Drs. G. Sukadi (Jalu Suwangsa), selama ini identik dengan jangkrik dan katak dalam setiap karya-karyanya. Kini di lepas usia 8 windu, dia kembali meluncurkan buku ke tujuh (Sorga itu Ada), dan ke delapan (Pantun Senja). Kedua buku tersebut diluncurkan, Sabtu, 19 Juni 2010 pukul 09.00 WIB s.d. 12.00 WIB, bertempat di Ruang Sidang LPPM Universitas Sanata Dharma. Di samping meluncurkan buku, acara yang digelar juga sekaligus untuk mensyukuri lepas usia 8 windu bapak G. Sukadi.
Kali ini, penulis mengasosiasikan diri sebagai burung tekukur dalam usia senjanya. Semangatnya adalah, ”Kecik-kecik ning udhu”. Meskipun kecil atau sedikit, karena hanya itu yang dimiliki, tetapi tetap diberikannya sebagai kontribusi untuk pengembangan kebudayaan dan kemanusiaan. Hasil karya yang pernah dia tulis di antaranya: Jangkrik Jlitheng: Ora Kaya-kaya Jebul Dudu Apa-apa (2005), Aja Dumeh : Spiritualitas Titah (2006), Katak pun Tertawa (2007) , Katak pun Memilih Presiden (2008), Katak pun Ikut Berpantun: Menyusuri Sungai Sepauk Kalimantan Barat (2009), Sorga itu Ada (2009), dan Pantun Senja (2010).
Peluncuran yang dihadiri oleh beberapa tamu undangan dan mahasiswa itu berlangsung semarak dan meriah dengan tanggapan-tanggapan yang diselingi banyolan-banyolan lucu baik dari penulis, pembicara, maupun peserta. Ketiga pembicara yang mengisi acara yakni Dr. Novita Dewi, Drs. P. Ari Subagyo, M. Hum, Drs. J. Prapta Diharja, M. Hum, Jalu Suwangsa (G. Sukadi), dan Monica Oybur yang memaparkan pengalaman hidup yang ia tuangkan dalam buku ’Surga Itu Ada’.
Menurut Dr. Novita Dewi, penulis mengangkat tema-tema ‘belajar’, ‘menjadi tua’, ‘masa pensiun’, dan ‘menjelang ajal’. Topik-topik tersebut sengaja disuguhkan bagi kaum lanjut usia. Menurutnya pula, jika kita percaya bahwa sastra bisa dijadikan alat penimbang berbagai persoalan legit maupun getirnya kemanusiaan, masalah usia lanjut perlu terus-menerus direfleksikan. Dibutuhkan lebih banyak lagi imajinasi orang-orang tua dalam karya sastra yang menumbuhkan semangat dan harapan. Buku ‘Pantun Senja: Jejak Terbang Burung Tekukur’ ini bisa menjadi buku ajar bagi pembaca lintas umur, karena kemungkinan besar di antara kita banyak yang tidak secara khusus belajar menjadi tua.
Dalam memandang usia senja, Drs. P. Ari Subagyo, M. Hum, memaparkan isi buku Pantun Senja ini.
Lewat pantun-pantunnya, ada tujuh cara memandang usia senja secara utuh yakni Burung Tekukur, Keniscayaan, Pencarian, Pertobatan, Manusia Roh, Di Langit Senja, dan Yang Tak Ternilai. Pembagian tersebut bukan hanya sekadar untuk membangun topik dan fokus. Namun, satu bagian dengan bagian lain sesungguhnya intim berkaitan, sebagaimana
usia senja merupakan sebuah keutuhan dengan segala pergulatannya dalam iri seseorang.
‘Pantun Senja’ merupakan sharing dan pengalaman penulis yang ingin disampaikan penulis dalam bentuk pantun seperti karya-karya Jalu Suwangsa yang sebelumnya. Begitulah ulasan mengenai buku ini yang disampaikan oleh Drs. J.Prapta Diharja, SJ., M.Hum sebagai pembicara ketiga.
Tarian panen padi yang dibawakan oleh dua orang mahasiswa PBSID, Priska dan Lukita mengawali acara tersebut. Setelah sebelumnya, koordinator acara, Nungki Prabawati menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, panitia mengucapkan terima kasih kepada Prodi PBSID, LPPM USD, Humas USD, dan pihak sponsor yakni Amara Books, Resist Books, Kanisius, serta pihak-pihak terkait yang membantu terselenggaran
ya kegiatan itu. Menyusul kemudian, sambutan dari Kaprodi PBSID, Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd. Dalam sambutannya, Kaprodi PBSID mengucapkan selamat dan sukses atas peluncuran buku ”Pantun Senja” dan ”Surga itu Ada”.
Sebelum mengawali proses tanya jawab, panitia membacakan dan menyanyikan beberapa pantun yang ada dalam buku “Pantun Senja: Jejak Terbang Burung Tekukur” untuk mengurangi kejenuhan peserta. Kepiawaian Norma, Arni, dan Ninik dalam menyanyikan dan membacakan pantun seakan-akan membius peserta. (Nungki)




