Dua mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma yaitu Dicky Sugianto angkatan 2009 dan Puji Wijaya angkatan 2008 pada tanggal 18-20 April 2013 ke Amerika Serikat untuk mempresentasikan poster penelitian berjudul “Predictor of Early Addition Skill in Indonesia Preschool”. Mereka mengikuti konferensi “2013 SRCD Biennial Meeting” di Washington Convention Center, Seattle, Amerika Serikat yang dihadiri oleh banyak peneliti, para developmental psychologist, serta earlier expert di bidang Psikologi Perkembanganyang mengirimkan paper dan akan mempresentasikannya.
Awal mula mereka mendapatkan kesempatan emas itu dengan mengikuti penelitian yang dilakukan oleh Mrs. Diane (dosen dari College of the Holy Cross, Amerika Serikat) yang sempat mengajar di fakultas Psikologi USD tahun lalu. “Awalnya ada pengumuman, siapa yang mau jadi asisten penelitiannya Mrs. Diane. Saya mendaftar dan akhirnya diterima masuk kelompok asisten penelitian. Setelah Mrs. Diane mau pulang, dia berkata bahwa akan melanjutkan penelitian. Ketika itu, saya kemudian memasukkan abstrak ke sebuah komunitas ilmiah yang bernama Society for Research in Children Development (SRCD) dan akhirnya diterima, pengumumannya Januari 2013.” tutur Dicky. Penelitian mereka berawal dari hipotesa Mrs. Diane, tentang kecurigaan saat seorang anak diberi dua jenis permainan yaitu mengenali pola dan permainan mirip anak tangga. Dari penelitian sebelumnya berjudul “Mathematic Skill In Preschooler” kedua jenis game ini meningkatkan kemampuan matematika tertentu. Penyampaian permainan itu melalui media ipad dan kertas serta membuat manipulasi berdasar kertas. Anak diberi intervensi selama 5 kali dan kemudian dilakukan pre-test and post-test. Berdasarkan hasil analisis regresi, ketika diberi permainan pattern ternyata anak lebih punya kemampuan penjumlahan dan hasil penelitian itu yang dipresentasikan oleh mereka.
Setelah mengetahui bahwa abstrak mereka diterima, beberapa persiapan yang sangat kompleks dimulai mengurus tiket, mengurus visa, dan membuat proposal untuk pengajuan dana. Tanggal 23 Februari 2013 lalu, 2 bulan sebelum keberangkatan ke Amerika, Dicky dan Puji sempat mengadakan acara penggalangan dana “Study Abroad” yang berupa talkshow dan sharing mengenai beasiswa ke luar negeri serta kesempatan student exchange.
Ada pengalaman unik tersendiri bagi mereka saat mengikuti konferensi. Persiapan untuk konferensi sangat canggih dan lebih melek teknologi. Contohnya saja sebulan sebelum hari H, komunitas SRCD membuat aplikasi tersendiri yang bisa dipakai di android ataupun komputer. Hal ini dapat memudahkan peserta konferensi SRCD untuk searching dan membuat rangkaian jadwal acara sendiri. Jangkauan peserta yang mengikuti konferensi tergolong worldwide dan jumlahnya sangat banyak. Dicky dan Puji sempat dikenalkan oleh Mrs. Diane kepada teman-temannya dari Korea, Jepang, Malaysia, dan masih banyak lagi. Yang membuat tercengang adalah mereka hanya satu-satunya wakil dari Indonesia yang mengikuti konferensi tersebut dan melakukan penelitian di dalam konteks Indonesia. Di satu sisi mereka bisa bangga tetapi di sisi lain miris karena minat peneliti dari Indonesia untuk mengikuti konferensi di bidang Psikologi Perkembangan itu masih kurang. “Orang-orang dari Cina, Jepang, Hongkong itu banyak yang mengirim abstrak. Kebanyakan sih dari negara Cina yang mengirim presentasi, tapi kenapa dari Indonesia tidak ada yang maju? Padahal Indonesia dengan Cina itu ilmu Psikologinya sama-sama sedang berkembang” kata Puji. Mereka tidak mempresentasikan penelitiannya di kelas oral presentation, di mana peneliti mempresentasikan hasil penelitian dengan model ceramah dan ada sesi tanya jawab antara peserta dan pembicara. Mereka berada di ruangan sangat besar, yang terdapat banyak sekali papan untuk menempelkan poster berisi gambaran singkat penelitian, salah satunya milik Dicky dan Puji. Peserta konferensi mendapatkan kesempatan waktu untuk melihat poster-poster yang dipajang di papan. “Kalau ada orang yang baca poster kita, ditawarin saja mau dijelaskan secara singkat oleh kami atau hanya baca saja, sistemnya kayak gitu” tutur Puji menjelaskan model presentasi poster mereka.
Dicky pun memiliki refleksi tersendiri perihal kegiatan ini,”Ketika melakukan sesuatu jangan lihat hasil akhir, tetapi lakukanlah dengan senang hati karena kita berbasis pelayanan. Sesuatu yang dilakukan berbasis pelayanan akan sangat berbeda ketika orientasinya hadiah di awal. Ketika kita ikut penelitian karena tujuan utamanya untuk bisa lanjut graduate school menurutku itu motivasi yang sia-sia. Tetapi ketika awal penelitian kita suka hal tersebut dan melakukan dengan sepenuh hati karena kita melayani seseorang, maka menurutku hasilnya akan lebih manis. Daripada punya target dan hanya memuaskan diri sendiri. Panggilan sebagai seorang manusia adalah ketika bisa melayani orang lain”. Berbeda dengan Puji,”Do it passionetly. Tidak harus anak-anak kemudian jadi fokus ke penelitian, tetapi lebih ke saat mengerjakan sesuatu itu disukai dan dinikmati. Sesuatu yang besar bermula dari kecil, seperti slogan Agnes Monica “Dream, believe make it happen”. (lsw)




