siput yang berjalan perlahan namun pasti dan akan selalu mengingatkan bahwa hal kekerasan terus terjadi di sekitar kita.“
Kutipan tersebut merupakan sebuah kalimat yang diutarakan oleh Rm. Mutiara Andalas, SJ untuk menggambarkan bagaimana perjuangan melawan kekerasan dan membangun perdamaian akan berjalan dengan sangat perlahan namun penting untuk selalu di dengungkan agar mengingatkan bahwa kekerasan masih terjadi di sekitar kita. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang diadakannya Seminar dengan tema Intelektual Muda Meretas Budaya Kekerasan pada hari Sabtu 11 Mei 2013 di Ruang Koendjono lantai 4 Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma. Seminar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari Integrity Days 2013. Integrity Days merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Campus Ministry (CM) bekerja sama dengan komunitas-komunitas di Universitas Sanata Dharma yang bertepatan dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan nasional (20 Mei). Setiap tahun Integrity Days selalu mengusung tema yang berkaitan dengan kemanusiaan dan keprihatinan sosial tertentu. Untuk Tahun ini Integrity Days mengangkat tema “Lawan Kekerasan, Bangun Perdamaian.”
Seminar tersebut menghadirkan 3 pembicara dengan topik yang berbeda, yakni (1) Monica Eviandaru, M. App. Psych. dengan topik “Budaya kekerasan dalam Masyarakat: Perspektif Psikologi Sosial”, (2) Dr. Ari Subagyo, M. Hum dengan topik “Media Massa dan Konstruksi Kekerasan Massal”, dan (3) Dr. Mutiara Andalas, SJ. dengan topik “Menuju Budaya Damai Tanpa Kekerasan”.
Seminar tersebut berhasil membakar semangat para peserta untuk keluar dari zona nyaman mereka masing-masing dan tergerak dengan lantang bersuara, berusaha melawan kekerasan di sekitar mereka yang seringkali diabaikan. Menurut Bu Monic, salah satu pembicara sekaligus dosen Fakultas Psikologi USD, “Perlawanan melawan kekerasan hendaknya dimulai dari hal yang paling simple yakni berusaha untuk tidak diskriminatif dan adil sedari pikiran dan pandangan kita terhadap orang lain.” Selain itu Bu Monic juga mengingatkan bahwa berbagai diskusi, seminar, dan pelatihan semacam ini menjadi semacam multi level marketing kegelisahan. Dan semoga akumulasi dari berbagai kegelisahan ini akan melahirkan momentum perubahan untuk membangun perdamaian yang lebih baik lagi.
Di samping itu, Dr. Ari Subagyo, M. Hum. memaparkan sebuah langkah efektif untuk mengkampanyekan gerakan anti kekerasan. Menurut dosen Program Studi Sastra Indonesia USD ini, media massa dapat berperan sebagai pisau bermata dua. Media massa dapat berperan sebagai senjata meningkatkan tindak kekerasan, namun di sisi lain, dapat pula dijadikan sarana untuk mengkampanyekan gerakan perdamaian melalui jurnalisme damai dan jurnalisme lembut. Kedua istiah tersebut mengacu pada teknik-teknik penyampaian berita dengan bahasa yang positif dan tidak diskriminatif.
Pada sesi terakhir dari pembicara Dr. Mutiara Andalas, SJ mengingatkan kepada kita bahwa kekerasan seringkali justru dijadikan tontonan menarik bagi masyarakat umum. Lebih jauh menurut beliau, kekerasan itu sendiri seringkali bersifat seperti Tuhan, yakni misterius dan spektakuler. Untuk itu gerakan semacam ini perlu dilakukan untuk menghindarkan kita agar tidak menjadi “masyarakat pertunjukan” yang berempati terhadap kekerasan.
Selanjutnya diskusi berjalan dengan menarik dan para peserta seminarpun terlihat antusias untuk mendiskusikan tema yang diangkat pada siang hari itu. Salah satu pertanyaan yang cukup menggelitik, yakni “apakah kekerasan itu sendiri merupakan sifat dasar manusia yang diturunkan? Dan apabila benar adanya, bagaimana cara kita mensikapinya?”
Selanjutnya seminar ditutup dengan kampanye dan deklarasi untuk melawan kekerasan dan membangun perdamaian dengan berfoto di depan sebuah booth yang berlatar belakang tema acara, untuk kemudian diunggah ke jejaring sosial. (putra)




