USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Perempuan dan Seni Klasik dalam Drama Mahasiswa PBSID USD

diupdate: 14 tahun yang lalu


Saat mendengar istilah pendidikan sebagai salah satu pilihan program studi di level universitas, mayoritas orang akan beranggapan bahwa setelah lulus dari program studi tersebut pasti hanya akan menjadi guru atau mungkin bisa juga mereka beranggapan bahwa yang dipelajari pasti hanya materi yang bersangkutan dengan jurusan dan cara mengajar saja. Mungkin jika anda masih berpikir seperti itu, anda seharusnya datang ke kampus 1 Universitas Sanata Dharma pada tanggal 3 Mei dan 6 Mei. Apa istimewa dari hari itu? Pada dua hari tersebut, para mahasiswa angkatan 2010 dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBISD) menjawab pertanyaan dan ketidakjelasan di atas dengan menyelenggarakan 2 pementasan drama, “Jenis Kelamin Saya Perempuan” pada tanggal 3 Mei 2013 dan “Divinere” pada tanggal 6 Mei 2013.
Dua konsep yang berbeda diangkat oleh para mahasiswa dari PBSID kelas A dan kelas B. “Jenis Kelamin Saya Perempuan” adalah drama yang digagas oleh teman-teman mahasiswa dari kelas A. “Wanita ada beragam dan di sini kami berusaha untuk lebih mengeksplorasi mereka, bagaimana beban mereka, peran mereka entah sebagai ibu, warga masyarakat dan dalam konteks budaya. Responsibilitas mereka juga berusaha kami kupas di sini” tegas Yanti sebagai salah satu pemeran dalam drama tersebut. Feminisme, mungkin itulah yang muncul dari benak anda jika anda penggila sastra. Jangan harap anda akan mendapatkan sebuah cerita yang panjang selama 1 jam karena di sini mereka dengan cerdiknya membungkus berbagai macam wanita dalam tiap fragmen yang berbeda yang akhirnya semua disatukan dan ditegaskan dalam fragmen terakhir. Drama dari rekan-rekan mahasiswa kelas A ini bisa dibilang cukup berani karena mereka mampu memadukan lagu yang bukan instrumental ke dalam drama ini walaupun ini bukan drama musikal. Penonton juga tidak dibiarkan menanti begitu saja pada saat black out sebab mereka selalu menyajikan narasi yang menyentuh dan ilustrasi yang indah dalam masa black out. Alur pembungkusan drama ini juga menarik karena tidak selalu segalanya serius, dalam perjalanannya disertai juga sedikit candaan yang mampu membuat penonton tertawa terbahak-bahak.
Berbeda dengan kelas A dengan unsur wanita dan perempuan yang kental, rekan-rekan kelas B justru mengangkat sebuah tema klasik yang pastinya sudah akrab dengan anda para penggila seni. Oedipus Rex karangan Sophocles yang juga pernah diangkat menjadi opera oleh Igor Stravinsky menjadi dasar konsep dari rekan-rekan kelas B. Oedipus Rex, yang juga menjadi dasar dari Oedipus Complex-nya Sigmund Freud, berhasil ditampilkan dengan megah oleh rekan-rekan kelas B. Yunani yang menjadi setting lokasi dari cerita ini berhasil diangkat sejak anda mulai memasuki pintu pertunjukan, lalu setelah anda masuk ke dalam ruang pertunjukan dan melihat panggung, anda akan terpesona oleh megahnya istana Thebes dengan bara api yang membara dan singgasana emas yang berdiri tepat di puncak panggung tersebut. Jika mayoritas orang mungkin memilih untuk membuat patung sebagai properti panggung, mereka justru berpikir sebaliknya, manusia yang justru berperan sebagai properti panggung, sungguh sangat kreatif, patung dewa Apollo bukan terbuat dari Styrofoam atau sak semen bekas yang dicat namun berasal dari manusia hidup yang bernafas, tegap, dan sempurna. Tidak hanya berhenti di situ saja, suara yang lantang dan ekspresi yang memukau diperankan dengan baik oleh para mahasiswa PBSID. “Kekuasaan hanya bisa didapatkan dengan uang dan tentara,” tegas raja Oedipus dalam sepengal drama tersebut. Pencahayaan yang tepat dan blocking yang baik menambah kenikmatan tersendiri dalam perjalanan drama ini. Namun muncul sebuah pertanyaan, kenapa berjudul Divinere? Septi sebagai CP dari drama tersebut menjelaskan bahwa Divinere diambil dari kata Yunani yang berarti ramalan hidup, sesuai dengan jalan ceritanya tentunya. “Kami mengambil konsep ini karena kami berusaha untuk tampil berbeda, saat budaya pop sudah menjadi mainstream, kami mecoba untuk tidak terpengaruh hal tersebut. Maka dari itu kami mengangkat tema klasik yang bisa kami temukan dalam drama ini, dan itu ada dalam Divinere. Mungkin bagi kebanyakan orang, klasik itu kuno, tapi bagi kami, kuno tidak selalu usang, dan yang usang  itu belum tentu buruk. Seperti visi misi Uneversitas Sanata Dharma yang cerdas dan humanis, kami berusaha mengangkat bahwa seorang raja juga manusia, takut akan dewa, hidup dan mati, inilah sisi manusiawinya, pembelajaran humanisme yang kami angkat.” tegas Desty Jumaryani sebagai Sutradara.
Ada hal yang memang cukup mengagetkan di sini karena yang hadir pada 2 malam tersebut bukan hanya mahasiswa dari USD namun ada juga mahasiswa dari beberapa universitas lain, bahkan ada pula siswa SMA yang juga turut hadir pada malam tersebut. Tentunya karena ini diadakan dalam sebuah instansi pendidikan, ada beberapa peraturan drama secara universal yang harus ditaati pengunjung yaitu tidak boleh merokok, menggunakan blitz dan mengomentari ataupun mengganggu jalannya drama dengan cara apapun. Diawali dengan tawa, rekan-rekan PBSID angkatan 2010 telah berhasil menutup malam tersebut dengan sangat epic. (DAYC)

  kembali