Sabtu (4/5) fakultas Psikologi dan program studi Bimbingan & Konseling (BK) Universitas Sanata Dharma mengadakan “Marital Counseling Workshop” di ruang Drost Kampus 3 Universitas Sanata Dharma. Workshop ini adalah seri kedua dari tiga workshop yang diselenggarakan secara serial. Seri pertama adalah Premartial Counseling Workshop, sedangkan seri ketiga adalah Family Counseling Workshop yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 Mei 2013.
Workshop dipimpin Fr. Teudulo P. Gonzales S.J., Ph.D., diawali dengan pemutaran klip film yang menunjukkan betapa bahagianya saat-saat awal orang dalam masa pernikahan. Meski demikian, dalam kehidupan berumahtangga yang sebenarnya tidak selamanya suasana selalu menyenangkan. Teudulo melanjutkan dengan kisah Yesus membuat mujizat yang pertama di Kana. Ada alasan mengapa Yesus menunjukkan mujizat pertamaNya di acara pernikahan. Pernikahan adalah hal yang besar dan penting. Hendaklah masa-masa sulit dalam kehidupan pernikahan dilewati karena kita akan melihat hal yang indah dan besar di balik itu semua, sama seperti tatkala orang-orang di Kana baru merasakan anggur yang enak setelah pesta pernikahan hampir usai. Dalam workshop ini, Teudulo memperagakan bagaimana cara memberikan konseling dengan mengundang peserta yang kebetulan sepasang suami istri.
Sebagai moderator dalam workshop ini Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi. yang menerjemahkan uraian Teudulo. Disampaikannya bahwa dalam suatu pernikahan kadang-kadang ada sesuatu yang tidak diharapkan. Anggur yang diharapkan manis, kadang terasa pahit dan tidak mengenakkan. Tantangan pernikahan masa kini di antaranya adalah penyangkalan, hilangnya jati diri, ketakutan, reaktif, kurang kepuasan seks, dan kekecewaan. Ada beberapa prediksi perceraian, yaitu ketika pasangan hanya melihat sisi buruk, merendahkan pasangan, menyalahkan pasangan, dan ketidakpedulian. Pasangan perlu menyadari bahwa kehidupan pernikahan mereka tidak hanya selalu tampak manis di awal lalu semuanya berubah buruk seperti hidup di neraka, tetapi bagaimana mereka menerima ketidaksempurnaan dan melakukan sesuatu untuk menjadi lebih baik. (bst)




