USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Antologi Puisi Penyair Tiga Kota

diupdate: 14 tahun yang lalu

"Aku tak hendak memajang namaku di organisasi besar, di mana dansa dan pestapora menjadi sajian besar setelah obral janji dan perebutan nama baik dilakukan." Kalimat tegas dan berani terucap secara lantang dari mulut seorang pria, ya beliau adalah Kelana, seorang sastrawan dari Kendal yang juga ambil bagian dalam acara “Penyair Tiga Kota” yang diadakan di Rumah Budaya Tembi, 26 April 2013. Sepenggal kalimat di awal artikel ini merupakan sebagian kecil dari karya beliau yang diberi judul "Sogokan Kepada Tuhan".

Mungkin muncul pertanyaan, sebenarnya apa hubungan dari acara “Penyair Tiga Kota” yang diadakan di Rumah Budaya Tembi dengan USD? Ternyata dalam acara peluncuran karya sastra dari beberapa sastrawan dan sastrawati tersebut hadir pula salah seorang akademisi dari USD yaitu Ouda Teda Ena. Tentunya nama Ouda Teda Ena sudah tidak asing lagi bagi para mahasiswa,staf, dan dosen dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris USD karena Ouda Teda Ena adalah salah satu dosen yang membagikan ilmunya di program studi tersebut. Karya sastra Ouda Teda Ena merupakan salah satu dari empat karya lainnya yang juga dipublikasikan dalam acara tersebut. Karya Ouda Teda Ena diberi judul “Perempuan Dalam Almari” dan Ouda Teda Ena mewakili sastrawan dari kota Jogja.

Puisi Ouda Teda Ena menjadi karya sastra pertama yang menemani pembukaan acara pada malam itu. Pada kesempatan tersebut Ouda Teda Ena tampil ditemani oleh seorang violis cilik bernama Rio. Rangkaian kata puitis yang indah dilantunkan diiringi oleh gesekan biola menjadi momen yang menawan pada malam itu, "Legenda Batu Belah" menjadi salah satu puisi dari Ouda Teda Ena yang muncul malam itu.

Bahasa adalah harta dunia, mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan malam itu, sebab ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang hadir pada acara malam itu, namun ada juga beberapa orang Australia yang juga ambil bagian dalam acara tersebut. Dua dari mereka juga turut ambil bagian dengan membacakan puisi dari Ouda dengan judul "Angsa Hitam" dan "Aku Dan Anjing".

Karya Ouda lebih menyoroti tentang pendidikan dan tentu saja itu sesuai dengan bidang yang digelutinya. Tentunya ini membuka wacana baru bagi kita semua bahwa pendidikan tidaklah semata-mata hanya duduk di dalam kelas dan menyamakan persepsi antara pembelajar dan si pengajar. Ouda Teda Ena adalah bukti nyata bahwa pendidikan dan sastra adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tentunya ini info yang menarik bagi rekan-rekan yang tertarik dengan jurusan pendidikan karena pendidikan dapat dialami di luar dan di dalam kelas seperti yang ada di Universitas Sanata Dharma.

Malam bertambah larut, Riries yang berasal dari Jakarta masuk ke arena pertunjukkan dan membawakan puisinya yang penuh dengan romantika cinta. "Mencintaimu Adalah Takdirku" menjadi judul dari kumpulan puisi yang dipamerkan dalam acara tersebut. Kelompok musik Sarkem mengaransemen lagu dan memainkan salah satu puisi karya Riries pada malam itu dengan syahdu. "Tersembunyi Dalam Ingatan" menjadi lagu yang dilantunkan dari puisi Riris.

Iman Budhi Santosa dengan "Ziarah Tanah Jawa"-nya menjadi akhir yang sangat sempurna untuk menutup perjumpaan itu. Sepenggal kalimat Iman Budhi Santosa yang mungkin tidak akan dilupakan adalah "Saya tidak kaya, sukses, dan hidup mewah. Hanya satu hal yang bisa saya banggakan, menjadi orang cerdas." Iringan tepuk tangan akhirnya menutup perjumpaan kami di rumah tembi malam itu. (dayc)

  kembali